Mengenal Medan Dakwah Bagian 1
Mengenal Medan Dakwah Bagian 2
Mengenal Medan Dakwah Bagian 1
Mengenal Medan Dakwah Bagian 2
Ditulis dalam Uncategorized | 1 Komentar »
Oleh Asep Setiawan
Pendahuluan
Ibadah Puasa memiliki dimensi lahir dan batin. Ibadah yang dilaksanakan bulan Ramadhan ini tidak hanya menahan lapar, haus dan berhubungan suami-istri pada siang hari, namun juga menyangkut perbuatan-perbuatan bathin. Seseorang yang berpuasa, harus menghindari diri dari perbuatan-perbuatan yang mengurangi nilai puasa seperti bergunjing, mencela dan berpikiran tidak sehat.
Al Qur’an sendiri menggariskan bahwa tujuan akhir dari proses puasa itu menjadikan manusia bertaqwa. Taqwa secara singkat terkait erat dengan kesungguhan diri dalam mendekati Allah SWT. Semakin ia bertaqwa semakin terasa kehadiranNya sehingga makin pula khusyu menjalankan semua tuntutan yang diberikan Yang Maha Kuasa.
Makalah ini akan berusaha menghubungkan makna puasa dalam arti luas dengan moralitas politik. Apakah puasa mampu melahirkan masyarakat dan praktisi-praktisi politik yang bermoral ? Jika ya, bagaimana proses itu bisa lahir ?
Sebelum menjajagi hubungan puasa dengan moralitas politik ini, penulis akan meninjau secara sekilas, nilai-nilai yang terkandung dalam puasa yang mampu mempengaruhi kehidupan umat Islam, termasuk kehidupan politik umat.
Pensucian diri
Banyak pakar Islam berpendapat, proses puasa adalah kancah pelatihan pensucian diri. Selama sebulan, umat Islam digembleng dengan sebuah pelatihan yang cukup berat. Oleh karena beratnya itulah maka mereka yang sakit, wanita hamil atau anak-anak dan sejumlah orang yang menempuh perjalanan jauh dibebaskan dari kewajiban bulan Ramadhan.
Selama proses pensucian diri ini, umat dihadapkan kepada berbagai kegiatan mulai dari tadarus, sholat taraweh, pengajian dan diakhiri dengan zakat fitrah yang tujuannya untuk membersihkan jiwa. Dengan kata lain, pelatihan sebulan ini dimaksudkan sebagai cara yang ampuh dalam proses pensucian menghadapi 11 bulan berikutnya.
Bahkan di bulan Ramadhan ini pula, Al Quran secara gamblang memberitakan adanya sebuah malam penuh dengan berkah yakni malam Laitalut Qadar. Menemukan malam yang mulia ini adalah tantangan bagi mereka yang pada akhir Ramadhan telah membersihkan seluruh jiwanya dari sikap kikir, bakhil, sombong, zalim, takabur dan kotoran-kotoran jiwa lainnya yang disebut Imam Al Ghazali akan mengotori kebeningan hati.
Semangat berpuasa juga melahirkan umat yang sangat peka terhadap lingkungan sekelilingnya. Umat diajak memperhatian golongan masyarakat yang tidak mampu. Umat bahkan dirangsang dengan berbagai pujian agar memberikan sedekah adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan Ramadhan.
Namun tujuan dari puasa itu sendiri seperti diungkapkan dalam Surat Al Baqarah 183 adalah untuk menjadikan manusia bertaqwa. Amien Rais (1998) menyodorkan Surat Ali Imran ayat 134 untuk melihat definisi Taqwa. Pertama, orang yang menunaikan infak, yakni mengeluarkan sebagian rezeki yang dikaruniakan Allah.
Kedua, meredam amarah. Dan ketiga, mudah memaafkan segala manusia. Tanda oran bertaqwa juga dapat dilihat dari ayat 135 yang bila dipahami artinya, orang bertaqwa itu bisa terperosok tetapi cepat bangkit kembali dan memohon ampun kepada Allah SWT. Dalam pengertian selanjutnya, taqwa juga memiliki dua sisi yakni sisi suruhan dan larangan.
Dalam riwayat-riwayat yang dikumpulkan Javad Nurbakhsh, terlibat bagaimana puasa dijalankan para sufi sehingga menghasilkan suatu kualitas yang disebut sebagai faqr. Faqr adalah karakteristik utama seseorang yang memiliki sifat-sifat Muhammad: Dihiasi dengan keindahan-keindahan sifat yang tulus, kedermawanan dan kerendahan hati atau kejujuran, keagungan dan kesederhanaan. Rasulullah pun tersentuh dengan harumnya hati yang baik dan kegembiraan yang meluap-luap.
Sementara itu Syed Anwar Ali (1997), melukiskan sejumlah tujuan ibadah Puasa disamping untuk mencapai derajat taqwa. Menurut Ali, ibadah puasa membuat orang menyadari kesulitan yang diderita orang lain dalam hidup yang kekurangan. Ibadah puasa juga memberikan keseragaman yang unik dan tunggal di kalangan orang-orang yang beriman di seluruh dunia dalam hal waktu. Selain itu puasa merupakan ujian nyata akan ketulusan pengabdian dan kepatuhan terhadap Allah.
Ali juga menilai, puasa menguatkan hati melawan perbuatan yang tak benar. Ketika orang dapat menghindar dari semua yang sebenarnya halal dan diperbolehkan, maka tak ada keraguan lagi bahwa dia dapat menghindarkan diri dari perbuatan yang salah dan dilarang Allah. Bahkan disebutkan pula ibadah puasa mempersiapkan orang untuk perjuangan yang lebih berat di jalan Allah (jihad al-akbar)
Politik adiluhung
Dalam literatur dan pengalaman umat Islam, khususnya pada zaman Nabi Muhammad dan Khulafaur Rasyidin, terlihat bahwa umat Islam tidak memisahkan ibadah dengan kegiatan mengelola pemerintahan.
Lihat misalnya pandangan pakar Islam dari Barat, John L Espito yang menyebutkan, Al Quran tidak memisahkan antara kehidupan politik dan ibadah. Politik adalah bagian dari kehidupan masyarakat seperti halnya kegiatan ekonomi dan budaya. Oleh sebab itu Islam tidak membeda-bedakan antara praktek politik dari nilai-nilai Islam.
Kemudian Sayyid Abl A’la Mawdudi (1982) malah lebih gamblang mengatakan, puasa itu tak lain adalah ibadah yang memberikan kesadaran bahwa hidup itu adalah pengabdian total. Puasa juga merupakan pelatihan bersama yang mengikat seorang Muslim kedalam masyarakat. Dengan demikian, puasa itu menjadi sebuah kekuatan moral karena dilakukan secara kolektif, melibatkan ribuan, jutaan bahkan sampai satu milyar kaum Muslimin.
Dalam istilah populer sekarang apa-apa yang terkait dengan kegiatan kenegaraan baik dalam bidang legislatif, eksekutif dan yudikatif, disebut sebagai tindakan politik.
Bahkan karena alam politik Indonesia selama 32 tahun ini dinaungi awan yang gelap, maka banyak pemaknaan politik itu mencapai titik terendah bahkan terkesan bahwa apapun yang berbau politik bahka dalam bidang keilmuan pun menjadi tidak berharga.
Berbicara politik, bukanlah berbicara soal ibadah seperti yang dilakukan Rasulullah dalam memimpin umat Islam di Madinah atau Khalifah Abu Bakar, Umar bin Khattab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Di Indonesia dalam kamus kebanyakan masyarakat, politik itu kotor, jahat, penuh tipuan dan kehidupan yang jauh dari praktek kemuliaan Islam.
Distorsi inilah yang kemudian melahirkan sikap dan perilaku politik yang berbeda dengan ideal-ideal yang pernah dipraktekkan Rasulullah. Pada akhirnya sistem politik di Indonesia pun mengalami kemerosotan nilai-nilai bahkan termasuk dikalangan praktisi politisi Islam. Berpolitik bisa berarti mengundang permusuhan dan bisa juga menjatuhkan pihak lain.
Kuntowijoyo malah pernah membagi tiga pola bentuk praktek umat Islam dalam kancah kehidupan politik. Pertama, Islam ibadah yang menekankan pentingnya ibadah khusus terlepas dari kehidupan politikk. Misalnya perlunya membangun banyak mesjid dan pengajian. Kedua, Islam politik yang menyorot perlunya umat menguasai berbagai cabang kekuasaan sehingga muncul ide-ide seperti negara Islam atau negara Islami.
Ketiga, Islam akidah yang bercirikan dengan pandangan bahwa yang perlu itu bagaimana mewarnai kehidupan politik dengan nilai-nilai Islam tanpa mempersoalkan bentuk ideologi. Kuntowijoyo menilai, karena alergi umat Islam terhadap politik sebagai akibat perdebatan dan benturan fisik dalam menciptakan apa yang disebut negara Islam maka Islam politik masih tabu saat ini, yang diperlukan adalah bagaimana menciptakan masyarakat Indonesia yang rasional dan demokratis sehingga bisa melahirkan kehidupan politik yang tidak emosional dan terbuka.
Oleh karena itu berbagai jalan ditempuh agar, nilai-nilai moral Islam apalagi nilai-nilai moral puasa Ramadhan ini bisa memunculkan makna yang dalam dalam kehidupan politik Nasional. Rumusan tentang
M Natsir seperti disitir Amien Rais pernah mengulas tentang perlunya sebuah praktek politik adiluhung atau politik yang sangat luhur. Rekaman pemikiran Natsir ini pernah diulas Lance Castles dan Herbert Feith dalam Indonesian Political Thinking: 1945-1965.
Menurut Amien, Natsir memperjuangkan cita-cita antara lain membebaskan manusia dari segala bentuk superstisi, memerdekakannya dari segala takut kecuali kepada Allah Sang Maha Pencipta serta memegang perintah-perintahNya agar kebebasan ruhani manusia dapat dimenangkan. Natsir juga mengancurkan segala tirani harus dilenyapkan, chauvinisme yang merupakan agar intoleransi dan permusuhan diantara manusia wajib diperangi dan Natsir yakin bahwa Islam mengajarkan cita-cita politik yang sangat luhur.
Dalam bahasa populer Amien (1995), praktek ini disebutnya high politics (politik adiluhung atau politik bermoral). Ia menjelaskan makna politik adiluhung ini sebagai politik yang berdimensi moral serta etis. Sedangkan low politics adalah politik yang terlalu praktis dan seringkali cenderung nista.
Menurut Amien, bila sebuah organisasi menunjukkan sikap tegas terhadap korupsi, mengajak masyarakat luat memerangi ketidakadilan, mengimbau pemerintah untuk terus menggelindingkan proses demokrasi dan keterbukaan, maka organisasi tersebut pada hakikatnya sedang memainkan high politics.
Sebaliknya, tulis Amien, bila sebuah organisasi melakukan gerakan manuver politik untuk memperebutkan kursi DPR, minta bagian di lembaga eksekutif, membuat kelompok penekan, membangun lobi, serta berkasak-kusuk untuk mempertahankan atau memperluas vested interests, maka organisasi tersebut sedang melakukan low politics.
Upaya M Natsir dan Amien serta praktisi lainnya untuk memperkenalkan nilai-nilai moral dalam kehidupan politik ikut mempersegar gerakan reformasi yang diharapkan tidak jadi anarki.
Dalam kaitan nilai, puasa dan moralitas politik terlihat bahwa proses pelatihan selama bulan Ramadhan yang diharapkan melahirkan manusia bertaqwa itu juga mampu memunculkan apa yang disebut Amien sebagai politik adiluhung. Tentu saja hasil akhir politik sebagai ibadah yang mulia ini memerlukan internalisasi sehingga sebagai sebuah nilai dalam kehidupan, maka aktivitas politik juga bernilai ibadah tinggi seperti halnya ibadah lainnya.
Penutup
Nilai-nilai yang terkandung dalam puasa, sebagai bagian dari ibadah dalam kerang Islam yang menyeluruh sangat terkait dengan kehidupan pribadi dan sosial umat Islam. Semua pelatihan yang dilakukan selama bulan Ramadhan diarahkan agar umat Islam mensucikan diri sehingga mencapai derajat taqwa.
Dalam praktek, tentu saja manusia bertaqwa ini diharapkan juga mampu mewarnai dan menjadi figur-figur dominan dalam melahirkan kehidupan politik yang adiluhung. Kehidupan politik yang menggelorakan semangat moral Islam inilah yang diharapkan mampu mencerahkan bangsa Indonesia dalam memasuki milenium baru.
Daftar Pustaka
Bakhtiar, Laleh (ed), Meraih Kemuliaan Ramadhan . Bandung: Mizan, 1997.
Espito, John L., Islam and Politics. New York: Syracuse University Press, 1991.
Kelompok Studi Lingkaran (ed), Intelektualisme Muhammadiyah Menyongsong Era Baru. Bandung: Mizan, 1995.
Mawdudi, Sayiid Abul A’la, Let Us be Muslims. Leicester: The Islamic Foundation, 1982.
Rais, M. Amien, Tauhid Sosial: Formula Menggempur Kesenjangan. Bandung: Mizan, 1998.
Shihab, Alwi Dr., Islam Inklusif: Menuju Sikap Terbuka dalam Beragama. Bandung: Mizan, 1998.
Secularization an Extension of the Idea of Primacy of Reason, Interview Mochtar Buchori with Prof Bassam Tibi Jakarta Post, 22 December 1998.
Woodward, Mark. R., Jalan Baru Islam: Memetakan Paradigma Mutakhir Islam di Indonesia. Bandung: Mizan, 1998
Ditulis dalam Arsip | Bertanda Puasa | Leave a Comment »
Oleh Asep Setiawan
I. Pendahuluan
Istilah manajemen sering dikaitkan dengan pencapaian tujuan melalui dan bersama orang lain. Jadi sudah dapat dibayangkan bahwa sebuah manajemen akan melibatkan banyak manusia, banyak orang, banyak karakter dan banyak keahlian. Seni manajemen terletak pada pengendalian seluruh etos (karakter) dan logos (ilmu) itu kedalam sebuah kekuatan baru. Istilah modernny sinergi.
Dalam literatur manajemen mutakhir, aset terpenting dari sebuah organisasi adalah manusia. Charles Handy (1997) – seorang pakar bisnis – bahkan lebih fokus lagi bahwa “saat ini sudah waktunya sadar bahwa fakta itu benar karena satu-satunya harapan mereka bagi keamanan masa depan terletak pada otak manusia”.
Lebih lengkap lagi dari pandangan Handy ini adalah bahwa sebuah lembaga kekuatannya bertumpu pada kecerdasan anggotanya serta keteguhan aqidah serta kemuliaan akhlaknya. Jadi disini terkandung sebuah prinsip bahwa manusia sebagai aset manajemen harus diperhitungkan dan dikembangkan otak dan ruhaninya.
Untuk mengembangkan keduanya diperlukan ilmu. Seperti Rasulullah untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat diperlukan ilmu. Atau seperti Deputi PM Malaysia Anwar Ibrahim (1997) nyatakan bahwa kebanggaan seorang Muslim itu terletak pada kesadaraannya bahwa ia cinta kepada ilmu.
Jika manajemen sudah meletakan dasar pada pentingnya kedudukan insan dalam pencapaian tujuan sebuah lembaga atau organisasi, lalu apa fungsi dan tujuan mesjid itu sendiri. Al Qur’an sudah menggariskan bahwa mesjid diperuntukkan bagi orang-orang bertaqwa. Itu berarti menegakkan ketaqwaan merupakan asas fundamental dari kehadiran mesjid di tengah masyarakat.
Dalam praktek, Rasulullah menempatkan mesjid tidak hanya sebagai tempat sholat lima waktu, tapi lebih dari itu mesjid dijadikan sebuah pusat peradaban. Artinya, mesjid dijadikan pusat pertahanan, pemerintahan, pendidikan, sosial, budaya dan bahkan seni. Dengan kata lain Nabi Muhammad SAW mencontohkan bahwa sebuah mesjid merupakan sumber pendorong kemajuan masyarakat di sekitarnya.
II. Manusia dan Tujuannya
Persoalan berikutnya adalah untuk mengidentifikasikan apa tujuan manusia dalam beraktivitas di dalam mesjid. Ambil contoh Surat Al Baqarah ayat 30 yang menjelaskan bahwa manusia diciptakan supaya menjadi khalifah di muka bumi.
Apa yang disebut khalifah itu ? Beberapa pakar Islam mengartikan khalifah itu wakil Allah di muka bumi. Ada pula yang memberi makna bahwa umat Islam ini hendaknya menjadi penguasa di muka bumi untuk memakmurkan dan melaksanakan perintah-perintah-Nya.
Kita bisa membayangkan bahwa untuk menguasai bumi yang amat luas itu diperlukan perangkat lunak (misalnya ilmu) dan perangkat keras (misalnya dana) yang tidak sedikit. Bahkan diantara perangkat itu mungkin mahal harganya.
Dengan memfokuskan diri pada misi manusia di muka bumi ini, maka perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi kegiatan mesjid itu menjadi hidup, bermakna dan berisi semangat untuk menjadikan seluruh unsur dari masyarakat menjadi bagian dari khalifah Allah.
Jadi ketika para manajer mesjid ini merancang dan mempersiapkan pengumpulan serta distribusi zakat, para pelakunya merasakan semangat untuk mewujudkan Nur Islam. Para aktivis ini – karena tanggung jawabnya untuk mewujudkan kebesaran Ilahi – maka semua aktivitas manajemen dilakukan secara profesional, tidak asal-asalan.
Dalam istilah Al Qur’an ungkapan profesional ini mungkin dapat dipadankan dengan kalimah ihsan. Apakah ihsan itu itu ? Ungkapan ihsan ini merupakan salah satu pilar disamping kata Islam dan Iman. Tiga konsep ini berkaitan satu sama lain.
Dalam pengertian sederhana, ihsan berarti kita beribadah kepada Allah seolah-olah Ia melihat kita. Jikalau memang tidak bisa kita lihat, tetapi pada kenyataannya Allah menyaksikan setiap perbuatan dan desir kalbu kita.
Ihsan juga berarti perbuatan baik dalam pengertian sebaik mungkin atau secara optimal. Hal itu tercermin dalam Hadis Riwayat Muslim yang menuturkan sabda Rasulullah :
“Sesungguhnya Allah mewajibakan ihsan atas segala sesuatu. Karena itu jika kamu membunuh, maka berihsan-lah dalam membunuh itu; dan jika kamu menyembelih, maka berihsanlah dalam menyembelih itu dan hendaknya seseorang menajamkan pisaunya dan menenangkan binatang sembelihannya itu”.
Menurut Nurcholis Madjid, dapat disimpulkan dari konteks hadis itu dimana ihsan berarti optimalisasi hasil kerja, dengan jalan melakukan pekerjaan itu sebaik mungkin, bahkan sesempurna mungkin. “Penajaman pisau untuk menyembelih” jika diterapkan pada pekerjaan lain mengisyaratkan kepada efisiensi dan daya guna yang setinggi-tingginya.
Allah juga mewajibkan ihsan atas segala sesuatu seperti tercantum dalam Al Qur’an (32:7). “Yang membuat ihsan, sebaik-baiknya segala sesuatu yang diciptakan-Nya”
Selanjutnya Allah juga menyatakan telah melakukan ihsan kepada manusia agar manusia pun melakukan ihsan.
“Dan usahakanlah dalam karunia yang telah diberikan Allah kepadamu itu (kebahagiaan) Negeri Akhirat namun janganlah engkau pupa akan nasibmu di dunia, serta lakukanlah ihsan sebagaimana Allah telah melakukan ihsan kepadamu dan janganlah kamu membuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang berbuat kerusakan” (28:77)
Pekerjaan yang dilakukan secara ijhsan, secara optimal memang dikehendaki Allah Swt. Dalam prakteknya di bidang apapun apakah itu pelajar, mahasiswa, karyawan, wirausahawan atau mubaligh akan dihargai karyanya bila tampil dengan mutu tinggi. Karena manusia memang berkecenderungan mencapai kesempuranaan, maka tentu saja dalam pekerjaan pun kita harus senantiasa memperhatikan kesempurnaan.
III. Kesimpulan
Dengan demikian secara singkat bisa dikatakan bahwa manajemen mesjid itu diarahkan untuk mengaktualisasikan amanah manusia di muka bumi melalui serangkaian kegiatan yang terpancar dari mesjid. Manajemen berusaha menghidupkan mesjid baik dari segi keindahan arsitekturnya atau bentuk amaliahnya yang memancarkan kemuliaan dan kesucian Islam.
Daftar Pustaka
Al Qur’an dan terjemahnya
Madjid, Nurcholis, Islam Doktrin dan Peradaban. Jakarta,
Yayasan Wakaf Paramadina, 1992.
Gibson, Rowan (ed), Rethinking the Future. London,
Nicholas Brealey Publishing, 1997.
Ibrahim, Anwar, Asian Renaissance, Kuala Lumpur,
Times Book, 1997.
Ditulis dalam Arsip | Bertanda Islam, mesjid | Leave a Comment »
Syukur adalah ibadah yang sering ditinggalakan umat manusia banyak manusai gelisah hidup dalam ketakutan, hidup yang dibayangi dengan hal–hal yang tak mampu menikmati yang telah diberikan kepadanya, itu semua karena tidak kenal arti syukur pada Allah, rosul dalam hadis beliau yang pernah bersabda Orang yang paling syukur yang memiliki kona’ah orang yang menerima pemberian Allah, orang yang miskin selamanya adalah yang tak pernah mensyukuri nikmat Allah.
Menurut Alquran datangnya

balak (bencana) adalah kerena kurang bersyukurnya kepada semua nikmat Allah, padahal kalau kita bersyukur pasti ditambah nikmat itu apapun bentukanya bisa berbentuk dhohir berupa ditambahnya hartanya dan yang lain adalah diberinya ketentraman jiwa, anak-anak yang sholeh dll belum lagi tambahan kelak di hari kiamat, ada kenikmatan yang lain dari semua yang diberikan Allah untuk hambanya adalah ketentraman jiwa sedangkan harta itu adalah yang paling rendah nilainya, karena Allah ingin menyiksa mereka dengan harta-hartanya, maksiat kita tidak akan mengurangi keagungan kerajaan Allah maka dari itu mereka sebenarnya memaksiati diri sendiri dan bila kita berbuat kebaikan tidak akan menambah megahnya kerajaan Allah itu artinya kita berbuat baik untuk diri sendiri.
Dalam QS Luqman (31): 12 dinyatakan:
Dan sesungguhnya Kami telah menganugerahkan kepada Luqman hikmah, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barang siapa yang bersyukur (kepada Allah), maka
sesungguhnya ia bersyukur untuk (manfaat) dirinya sendiri.”
“Dan barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri, dan barangsiapa yang kufur (tidak bersyukur), maka sesungguhnya Tuhanku Maha kaya (tidak membutuhka sesuatu) lagi Mahamulia” (QS An-Naml [27]: 40)
Setiap kita mengkufuri nikmat Allah disitu juga terdapat siksaan Allah dan banyak bermacam siksaan lain, malam kaya tapi besok pagi sudah lenyap itu pun bisa terjadi dan sangatlah mudah bagi allah untuk merubah semua itu, ada bentuk siksaan Allah yang kita tak merasa tersentuh dan airmata kita membeku untuk menangisi dosa-dosa kita, kita lupa dengan hari kiamat ini juga adalah salah satu bentuk siksaan Allah juga, tapi ketika orang yang mensyukuri nikmat Allah ia tidak akan pernah mendapat siksaan Allah karena ia meyakini ini adalah yang terbaik untuknya. Kenapa Allah harus menurunkan balak kalau kita mensyukuri nikmat-Nya. Bersyukurlah kepada Allah maka Allah akan memberi sesuatu kepada kita? Kalau kita menghitung nikmat Allah maka kita tak akan pernah mampu dan tidak disebut sebagai orang yang menyembah Allah bila kita tidak bersyukur atas nikmat yang telah Allah beri, sebenarnya syukur itu adalah bimbingan Allah juga
Syukur itu tahapan;
1 Yakin
Hendaklah meyakini bahwa setiap yang diberi Allah itu adalah yang terbaik syukur yang sebenarnya adalah ketika syukur dari hati dan meyakini semua ini tak akan pernah terjadi tanpa ketentuan dari Allah.
2 Ungkapan dengan lidah “Alkhamdulillahi robbil ‘aalamin” meninggalkan yang telah Dilarang Allah kemudian yang terakhir mengungkapkan kalimat “hamdalah”
3 Praktek
Selain dengan ungkapan saja inilah harus dengan amalan, jangan harta yang telah dikirimkan tadi untuk berbuat maksiat kepada Allah karena orang yang mensyukuri nimat Allah itu sebenarnya bersyukur untuk dirinya sendiri,
@ Orang kikir berarti kikir untuk dirinya begitu juga dengan orang yang berbuat baik itu adalah untuk dirinya sendiri.
@ Orang yang syukur artinya ia juga telah bersiap untuk menerima pemberiaan Allah yang lain
@ orang yang bersyukur ia berarti telah mmbentengi dirinya dari siksaan Allah
@ orang yang selalu syukur ia selamanya selalu tentam karena ia meyakini bahwa apabila ia tidak dikasih dari apa yang telah ia minta kepada Allah berarti mungkin ada sesuatu yang bahaya untuk kita, jadi berprasangka yang baik itu kepada Allah dalam keadaan bagaimanapun. Tapi kita punya musuh yang tidak pernah mau melihat kita ini pasrah terhadap ketentuan Allah dan musuh itu adalah Setan, jadi kita ini main tarik-tarikkan dengan setan mereka menggangu dari depan maksudnya kita ini bersiap untuk akhirat tapi mereka ganggu kita, dari belakang membuat kita rakus disibukkan mencari harta untuk anak-anak kita sampai tak peduli halal haram sehingga lupa akan akhiratnya, dari samping kanan dirusak agama kita disesatkan, sedangkan samping kiri kita dibuaikan dengan keindahan dunia yang dianggap abadi sehingga mereka mengejarnya sehingga lupa keindahan akhirat yang jauh lebih indah kekal selamanya tapi kita punya dua jalan yaitu atas dan bawah, atas bermunajat kepada Allah bawah apabila kita perbanyak sujud kita mereka iblis tak akan pernah mampu mengganggu kita.
Tapi sesungguhnya manusia itu kebanyakan selalu mengkufuri nikmat Allah, setan menginginkan kita tak bersyukur atas nikmat Allah dan maka kita harus gagalkan niat setan tersebut, Allah memberikan pengelihatan, pendengaran, hati, dan akal tapi kita pergunakan untuk mengkufuri nikmat Allah dan kita ini tidak perlulah menuding yang lain intropeksilah diri sendiri.
Orang itu adalah sadar atas semua nikmat Allah setelah ditinggalkan nikmat itu, maka jagalah dengan mensyukuri nikmat tersebut dan orang yang tak bersyukur berarti orang itu bersiap-siap untuk mendapat sanksi dengan dicabutnya nikmat dari Allah, orang pada hakikatnya tidak pernah mensyukuri nikmat Allah kecuali hanya sangat sedikit orang karena itu adalah ibadah tingkat tinggi.
Takut berbuat dosa juga merupakan nikmat Allah sehingga hidupnya akan tentram selamanya segala sesuatu yang ia lakukan. Kalau kita sampai pada tahapan ini berarti telah melakukan syukur yang sebenarnya, ada pedoman yang sangat bagus kalau soal beribadah kepada Allah maka lihatlah orang yang diatasmu, tapi kalau soal harta lihatlah orang yang berada dibawahmu meski makan 3x sehari dengan lauk apa adanya maka lihatlah yang makan 2x sehari dan seterusnya tapi jangan sampai sebaliknya melihat harta orang yang diatas kita sehingga kita lupakan yang dibawah kita dan hanya mengejar harta itu tanpa sempat mensyukurinya. Orang yang berterimakasih kepada sesama manusia itu juga wujud syukur kita kepada Allah.
Surat Luqman (31): 14 menjelaskan hal ini, yaitu
dengan firman-Nya:
“Bersyukurlah kepada-Ku, dan kepada dua orang ibu bapakmu; hanya kepada-Kulah kembalimu”
Ditulis dalam Arsip, syukur | Bertanda syukur | Leave a Comment »

Syukur. Apa makna syukur bagi anda? Syukur memiliki begitu banyak definisi. Tergantung pada tiap otak manusia mendefinisikan kata syukur itu seperti apa. Tetapi, bagi setiap muslim. Ketika ia sholat, lalu bersujud dan berdoa di dalam sujudnya mengucapkan terima kasih tiada tara atas apa yang telah Rabb-Nya berikan kepada dia di dalam kehidupannya. Baik itu kemudahaan ataupun kesulitan. Baik itu kebahagiaan ataupun kesedihan. Namun, ia masih mengucap syukur, “Terima kasih untuk segala nikmat yang telah engkau berikan pada hamba Ya RABB!” di dalam untaian doanya di setiap sujud syukur.
Ketika seorang muslim bersedekah. Memberikan apa yang ia miliki kepada orang lain. Berbagi apa yang dimiliki, entah itu berupa materi, sandang pangan, ataupun darah yang mengalir di dalam tubuhnya untuk di donorkan. Itu juga merupakan salah satu wujud dari rasa syukur kepada Rabb-Nya.
Begitu banyak cara bagi seorang muslim untuk menyatakan bahwa dirinya berbahagia, berterima kasih, lantas bersyukur kepada Rabb-Nya atas nikmat yang telah hadir di dalam kehidupannya. Nikmat sehat, nikmat sakit, nikmat ketika menyantap makanan serta minuman halal, nikmat kasih sayang dari keluarga dan orang yang mencintai kita dengan tulus, dan masih banyak nikmat yang kadang luput dari kesadaran seorang muslim.
ALLAH SWT berfirman,
“Dan, jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.” QS.Ibrahim:34
“Dan, menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin.” QS.Luqman:20
“Dan, apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allahlah datangnya.” QS. An-Nahl : 53
Ketika seorang muslim sudah bisa berada pada titik syukur, dan mensyukuri apapun yang telah dialami dalam kehidupannya. Maka, ia akan lebih mudah mengundang rasa bahagia masuk ke dalam nurani. Kebahagiaan, ketenangan, dan rasa syukur yang senantiasa membuahkan rasa ikhlas dan nyaman dalam menjalani kehidupan. Kecemasan, rasa takut yang berlebihan akan masa depan, berbagai prasangka yang di alamatkan kepada Rabb-Nya ataupun kepada sodara sesama muslim dapat dikelola dengan baik.
Sudahkah anda bersyukur, dan tersenyum atas nikmat serta karunia yang ALLAH SWT berikan pada anda hari ini?
Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »
CARA-CARA MENGERJAKAN SOLAT SUNAT TAHAJJUD
Solat Tahajjud ialah solat apabila terjaga daripada tidur malam. Sebaik-baiknya 1/3 malam yang terakhir iaitu dalam lingkungan jam 3 @ 4 pagi. Di antara fadhilatnya :
1. Mendapat pengawasan Allah dan menampakkan kesan ketaatan di wajahnya.
2. Dikasihi oleh para ahli ibadah dan org mukmin.
3. Percakapannya menjadi hikmah dan bijaksana.
4. Dimudahkan hisab ke atasnya.
5. Mendapat catatan amal dari tangan kanan.
Jumlah rakaat sekurang-kurangnya 2 rakaat.
Lafaz Niat Solat Sunnat Tahajjud
Maksudnya:
Ya Allah, masukkanlah aku dengan kebenaran dan kleluarkanlah aku dengan kebenaran
dan kurniakan aku kekuasaan yang dapat menolong.
“Ya Allah, bagiMu segala puji. Engkau penegak langit dan bumi dan segala isinya. BagiMulah segala puji’. Bagimu kerjaan langit dan bumi serta isinya. Dan bagiMulah segala puji cahaya bagi langit dan bumi, Engkaulah yang hak, dan janjiMu adalah hak, dan syurga adalah hak, dan neraka adalah hak, dan nabi-nabi itu adalah hak, dan nabi Muhammad saw, adalah hak, dan saat hari kiamat itu adalah hak, ya Allah, kepadaMulah kami berhukum. Ampunilah kami atas kesalahan yang sudah kami lakukan dan yang belum kami lakukan, baik yang kami sembunyikan mahupun yang kami nyatakan. Engkaulah Tuhan yang terdahulu dan Tuhan yang terakhir. Tiada Tuhan melainkan Engkau. Tiada daya dan kekuatan melainkan dengan Allah.”
KELEBIHAN DAN NIKMAT YANG DIJANJIKAN ALLAH UNTUK SESIAPA YANG SELALU MENUNAIKAN SOLAT SUNAT TAHAJJUD
Orang yang rajin melakukan solat sunat tahajud mendapat 9 kelebihan. 5 daripadanya diperoleh di dunia, manakala selebihnya akan diperoleh di akhirat.
5 kelebihan yang diperoleh di dunia:
4 kelebihan yang akan diperoleh di akhirat:
“Ya Allah…ringankan tubuh badan kami untuk bangun mengadap dan bermunajat padaMu di sepertiga malamMu
Sembahyang Tahajud sesungguhnya satu daripada sembahyang sunat yang mempunyai nilai dan kedudukan tinggi berbanding sembahyang sunat lain.
Sembahyang Tahajud adalah amalan orang soleh yang sentiasa mahu mendekatkan diri kepada Allah.
Amalan sembahyang Tahajud bukan hanya diamalkan umat Nabi Muhammad malah umat nabi sebelumnya.
Ini bererti perintah Tahajud bukan dikhususkan kepada umat Nabi Muhammad sahaja.
Saidina Umar Al-Khattab menyatakan fadilat atau kelebihan sembahyang malam dengan berkata maksudnya: “Sesiapa mengerjakan sembahyang malam (Tahajud) dengan khusyuk nescaya dianugerahkan Allah sembilan perkara, lima di dunia dan empat di akhirat. Kurniaan di dunia ialah:
a. Jauh daripada segala penyakit
b. Lahir kesan takwa pada wajahnya
c. Dikasihi sekalian mukmin dan seluruh manusia
d. Percakapannya mengandungi hikmat
e. Dikurniakan kekuatan dan diberi rezeki dalam agama (halal dan diberkati).
Sementara empat perkara di akhirat ialah:
a. Dibangkitkan dari kubur dengan wajah berseri-seri
b. Dipermudahkan hisab
c. Cepat melalui Sirat al-Mustaqim – seperti kilat
d. Diserahkan suratan amalan pada hari akhirat melalui tangan kanan.
Walaupun manusia sedar ketinggian kedudukan sembahyang Tahajud, namun sedikit sekali manusia yang mengaku beragama Islam sanggup dan bersedia melakukan sembahyang ini. Bagi mereka, tidur lebih seronok dan lebih utama daripada bersembahyang.
Sesungguhnya, manusia akan berlumba-lumba untuk bersembahyang Tahajud sekiranya mereka dapat merasai betapa nikmatnya melakukan amalan itu.
Keheningan dan kedinginan malam seolah-olah memberi kesempatan kepada seseorang untuk merapatkan lagi jurang hubungan antara makhluk dan Khalik.
Apa yang dibaca seseorang ketika bersembahyang itu seolah-olah didengar dan mendapat layanan daripada Allah Yang Maha Berkuasa. Orang yang khusyuk dalam sembahyang akan berasa hubungannya dengan Allah begitu hampir.
Biasanya, permohonan seseorang untuk mendapat sesuatu itu cepat mendapat layanan apabila tidak ramai orang memohonnya.
Oleh itu, mohonlah keampunan dan limpahan rahmat Allah ketika orang lain sedang tidur nyenyak.
Berhubunglah dengan Allah ketika peluang masih ada, umur masih muda dan pintu taubat masih terbuka. Insya-Allah kita akan mendapat limpahan rahmat dan nikmat daripada-Nya.
Sebaik-baik permohonan dan masa untuk berhubung dengan Allah ialah pada waktu malam. Sebab itu, kurangkanlah tidur dan banyakkanlah bersembahyang di tengah malam.
SEMOGA MENJADI AMALAN SEMUA MUSLIMIN MUSLIMAT YANG INGIN MENCARI SELEMBAR KASIH YANG KEKAL DARI ALLAH SWT.
Sumber: http://syukur28.blogspot.com/2009/07/mari-mengerjakan-solat-sunat-tahajjud.html
Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »
Saatnya panen kebaikan di Ramadhan ini. Perbanyak amal mulai tadarus, shalat, sampai sedekah.
Jangan lewat malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Ditulis dalam Uncategorized | Bertanda ramadhan | Leave a Comment »
Al-Qur’an dan Sunnah merupakan dua pusaka Rasulullah saw yang harus selalu dirujuk oleh setiap muslim dalam segala aspek kehidupan. Satu dari sekian aspek kehidupan yang amat penting adalah pembentukan dan pengembangan peribadi muslim. Peribadi muslim yang dikehendaki oleh Al-Qur’an dan sunnah adalah pribadi yang shaleh, peribadi yang sikap, ucapan dan tindakannya terwarnai oleh nilai-nilai yang datang dari Allah Swt.
Persepsi masyarakat tentang pribadi muslim memang berbeda-beda, bahkan banyak yang pemahamannya sempit sehingga seolah-olah peribadi muslim itu tercermin pada orang yang hanya rajin menjalankan Islam dari aspek ubudiyah, padahal itu hanyalah salah satu aspek yang harus ada pada peribadi seorang muslim. Oleh karena itu standard peribadi muslim yang berdasarkan Al-Qur’an dan sunnah merupakan sesuatu yangwajib dirumuskan, sehingga menjadi acuan bagi pembentukan peribadi muslim.
Bila disederhanakan, sekurang-kurangnya ada sepuluh profil atau ciri khas yang mesti ada pada peribadi seseorang muslim.
1. Salimul Aqidah
Aqidah yang bersih (salimul aqidah) merupakan sesuatu yang sepatutnya ada pada setiap muslim. Dengan aqidah yang bersih, seorang muslim akan memiliki ikatan yang kuat kepada Allah Swt dan dengan ikatan yang kuat itu dia tidak akan menyimpang dari jalan dan ketentuan-ketentuan-Nya. Dengan kebersihan dan kemantapan aqidah, seorang muslim akan menyerahkan segala perbuatannya kepada Allah sebagaimana firman-Nya yang artinya: ‘Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku, semua bagi Allah Tuhan semesta alam‘ (QS 6:162).
Karena memiliki aqidah yang salim merupakan sesuatu yang amat penting, maka dalam da’wahnya kepada para sahabat di Makkah, Rasulullah Saw mengutamakan pembinaan aqidah, iman atau tauhid.
2. Shahihul Ibadah.
Ibadah yang benar (shahihul ibadah) merupakan salah satu perintah Rasul saw yang penting, dalam satu haditsnya; beliau menyatakan: ‘shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat.‘ Dari ungkapan ini maka dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan setiap peribadatan haruslah merujuk kepada sunnah Rasul Saw yang berarti tidak boleh ada unsur penambahan atau pengurangan.
3. Matinul Khuluq.
Akhlak yang kokoh (matinul khuluq) atau akhlak yang mulia merupakan sikap dan prilaku yang harus dimiliki oleh setiap muslim, baik dalam hubungannya kepada Allah maupun dengan makhluk-makhluk-Nya. Dengan akhlak yang mulia, manusia akan bahagia dalam hidupnya, baik di dunia apalagi di akhirat.
Karena begitu penting memiliki akhlak yang mulia bagi umat manusia, maka Rasulullah Saw ditutus untuk memperbaiki akhlak dan beliau sendiri telah mencontohkan kepada kita akhlaknya yang agung sehingga diabadikan oleh Allah di dalam Al-Qur’an, Allah berfirman yang artinya: ‘Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlak yang agung‘ (QS 68:4).
4. Qowiyyul Jismi.
Kekuatan jasmani (qowiyyul jismi) merupakan salah satu sisi peribadi muslim yang harus ada. Kekuatan jasmani berarti seorang muslim memiliki daya tahan tubuh sehingga dapat melaksanakan ajaran Islam secara optimal dengan fisiknya yang kuat. Shalat, puasa, zakat dan haji merupakan amalan di dalam Islam yang harus dilaksanakan dengan fisik yang sehat atau kuat, apalagi perang di jalan Allah dan bentuk-bentuk perjuangan lainnya.
Oleh karena itu, kesiatan jasmani harus mendapat perhatian seorang muslim dan pencegahan dari penyakit jauh lebih utama daripada pengobatan. Meskipun demikian, sakit tetap kita anggap sebagai sesuatu yang wajar bila hal itu kadang-kadang terjadi, dan jangan sampai seorang muslim sering sakit. Karena kekuatan jasmani juga termasuk yang penting, maka Rasulullah saw bersabda yang artinya: ‘Mu’min yang kuat lebih aku cintai daripada mu’min yang lemah‘ (HR. Muslim).
5. Mutsaqqoful Fikri
Intelek dalam berfikir (mutsaqqoful fikri) merupakan salah satu sisi peribadi muslim yang penting. Karena itu salah satu sifat Rasul adalah fatonah (cerdas) dan Al-Qur’an banyak mengungkap ayat-ayat yang merangsang manusia untuk berpikir, misalnya firman Allah yang artinya: Mereka bertanya kepadamu tentang, khamar dan judi. Katakanlah: ‘pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.’ Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: ‘Yang lebih dari keperluan.‘ Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir (QS 2:219).
Di dalam Islam, tidak ada satupun perbuatan yang harus kita lakukan, kecuali harus dimulai dengan aktiviti berfikir. Karenanya seorang muslim harus memiliki wawasan keislaman dan keilmuan yang luas. Dapat kita bayangkan, betapa bahayanya suatu perbuatan tanpa mendapatkan pertimbangan pemikiran secara matang terlebih dahulu.
Oleh karena itu Allah mempertanyakan kepada kita tentang tingkatan intelektualitas seseorang sebagaimana firman-Nya yang artinya: Katakanlah: “samakah orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui?”, sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran (QS 39:9).
6. Mujahadatul Linafsihi.
Berjuang melawan hawa nafsu (mujahadatul linafsihi) merupakan salah satu kepribadian yang harus ada pada diri seorang muslim, karena setiap manusia memiliki kecenderungan pada yang baik dan yang buruk. Melaksanakan kecenderungan pada yang baik dan menghindari yang buruk amat menuntut adanya kesungguhan dan kesungguhan itu akan ada manakala seseorang berjuang dalam melawan hawa nafsu.
Oleh karena itu hawa nafsu yang ada pada setiap diri manusia harus diupayakan tunduk pada ajaran Islam, Rasulullah Saw bersabda yang artinya: Tidak beriman seseorang dari kamu sehingga ia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (ajaran islam) (HR. Hakim).
7. Harishun Ala Waqtihi.
Pandai menjaga waktu (harishun ala waqtihi) merupakan faktor penting bagi manusia. Hal ini karena waktu itu sendiri mendapat perhatian yang begitu besar dari Allah dan Rasul-Nya. Allah Swt banyak bersumpah di dalam Al-Qur’an dengan menyebut nama waktu seperti wal fajri, wad dhuha, wal asri, wallaili dan sebagainya.
Allah swt memberikan waktu kepada manusia dalam jumlah yang sama setiap, yakni 24 jam sehari semalam. Dari waktu yang 24 jam itu, ada manusia yang beruntung dan tak sedikit manusia yang rugi. Karena itu tepat sebuah semboyan yang menyatakan: ‘Lebih baik kehilangan jam daripada kehilangan waktu.‘ Waktu merupakan sesuatu yang cepat berlalu dan tidak akan pernah kembali lagi.
Oleh karena itu setiap muslim amat dituntut untuk memanaj waktunya dengan baik, sehingga waktu dapat berlalu dengan penggunaan yang efektif, tak ada yang sia-sia. Maka diantara yang disinggung oleh Nabi Saw adalah memanfaatkan momentum lima perkara sebelum datang lima perkara, yakni waktu hidup sebelum mati, sehat sebelum sakit, muda sebelum tua, rehat sebelum sibuk dan kaya sebelum miskin.
8. Munazhzhamun fi Syuunihi.
Teratur dalam suatu urusan (munzhzhamun fi syuunihi) termasuk kepribadian seorang muslim yang ditekankan oleh Al-Qur’an maupun sunnah. Oleh karena itu dalam hukum Islam, baik yang terkait dengan masalah ubudiyah maupun muamalah harus diselesaikan dan dilaksanakan dengan baik. Ketika suatu urusan ditangani secara bersama-sama, maka diharuskan bekerjasama dengan baik sehingga Allah menjadi cinta kepadanya.
Dengan kata lain, suatu urusan dikerjakan secara profesional, sehingga apapun yang dikerjakannya, profesionalisme selalu mendapat perhatian darinya. Bersungguh-sungguh, bersemangat dan berkorban, adanya penerusan dan berilmu pengetahuan merupakan diantara yang mendapat perhatian secara serius dalam menunaikan tugas-tugasnya.
9. Qodirun Alal Kasbi.
Memiliki kemampuan usaha sendiri atau yang juga disebut dengan kekuasaan (qodirun alal kasbi) merupakan ciri lain yang harus ada pada seorang muslim. Ini merupakan sesuatu yang amat diperlukan. Mempertahankan kebenaran dan berjuang menegakkannya baru boleh dilaksanakan bilakala seseorang memiliki kekuasaan, terutama dari segi ekonomi. Tak sedikit seseorang mengorbankan prinsip yang telah dianutnya karena tidak memiliki kemandirian dari segi ekonomi. Kareitu pribadi muslim tidaklah mesti miskin, seorang muslim boleh saja kaya raya bahkan memang harus kaya agar dia bisa menunaikan haji dan umrah, zakat, infaq, shadaqah, dan mempersiapkan masa depan yang baik. Oleh karena itu perintah mencari nafkah amat banyak di dalam Al-Qur’an maupun hadits dan hal itu memiliki keutamaan yang sangat tinggi.
Dalam kaitan menciptakan kekuasaan inilah seorang muslim amat dituntut memiliki keahlian apa saja yang baik, agar dengan keahliannya itu menjadi sebab baginya mendapat rizki dari Allah Swt, karena rizki yang telah Allah sediakan harus diambil dan mengambilnya memerlukan skill atau ketrampilan.
10. Nafi’un Lighoirihi.
Bermanfaat bagi orang lain (nafi’un lighoirihi) merupakan sebuah tuntutan kepada setiap muslim. Manfaat yang dimaksud tentu saja manfaat yang baik sehingga dimanapun dia berada, orang disekitarnya merasakan keberadaannya karena bermanfaat besar. Maka jangan sampai seorang muslim adanya tidak menggenapkan dan tidak adanya tidak mengganjilkan. Ini berarti setiap muslim itu harus selalu berpikir, mempersiapkan dirinya dan berupaya semaksima agar dapat bermanfaat dalam hal-hal tertentu sehingga jangan sampai seorang muslim itu tidak bisa mengambil peranan yang baik dalam masyarakatnya.
Dalam kaitan inilah, Rasulullah saw bersabda yang artinya: sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Qudhy dari Jabir).
Demikian secara umum profil seorang muslim yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan hadits, sesuatu yang perlu kita renungkan pada diri kita masing-masing.
Ditulis dalam Arsip | Leave a Comment »
Dipetik dari buku “Peringatan Bagi Yg Lalai“)
~Tanbihul Qhafillin~
Yazid Arraqqasyi dari Anas bin Malik ra. berkata:
Jibril datang kepada Nabi saw pada waktu yg ia tidak
biasa datang dalam keadaan berubah mukanya, maka
ditanya oleh nabi s.a.w.: “Mengapa aku melihat kau
berubah muka?“
Jawabnya: “Ya Muhammad, aku datang kepadamu di saat
Allah menyuruh supaya dikobarkan penyalaan api neraka,
maka tidak layak bagi orang yg mengetahui bahawa
neraka Jahannam itu benar, dan siksa kubur itu benar,
dan siksa Allah itu terbesar untuk bersuka-suka
sebelum ia merasa aman daripadanya.“
Lalu nabi s.a.w. bersabda: “Ya Jibrail, jelaskan
padaku sifat Jahannam.“
Jawabnya: “Ya. Ketika Allah menjadikan Jahannam, maka
dinyalakan selama seribu tahun, sehingga merah,
kemudian dilanjutkan seribu tahun sehingga putih,
kemudian seribu tahun sehingga hitam, maka ia hitam
gelap, tidak pernah padam nyala dan baranya. Demi
Allah yg mengutus engkau dengan hak, andaikan terbuka
sebesar lubang jarum nescaya akan dapat membakar
penduduk dunia semuanya kerana panasnya.
Demi Allah yg mengutus engkau dengan hak, andaikan
satu baju ahli neraka itu digantung di antara langit
dan bumi nescaya akan mati penduduk bumi karena panas
dan basinya.
Demi Allah yg mengutus engkau dengan hak, andaikan
satu pergelangan dari rantai yg disebut dalam
Al-Qur\’an itu diletakkan di atas bukit, nescaya akan
cair sampai ke bawah bumi yg ke tujuh. Demi Allah yg
mengutus engkau dengan hak, andaikan seorang di hujung
barat tersiksa, niscaya akan terbakar orang-orang yang
di hujung timur kerana sangat panasnya, Jahannam itu
sangat dalam dan perhiasannya besi, dan minumannya air
panas campur nanah, dan pakaiannya potongan-potongan
api.
Api neraka itu ada tujuh pintu, tiap-tiap pintu ada
bahagiannya yang tertentu dari orang laki-laki dan
perempuan.
Nabi s.a.w. bertanya: “Apakah pintu-pintunya bagaikan
pintu-pintu rumah kami?“
Jawabnya: “Tidak, tetapi selalu terbuka, setengahnya
di bawah dari lainnya, dari pintu ke pintu jarak
perjalanan 70,000 tahun, tiap pintu lebih panas dari
yang lain 70 kali ganda.“ (nota kefahaman: yaitu yg
lebih bawah lebih panas).
Tanya Rasulullah s.a.w.: “Siapakah penduduk
masing-masing pintu?“
Jawab Jibril: “Pintu yg terbawah untuk orang-orang
munafik, dan orang- orang yg kafir setelah diturunkan
hidangan mukjizat nabi Isa a.s. serta keluarga Fir’aun
sedang namanya Al-Hawiyah.
Pintu kedua tempat orang-orang musyrikin bernama
Jahim,
Pintu ketiga tempat orang shobi’in bernama Saqar.
Pintu keempat tempat Iblis dan pengikutnya dari kaum
majusi bernama Ladha,
Pintu kelima orang yahudi bernama Huthomah.
Pintu ke enam tempat orang nasara bernama Sa’eir.“
Kemudian Jibril diam segan pada Rasulullah s.a.w.
sehingga ditanya:“Mengapa tidak kau terangkan
penduduk pintu ke tujuh?“
Jawabnya: “Di dalamnya orang-orang yg berdosa besar
dari ummatmu yg sampai mati belum sempat bertaubat.“
Maka nabi s.a.w. jatuh pingsan ketika mendengar
keterangan itu, sehingga Jibrail meletakkan kepala
nabi s.a.w. di pangkuannya sehingga sadar kembali dan
sesudah sadar nabi saw bersabda: “Ya Jibril, sungguh
besar kerisauanku dan sangat sedihku, apakah ada
seorang dari ummat ku yang akan masuk ke dalam
neraka?“
Jawabnya: “Ya, yaitu orang yg berdosa besar dari
ummatmu.“
Kemudian nabi s.a.w. menangis, Jibrail juga menangis,
kemudian nabi s.a.w. masuk ke dalam rumahnya dan tidak
keluar kecuali untuk sholat kemudian kembali dan tidak
berbicara dengan orang dan bila sholat selalu menangis
dan minta kepada Allah.
Dari Hadith Qudsi:
“Bagaimana kamu masih terus melakukan maksiat
sedangkan kamu tidak tahan dengan panasnya terik
matahariKu ???. Tahukah kamu bahwa neraka jahanamKu
itu:
1. Neraka Jahanam itu mempunyai 7 tingkat
2. Setiap tingkat mempunyai 70,000 daerah
3. Setiap daerah mempunyai 70,000 kampung
4. Setiap kampung mempunyai 70,000 rumah
5. Setiap rumah mempunyai 70,000 bilik
6. Setiap bilik mempunyai 70,000 kotak
7. Setiap kotak mempunyai 70,000 batang pokok zarqum
8. Di bawah setiap pokok zarqum mempunyai 70,000 ekor
ular
9. Di dalam mulut setiap ular yang panjang 70 hasta
mengandungi lautan racun yang hitam pekat.
10.Juga di bawah setiap pokok zarqum mempunyai 70,000
rantai
11.Setiap rantai diseret oleh 70,000 malaikat”
Ya Allah, ampunilah kami… jangankanlah Engkau
masukkan kami ke dalam Neraka….
Wawllahu a’lam bishowab
Ditulis dalam Uncategorized | 1 Komentar »