Meresapi Semangat Ramadan Muslim Minoritas di Inggris (3-Habis)

Rabu, 03 Nov 2004
Meresapi Semangat Ramadan Muslim Minoritas di Inggris (3-Habis)

Pengajian Virtual, Ustad-Jamaah di Negara Berbeda
Nuansa negara maju juga mewarnai kehidupan muslim di Inggris. Dunia maya pun menjadi sarana dakwah. Namun, kumpul-kumpul tetap merupakan kehangatan yang dirindukan. Apalagi, ada bungkusan nasi yang bisa di-take away.
Nurani Susilo, London

PUKUL 06.15 GMT, keluarga Asep Setiawan baru selesai melaksanakan salat Subuh. Ketiga anak mereka -Isti, 14; Hanif, 12, dan Zaka, 8, yang bangun sejak pukul 05.00 GMT untuk makan sahur kembali meneruskan tidur.

Sementara Asep beserta istri dan bapak-ibu mertua yang tengah berkunjung, melanjutkan ritual sahur mereka. Masih dengan sarung dan mukena, mereka kemudian duduk bersila di depan komputer. Apa yang dilakukan keluarga yang tinggal di Dagenham, Essex, di ujung timur London ini?

Tentu saja mereka bukan chatting, melainkan mendengarkan ceramah Ramadan melalui yahoo messenger. Pagi itu, yang memberikan ceramah adalah Ustad Ahmad Yani yang berada di Belanda atas undangan pelajar dan keluarga muslim Indonesia di Negeri Kincir Angin tersebut.

Beberapa kali Asep bangkit dari duduknya di karpet dan mengetik di komputer. Mengirim pesan, juga melalui yahoo messenger,adalah cara para jamaah virtual itu mengajukan pertanyaan kepada sang Ustad. Pertanyaan itu kemudian dijawab ketika materi ceramah, yang pagi itu membahas porsi ibadah dalam kehidupan sehari-hari.

“Alhamdulillah, kita telah menyelesaikan materi untuk pagi ini. Isya Allah besok pagi pada jam yang sama kita bisa bertemu lagi. Dan semoga jamaahnya bisa bertambah,” begitu Ustad Ahmad Yani menutup ceramahnya.

Mendengarkan -atau kadang wajah pembicara tampil di komputer jika kebetulan menggunakan web cam- ceramah melalui internet adalah cara yang sering dilakukan muslim Indonesia di Eropa. Dan, sesama muslim Indonesia di kota-kota di Eropa itu saling berhubungan untuk mengaji bersama, dengan penyelenggara yang bergantian.

Pagi itu Ustad Ahmad Yani bisa tampil di seluruh layar komputer muslim Indonesia di Eropa atas kerja yang dilakukan pelajar Islam Indonesia di Belanda. “Beberapa hari lalu Ustad Anis Matta berceramah melalui cara yang sama dengan penyelenggara pelajar Indonesia di Jerman,” kata Asep.

“Apakah Ustad Anis Matta tengah berada di Jerman?” saya bertanya kepada produser BBC London ini. “Oh, tidak, Ustad Anis Matta berada di Indonesia, tapi yang mengatur teman-teman dari Jerman,” papar Asep.

Begitulah, penggunaan teknologi internet dilakukan muslim-muslim Indonesia di Inggris dan di negara Eropa lain untuk mengaji bersama selama Ramadan. Ustad boleh berada di mana saja dan jamaahnya juga tersebar di beberapa negara. Tetapi, setiap selesai subuh, semua berkumpul di rumah masing-masing untuk mendengarkan ceramah yang sama melalui internet.

Setiap Sabtu siang, Asep dan istrinya, Titin, juga menghadiri pengajian lain. Namun, pengajian ini mengharuskan mereka datang ke sebuah rumah di Southfield, dekat kompleks tenis Wimbledon di London Barat. Di kelompok pengajian ini untuk tahun ini Asep menjabat ketua. Kelompok tersebut sebagai tempat berkumpul warga muslim Indonesia di London dan sekitarnya.

Para pelajar Indonesia di London dan warga Indonesia yang bermukim di Inggris lainnya datang selepas asar untuk bertadarus Alquran, berbuka puasa, mendengarkan ceramah, dan salat tarawih bersama. Ceramah Ramadan biasanya disampaikan oleh para pelajar di London dan kota-kota lain di Inggris yang kebetulan juga seorang ustad.

Namun, ada kalanya pengajian yang bernama Al Ikhlas ini mendatangkan ustad dari Indonesia. Biasanya, Al Ikhlas bekerja sama dengan pengajian lokal di kota lain di Inggris, seperti Manchester, Birmingham, dan Sheffield, tempat banyak pelajar atau warga Indonesia tinggal. Selama di Inggris, ustad tersebut akan berkeliling ke setiap pengajian lokal itu yang biasanya mengadakan pengajian rutin setiap Minggu atau dua minggu sekali.

“Sejak beberapa tahun terakhir, Al Ikhlas juga dipercaya mengelola pengajian Ramadan setiap Minggu di KBRI London,” kata Asep. Termasuk di dalamnya pengajian khusus untuk anak-anak dan remaja yang dilakukan selepas salat asar.

Pengajian anak-anak dan remaja ini dikelola oleh ibu-ibu yang tergabung dalam tim Alief. Mereka adalah guru sekolah anak-anak Alief, yang di luar Ramadan diadakan dua minggu sekali bersamaan waktu dan tempatnya dengan pengajian Al Ikhlas.

Pengadaan makanan berbuka puasa dan acara pengajian di luar Ramadan ditangani ibu-ibu pengajian yang dibagi per kelompok. Setiap kelompok mendapat giliran memasak serta menyiapkan hidangan.

Menunya? Tidak kalah dengan menu buka puasa di Indonesia. Hindangan yang disediakan secara sukarela ini selalu lengkap. Makanan takjil berbuka juga khas Indonesia, seperti kolak, bubur atau es buah, makanan kecil mulai kurma hingga kue manis dan asin asal Indonesia. Makanan utamanya juga ala Indonesia, mulai ayam goreng, soto, bakso, asinan, rendang, empal, sayur asem, kerupuk hingga sambal dan lalapan hadir di meja berbuka secara bergiliran.

Tidak berhenti sampai acara makan di tempat. Ketika makanan masih tersisa, jamaah yang sebagian besar pelajar yang hidup single dan tinggal di rumah kos di London itu akan mendapat bungkusan untuk dibawa pulang. Di Inggris kegiatan ini dikenal dengan take away. Penyebutan take away ini diambil dari istilah di restoran Inggris yang pembelinya membawa pulang makanannya alias tidak makan di restoran tersebut.

Pengajian Al Ikhlas yang menempati rumah wakaf dari seorang pengusaha restoran sukses di London asal Jawa Timur ini telah mempunyai dua “anak”. Pertama, pengajian Al Hidayah, yaitu pengajian khusus yang didirikan Al Ikhlas untuk para TKW Indonesia di London dan sekitarnya.

Kini, Al Hidayah sudah mandiri dalam arti mengelola sendiri pengajiannya, termasuk penyediaan tempat yang biasanya bergilir di rumah atau tempat kos para TKW. Al Ikhlas hanya menyediakan materi serta pembicara yang dilaksanakan dua minggu sekali itu. Tetapi, khusus selama Ramadan, Al Hidayah kembali bergabung dengan Al Ikhlas.

Anak Al Ikhlas yang lain adalah Al Baroqah. Ini juga untuk para TKW, tetapi mereka yang baru datang ke London atau baru mulai belajar mengaji. “Al Baroqah untuk yang baru belajar dan baru datang. Kalau digabung dengan Al Hidayah, materinya akan ketinggalan,” kata Titin Suhartini, pengurus Al Ikhlas yang ditugasi menangani Al Baroqah.

Keluarga Asep Setiawan bersama pengajian Al Ikhlas adalah potret lain kehidupan warga muslim Indonesia di London atau Inggris pada umumnya. Tinggal di negara yang Islam adalah agama minoritas tidak menghalangi mereka untuk menjalankan kewajiban sebagai umat Islam. Juga semangat berdakwah serta bersilaturahmi sesama muslim pun tidak hilang di tengah kehidupan Barat yang jauh dari nuansa Islam. (tamat)***
Sumber: Jawa Pos

About these ads

8 Responses to Meresapi Semangat Ramadan Muslim Minoritas di Inggris (3-Habis)

  1. ahmad Adhfirman mengatakan:

    Sesuatu yang luar biasa pengalaman diatas tadi.Tidak pernah terbayangkan kalau saya ada di kumpulan kaum Minoritas Muslim dinegri orang.
    Ada hal yang mau saya tanyakan untuk waktu Sholat,shubuh dan Makan sahur disana berpatokan pada apa..?
    Tolong kiranya dapat dibantu supaya kiranya saya dapat bekerja & berpuasa disana..Terimakasih

  2. Editor mengatakan:

    Maaf terlambat jawabannya. Di Inggris umat Islam jumlahnya mencapai 1,5 juta orang. Mesjid juga jumlahnya ratusan. Banyak organisasi Inggris antara lain Muslim Council of Britain. Penentuan sholat sama seperti di Indonesia berdasarkan hishab.

  3. idris eksternal pd pii jaksel mengatakan:

    Assalamualaikum wr wb

    Semoga persatuan awal dari kebangkitan terus lakukan proyek-proyek jihad Allah kan balas nanti disana. Teruntuk saudaraku PII terus semangat dan terdepan hempaskan semua tudingan terhadap Islam dengan damai dan kasih sayang kini saatnya kita bangkit bukan dengan senap panjang tapi dengan hati yang selalu dzikir dan ikhlas terhadap Allah SWT, teruntuk Kanda / Yunda PII dukung dan doakan perjuangan kami ini, dan selamat menyambut bulan suci Ramadhan jadikan ini sebuah langkah awal menuju medan perjuangan

  4. idris eksternal pd pii jaksel mengatakan:

    Teruntuk seluruh saudaraku semuslim adakah air mata ini mengalir ketika iman saudara kita tergadaikan dengan sekardus mie instan ataukah dengan sebuah imingan fasilitas kehidupan, bergerak karena harapan ridho Allah SWT, Kami Pelajar Islam Indonesia Jakarta Selatan akan mengadakan acara Perkampungan Kerja Pelajar di kawasan Tempat Pembuangan Sampah Lebak Bulus Jakarta Selatan dengan tujuan lindungi aset generasi perjuangan dari bahaya pengkafir musuh-musuh Islam doakan perjuangan kami dan berpatisipasilah bersama kami di 0815-11654887 semoga Allah memudahkan langkah kita

  5. idris eksternal pd pii jaksel mengatakan:

    Bait-bait kehidupan

    Jikalau engkau tidur di atas kasur empuk
    mereka di atas kardus-kardus
    Jikalau engkau makan di restoran favorit dengan harga mahal
    mereka makan dari sisa-sisa sampah pembuangan yang sudah tak layak
    jikalau engkau pergi sekolah dan tertawa bersama teman-teman
    mereka pergi berkerja di kejar-kejar satpam
    jikalau engkau pelang dengan harap bunda siapkan makanan terenak
    mereka pulang dengan menyetorkan hasil keringat yang bercucuran dan entah apa cukup buat makan
    jikalau engkau besar bisa berubah nasib dan punya kehidupan ideal
    mereka tetap dengan kemiskinan dan kebodohan
    adakah kita terdiam
    bahkan tertawa karena kelucuan
    sudah keringkah tangismu itu
    sudah hilangkah imanmu itu
    sudah jauhkah suaramu itu entah
    hanya hati yang hiduplah yang mampu
    berkata
    sahabat berikan tanganmu dan pegang pundakku
    mari kita keluar bersama dari
    remang-remang ini
    sahabat ada cahaya di depanmu
    kita gapai itu bersama
    tanpa sebuah pentingan
    kursi empuk atau beda status
    kita sama kita satu mahluk Allah SWT
    TUHAN KU YANG SATU
    WALLAHUALAM BISAWAB

  6. yuli mengatakan:

    Alhamdulillah. saya sangat terharu setelah membaca artikel tsb. semoga saudara-saudaraku sesama muslim tetap istiqomahmeski dikelilingi oleh orang-orang yang membenci dan memusuhi Islam. dan semoga selalu dalam lindungan Allah SWT. Amin
    yuli pdk gede bekasi

  7. Editor mengatakan:

    Amiin, jazakillah khayr Mbak Yuli

  8. gin gin ginanjar mengatakan:

    Subhanalloh..semoga saudara kita di sana tetap istiqamah..dan mudah2an momen ramadhan ini bisa membantu kepada masyarakat di Eropa bahwa islam itu, benar2 indah………..oh ya salam siraturahmi kapada kaum muslimin di eropa………

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: