Agenda Tarbiyah 2007, sebuah catatan

Semilir gerakan tarbiyah telah menyentuh berbagai pelosok di Indonesia. Tarbiyah merupakan istilah yang banyak dikaitkan dengan pembaharuan hati dan perilaku. Tarbiyah identik dengan keadilan, kejujuran dan ukhuwah. Identitas ini telah menjadi ciri dari dakwah tarbiyah.

Sejalan dengan perkembangan tarbiyah ini di Indonesia, banyak agenda yang masih perlu polesan, penguatan dan pengembangan. Artikel ini akan mengulas beberapa aspek dari agenda tarbiyah tahun 2007 yang perlu mendapat penekanan. Pertama, aspek ruhani bangsa Indonesia. Kedua, aspek sosial yang perlu mendapatkan perhatian besar. Ketiga, aspek lingkungan.

Tarbiyah ruhani

Seorang warga Aceh menuturkan bahwa sebelum tsunami datang mengguncang Tanah Rencong ini, saling membunuh telah menjadi sebuah ciri kehidupan masyarakat. Balas dendam antara TNI dan Gerakan Aceh Merdeka tidak pernah terhenti.

Dituturkan bahwa jika GAM mengincar keluarga polisi dan tentara untuk disiksa atau dibunuh, maka balasannya TNI mengincar masyarakat Aceh tidak berdosa. Aksi balas membalas ini berpuncak ketika Aceh di dalam DOM (Daerah Operasi Militer).

Selain aksi pembunuhan terjadi pula korupsi dan kemaksiatan secara terbuka. Aceh seolah-olah bukan lagi Serambi Mekah. Aceh dulu berbeda dengan Aceh sekarang.

Warga Aceh ini kemudian mengambil hikmah dari peristiwa alam bahwa tsunami adalah peringatan dari Allah SWT. Pembunuhan dan kemaksiatan harus dihentikan. Terlepas dari fenomena alam, tsunami merupakan ayat-ayat-Nya untuk direnungkan.

Bangsa Indonesia sekarang dimana perselingkuhan terang-terangan tidak dipersoalkan, poligami dihujat, amukan alam dimana-mana, penyakit yang tidak kunjung henti seperti flu burung, sebenarnya berada di ambang kerusakan moral yang besar. Tanda-tanda dari Langit ini tidak diberi perhatian.

Tarbiyah ruhani adalah upaya menghidupkan kembali manusia yang sekarang mati. Menghidupkan lagi hati yang beku dan menajamkan pandangan hati. Kalau kita bertanya kepada diri sendiri, apakah hati kita dan diri kita sudah tidak tahu malu lagi kepada Yang Maha Rahman ? Apakah dalam bekerja kita mengambil barang yang halal ? Apakah rasa malu untuk berbuat salah sudah sirna ?

Revitalisasi mental dan spiritual bangsa Indonesia merupakan agenda utama dalam tarbiyah. Rahmat tidak akan datang kalau individu dan terutama para pemimpinnya hidup bergelimang kekotoran.

Tarbiyah sosial

Tarbiyah dalam skala sosial merupakan kemestian yang sangat mendesak. Kerusakan ahlak yang menyeluruh bisa diobati denggan sebuah harakah atau gerak langkah yang menyeluruh.

Dengan menggunaka pengalaman masa Rasulullah SAW dan para nabi sebelumnya, pendidikan sosial memang harus dimulai dari elit masyarakat. Apakah itu elit pendidikan, sosial, budaya atau politik dan militer, mereka harus disentuh dengan siraman tarbiyah.

Aspek gerakan sosial dalam tarbiyah ini akan membendung arus korupsi dan perasaan tidak malu untuk bermaksiat. Rasa malu sosial merupakan indikasi bahwa syaksiyah Islamiyah atau pembentukan pribadi muslim telah berjalan.

Inilah tantangan berat agenda tarbiyah 2007 di Indonesia. Perubahan sosial bisa dilakukan dengan memegang kunci-kunci pelaku perubahan di kalangan elit dan pada waktu yang sama menjadi gerakan massal.

Tarbiyah kesadaran lingkungan

Berbagai musibah alam tidak lain karena rendahnya kesadaran manusia Indonesia terhadap lingkungan. Alam diperlakuka sebagai sesuau yang statis dan bisa dieksploitasi. Alam telah menjadi bahan jarahan mulai dari individu sampai dengan perusahaan besar.

Sebuah tarbiyah yang memfokuskan kepada kesadaran lingkungan menjadi sebuah kebutuhan mendesak. Tidak hanya polusi dan pencemaran yang merupakan sebuah nilai bertentangan dengan pesan-pesan Qurani tetapi juga menjadi ancaman bagi manusia sendiri.

Lihatlah bagaimana longsor di Sangihe baru-baru ini, kalau dirunut akan terlihat adanya pengaruh suhu global. Sementara longsor di Aceh dan Sumatra Utara akan terkait dengan kerusakan hutan. Bukankah tarbiyah yang dipelopori Murobi Agung Rasulullah SAW sangat memperhatikan kebersahajaan dalam memanfaatkan alam ?

Gerakan besar-besaran untuk revolusi hijau ini merupakan kebutuhan sangat besar, berlomba dengan waktu sebelum datang bencana lebih besar.

Penutup

Tentu saja artikel singkat ini tidak mencakup sebuah tantangan dan agenda sangat mendalam dan menyeluruh. Tarbiyah ruhani, sosial kemasyarakatan dan lingkungan muncul sebagai tanggapan terhadap fenomena yang terjadi belakangan ini di Indonesia. (A. Setiawan)

Iklan

Etos Kerja Dalam Pandangan Islam

Oleh Asep Setiawan

I. Pendahuluan

Etos kerja dalam arti luas menyangkut akan akhlak dalam pekerjaan. Untuk bisa menimbang bagaimana akhlak seseorang dalam bekerja sangat tergantung dari cara melihat arti kerja dalam kehidupan, cara bekerja dan hakikat bekerja. Dalam Islam, iman banyak dikaitkan dengan amal. Dengan kata lain, kerja yang merupakan bagian dari amal tak lepas dari kaitan iman seseorang.

Idealnya, semakin tinggi iman itu maka semangat kerjanya juga tidak rendah. Ungkapan iman sendiri berkaitan tidak hanya dengan hal-hal spiritual tetapi juga program aksi.

Artikel ini sendiri akan melihat pertama, kerja sebagai manifestasi program mewujudkan tujuan hidup di muka bumi yakni mencari Ridha Allah dengan mewujudkan diri sebagai khalifah di muka bumi. Kedua, karakteristik pekerjaan di masa datang yang diperlukan umat Islam.

II. Manifestasi Mencari Ridha Allah

Sebenarnya umat Islam termasuk beruntung karena semua pedoman dan panduan sudah terkodifikasi. Kini tinggal bagaiman menterjemahkan dan mengapresiasikannya dalam kegiatan harian, mingguan dan bulanan. Jika kita pandang dari sudut bahwa tujuan hidup itu mencari Ridha Allah SWT maka apapun yang dikerjakannya, apakah di rumah, di kantor, di ruang kelas, di perpustakaan, di ruang penelitian ataupun dalam kegiatan kemasyarakatan, takkan lepas dari kerangka tersebut.

Artinya, setiap pekerjaan yang kita lakukan, dilaksanakan dengan sadar dalam kerangka pencapaian Ridha Allah. Cara melihat seperti ini akan memberi dampak, misalnya, dalam kesungguhan menghadapi pekerjaan. Jika seseorang sudah meyakini bahwa Allah SWT sebagai tujuan akhir hidupnya maka apa yang dilakukannya di dunia tak dijalankan dengan sembarangan. Ia akan mencari kesempurnaan dalam mendekati kepada Al Haq. Ia akan mengoptimalkan seluruh kapasitas dan kemampuan inderawi yang berada pada dirinya dalam rangka mengaktualisasikan tujuan kehidupannya. Ini bisa berarti bahwa dalam bekerja ia akan sungguh-sungguh karena bagi dirinya bekerja tak lain adalah ibadah, pengabdian kepada Yang Maha Suci. Lebih seksama lagi, ia akan bekerja – dalam bahasa populernya – secara profesional.

Apa sebenarnya profesional itu ? Dalam khasanah Islam mungkin bisa dikaitkan dengan padanan kata ihsan. Setiap manusia, seperti diungkapkan Al Qur’an, diperintahkan untuk berbuat ihsan agar dicintai Allah. Kata Ihsan sendiri merupakan salah satu pilar disamping kata Iman dan Islam. Dalam pengertian yang sederhana, ihsan berarti kita beribadah kepada Allah seolah-olah Ia melihat kita. Jikalau kita memang tidak bisa melihat-Nya, tetapi pada kenyataannya Allah menyaksikan setiap perbuatan dan desir kalbu kita. Ihsan adalah perbuatan baik dalam pengertian sebaik mungkin atau secara optimal. Hal itu tercermin dalam Hadis Riwayat Muslim yang menuturkan sabda Rasulullah SAW : Sesungguhnya Allah mewajibkan ihsan atas segala sesuatu. Karena itu jika kamu membunuh, maka berihsanlah dalam membunuh itu dan jika kamu menyembelih, maka berihsanlan dalam menyembelih itu dan hendaknya seseorang menajamkan pisaunya dan menenangkan binatang sembelihannya itu.

Menurut Nurcholis Madjid, dari konteks hadis itu dapat disimpulkan bahwa ihsan berarti optimalisasi hasil kerja dengan jalan melakukan pekerjaan itu sebaik mungkin, bahkan sesempurna mungkin. “Penajaman pisau untuk menyembelih” itu merupakan isyarat efisiensi dan daya guna yang setinggi-tingginya. Allah sendiri mewajibkan ihsan atas segala sesuatu seperti tercermin dalam Al Qur’an. Yang membuat baik, sebaik-baiknya segala sesuatu yang diciptakan-Nya. (32:7). Selanjutnya Allah juga menyatakan telah melakukan ihsan kepada manusia, kemudian agar manusia pun melakukan ihsan. Dan carilah apa yang dianugerahkan kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan kebahagiaan dunia, dan berbuat ihsanlah kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat ihsan kepadamu , dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (28:77).

Dari keterangan hadis dan uraian Al Qur’an jelaslah bahwa setiap Muslim harus menjadi seorang pekerja yang profesional. Dengan demikian ia melaksanakan salah satu perintah Allah untuk berbuat ihsan dan juga mensyukuri karunia Allah berupa kekuatan akal dan fisiknya yang diberikan sebagai bekal dalam bekerja. Mengabaikan potensi akal dan fisik ini atau tidak “menajamkannya” bisa bermakna tidak mensyukuri nikmat dan karunia Ilahi Rabbi.

III. Karakteristik pekerjaan mendatang

Berbagai trend telah memperlihatkan bahwa bentuk pekerjaan mendatang tak hanya mengandalkan fisik tetapi juga otak. Al Qur’an dalam berbagai ayat sudah mengajak manusia untuk berpikir, membandingkan dan menggunakan akal dalam menghayati kehidupan dan mengarungi samudera kehidupan. Peter Drucker, salah seorang pakar manajemen, tahun 1960-an sudah memperingatkan akan datangnya “Knowledge Society”.

Dalam masyarakat jenis ini banyak bentuk kegiatan ekonomi dan pekerjaan dilakukan berdasarkan kepadatan pengetahuan. Ia memberi contoh mengetik. Dulua dengan memencet tuts orang bisa membuat kalimat, tetapi sekarang dengan adanya komputer sebelum memencet tuts harus dimiliki serangkaian pengetahuan cara bekerja perangkat lunaknya.

Pakar manajemen lainnya seperti Charles Handy, Michael Hammer atau Gary Hamel ataupun futurolog seperti John Naisbit dan Alvin Tovler sudah meramalkan jauh-jauh hari akan datangnya jenis pekerjaan otak ini. Dalam ungkapan Handy, aset sebuah organisasi tidak lagi terletak pada properti atau benda-benda fisik lainnya tetapi pada sumber daya manusia. Dan inti dari sumber daya manusia itupun adalah otaknya.

Sebenarnya kalau kita cermat, Al Quran sudah mengisyaratkan akan lahirnya masyarakat pengetahuan itu dengan ungkapan di ayat pertama, Iqra. Hanya tinggal manifestasi saja bagaimana Iqra itu menjadi jalan kehidupan umat Islam, bukan sebagai jargon yang yang dilafalkan.Membumikan istilah Iqra itulah merupakan tantangan umat Islam sehingga tidak ketinggalan dalam budaya masyarakat pengetahuan.

Mengutip istilah Deputi PM Anwar Ibrahim, umat Islam itu harus mampu menyumbangkan bagi peradaban yang hidup di dunia, sejajar dengan peradaban lainnya. Dengan demikian etos kerja harus merupakan bagian dari tradisi umat Islam, bukan tradisi masyarakat lain.

IV. Kesimpulan

Seruan akan etos kerja dalam Islam sebenarnya sudah banyak diungkapkan brebagai ayat Al Quran atau diuraikan hadis. Kini saatnya menyadari makna al ihsan itu sehingga dari kesadaran yang berdasarkan pengetahuan itu akan lahir sebuah budaya yang melihat pekerjaan sebagai manifestasi pengabdian kepada Allah SWT.

Daftar Pustaka

Al Quran dan Terjemahnya

Gibson, Rowan, Rethinking the Future. London, Nicholas Brealy Publishing, 1997.

Ibrahim, Anwar, The Asian Renaissance.Singapore, Times BookInternational, 1996.

Iqbal, Sheikh Mohd, Misi Islam.Jakarta, Penerbit Gunung Jati, 1982.

Madjid, Nurcholis, Islam: Doktrin dan Peradaban.Jakarta, YayasanWakaf Paramadina, 1999

Gerakan Dakwah di Era Globalisasi

Oleh Asep Setiawan

I. PENDAHULUAN

Pergulatan pemikiran di lembaga dakwah adalah hal biasa. Konteks sosial dan politik serta perubahan di sekeliling gerakan dakwah itu sering mewarnai berbagai pandangan yang muncul. Oleh karena itu, sebuah pemikiran seyogyanya bisa ditempatkan dalam horison yang lebih luas supaya bisa menempatkannya dalam kerangka dinamika dakwah umat Islam di muka bumi.

Jika kajian gerakan itu ditarik ke arah yang lebih sempit dan terisolasi dari ruang sejarah yang bermunculan di sekitarnya, sulit bisa melahirkan sebuah gerakan yang kontekstual.

Dengan kata lain, gerakan dakwah itu tidak lepas dari determinasi waktu. Namun demikian nilai-nilai sebuah gerakan karena sosialisasi yang luas dan terbuka mungkin muncul pada waktu dan tempat yang berbeda. Oleh karena itu untuk melihat sebuah gerakan dan aksi pemikiran yang merupakan aktualisasi dari tafsiran sebuah nilai normatif perlu dilihat pula perjalanan sejarah gerakan yang mengangkat Islam di muka bumi.

Pemihakan yang berlebihan terhadap sebuah gerakan yang tidak lepas dari kontinum waktu akan menyebabkan mandeknya berpikir dan pengkultusan sehingga suatu saat tidak tahan lagi terhadap arus perubahan zaman. Makalah ini akan meninjau secara singkat, pada bagian pertama, tentang kronologis gerakan kebangkitan Islam yang berusaha untuk mengangkat kembali nilai-nilai luhur Islam dalam tataran praktis di suatu wilayah dan waktu tertentu. Untuk melengkapi tinjauan itu akan diulas pula contoh-contoh aliran pemikiran yang hidup dalam berbagai gerakan dakwah.

II. RESPON UMAT

Kalau kita sejenak melacak akar-akar pemikiran dan kelembagaan gerakan Islam sejak dibawakan Nabi Muhammad Rasulullah kemudian dilanjutkan oleh Khulafaur Rasyidin dan diikuti dengan lahirnya Dinasti Umayah dan Abasiyah dengan ujung kekhalifahan tahun 1927 di Turki, maka kita akan mendapat gambaran yang lebih besar tentang upaya umat Islam untuk menegakkan nilai-nilai yang diyakininya.

Dalam lampiran pertama kita bisa menginterpretasikan sebuah kerangka perjalanan umat Islam bahwa gerakan-gerakan pembaruan dan penyegaran Islam itu lahir karena krisis sosial, ekonomi atau mungkin politik. Ketidakpuasan terhadap lingkungan yang berkembang baik dalam penafsiran, penerapan atau aplikasi nilai Islam dalam kehidupan telah melahirkan berbagai respon dari kalangan umat Islam. Respon itu ada yang berbentu sebuah gerakan dakwah yang kemudian terlembagakan dalam bentukan unit politik yang disebut negara.

Namun ada pula yang meniupkan kebangkitan Islam untuk lepas dari kebodohan, kemiskinan dan penindasan penjajah dari Barat. Dari tabel itu terlihat bahwa upaya umat Islam untuk bangkit tidak hanya muncul di Indonesia. Gerakan itu sudah muncul di berbagai wilayah di muka bumi yang dihuni umat Islam.

Dengan kata lain, gerakan Islam itu bukan eksklusif pertama kali di Indonesia, bukan pula hanya di Indonesia dan umat di tempat lain tidak pernah melakukan hal yang diinginkan seperti umat di Tanah Air. Apalagi kalau rentang waktu dibentangkan sejak Nabi Muhammad membawa obor yang jadi Rahmat Seluruh Alam, maka kita akan menyaksikan betapa gerakan dakwah yang ada di Indonesia itu hanyalah satu titik dari rangkaian seluruh perjuangan umat Islam untuk menyelamatkan umat manusia. Jika gerakan di Indonesia itu diletakkan dalam kerangka waktu sejarah umat manusia sejak Nabi Adam, maka tiadalah artinya. Titiknya bahkan tidak terlihat lagi karena Indonesia sebagai sebuah negara nasional atau unit politik modern yang mengikuti pola Barat baru lahir tahun 1945. Jika kita meneropong sebuah peta pemikiran yang teraktualisasikan dalam lembaga-lembaga dakwah modern maka kita juga bisa menyaksikan berbagai tipologi respon umat terhadap tantangan jaman.

Respon itu ada yang berbentuk kultural sosial dan ada pula yang berbentuk struktural sebagai sebuah pendekatan untuk menegakkan citra Islam di masyarakatnya. Kembali kita lihat bahwa sesungguhnya respon terhadap lingkungan itu menjadi sebuah makna apabila pimpinan gerakan dan elit di sekitarnya mampu menterjemahkan nilai-nilai normatif itu menjadi sebuah petunjuk praktis untuk menyelesaikan persoalan hidup zamannya.

Persoalan hidup pada era globalisasi sekarang telah melahirkan banyak tantangan bagi gerakan dakwah namun masih kurang tersentuh karena sebagian belum menemukan format yang tepat dengan perubahan lingkungan yang merupakan ayat-ayat yang seharusnya dipikirkan dengan akal budi manusia.

III. REVITALISASI

Dari kenyataan sejarah itu timbul pertanyaan apakah kita akan menafikan gerakan dakwah yang muncul di berbagai kawasan dan di kurun waktu yang berbeda untuk menekankan pemilikan sejarah kita ? Atau kita akan terjatuh dalam pengkultusan sejarah kurun waktu tertentu dan menghapus sejarah perjuangan umat Islam lainnya ? Atau mungkin kita hanya berasyik masyuk dengan persoalan sepele tetapi melupakan asas yang sebenarnya tentang dakwah yang membawa rahmat bagi seluruh alam ?

Jika kita kaji secara lebih dalam dan dengan semangat mencari kebenaran dan serta sadar akan keterbatasan dalam mencari kebenaran itu, maka kita akan melihat sesungguhnya penerimaan terhadap struktur, pemikiran dan sejarah sebuah lembaga dakwah seyogyanya ditempatkan dalam kerangka gerakan dakwah dunia. Artinya keterlibatan dalam lembaga dakwah itu bukan soal menerima setengah, sepenuhnya tau menolak setengah dan sepenuhnya melainkan keterlibatan spiritual terhadap misi yang dibawa para Nabi dan Rasul sejak Nabi Adam sampai Rasullah SAW. Mahkamah sejarah nanti akan menyaksikan bahwa keterlibatan itu tidak didasari sebuah pandangan yang menolak eksistensi dan kiprah gerakan dakwah yang muncul di mancanegara dalam kurun waktu yang berbeda-beda.

Namun sebuah penghayatan yang kemudian menimbulkan kekaguman, takjub dan tasbih kepada Sang Maha Pencipta bahwa seluruh proses penegakan itu memang hasil perjuangan umat Islam dari generasi ke generasi sampai akhir jaman.Aktualisasi dalam bentuk budaya organisasi atau budaya bernegara itu hanyalah bagian dari manifestasi kebudayaan manusia, bukan sesuatu yang abadi. Dari jaman ke jaman bentuk komunitas sosial, politik, ekonomi dan budaya mengalami perubahan.

Oleh sebab itu kita akan melihat karya-karya manusia – sehebat dan sebesar apapun, kecuali karya para Nabi dan Rasul – tetap tidak lepas dari konteks sejarah. Karena pada dasarnya manusia itu tidak lepas dari kesempurnaan perjalanan waktu, maka karya-karya dan monumen umat Islam itu harus dimekarkan dan dikembangkan bukan untuk dibawa-bawa sampai lupa bahwa alat organisasi yang berkonteks budaya dan sejarah itu bukan tujuan akhir, tapi sasaran antara.Lalu bagaimana kita menempatkan sebuah pemikiran dan aktualisasinya berupa organisasi ? Kembali kepada pesan Qur’ani untuk membawa Rahmat Bagi Seluruh Alam dalam rangka memakmurkan bumi Ilahi ini maka penghayatan terhadap organisasi itu tetap berada dalam pagar-pagar Islami.

Artinya tidak ada yang mutlak selain penafsiran yang dikeluarkan oleh Allah SWT dan para Rasul Penafsiran manusia sesuci apapun tetap terkurung waktu dan jaman sehingga berkembangnya pemikiran itu adalah sesuatu yang wajar.Jika kita terjemahkan lebih jauh lagi, bermain mutlak-mutlakan apalagi disertai dengan judgement yang kakuakan melahirkan perpecahan dan friksi yang tanpa henti. Perbedaan tidak menjadi rahmat melainkan malapetaka. Hal itu mungkin berakar dari penempatan akal dan pemikirannya dalam menafsirkan nilai-nilai abadi itu secara harga mati.Yang lebih esensial dari perdebatan itu sebenarnya apakah proses dialog itu melahirkan sebuah karya dan aksi yang akan membawa kepada manifestasi nilai-nilai Ilahiah dalam diri, kelompok, masyarakat lokal dan desa global.

Jika pencarian ijtihad itu berhenti dan nilai mutlak ditetapkan sebagai final dari seluruh perjalanan umat, maka kita seperti mengingkari Sunatullah dimana manusia silih berganti mengisi gerakan dakwah itu.Komitmen terhadap misi dasar yang sudah dijalankan dari sejak awal oleh para pendakwah mungkin akan memudahkan dalam mencairkan kebekuan pemikiran baik terhadap sesuatu yang sudah diangkat sakral dalam sejarah atau respon terhadap peristiwa kontemporer seperti friksi dalam lembaga dakwah atau persoalan sosial dan ekonomi yang timbul akibat gaya berorganisasi dan gaya berdakwah.

IV. PENUTUP

Jika kita belajar dari perjalanan umat lebih arif lagi, ternyata salah satu dari sekian butir hikmah yang muncul adalah bahwa dalam perjalanan dakwah, umat selalu diingatkan kepada nilai-nilai dasar dan aktualisinya dalam kehidupan masyarakat.

Di sinilah sikap dewasa dan bijaksana itu diminta kepada para pimpinan umat yang menduduki posisi penting dan membawa aspirasi umat.Dalam era globalisasi seperti sekarang, arus pengetahuan, informasi, modal dan teknologi hilir mudik dengan cepat dari satu kawasan ke kawasan lain, dari satu negeri ke negeri lain. Sepertinya gerakan dakwah mendapat tantangan baru untuk merespon secara tepat tentang bagaimana arus global itu dihadapi dan ditanggapi. Namun tentu saja perlu diidentifikasi lebih dahulu apa yang baik dan buruk untuk terciptanya masyarakat yang penuh dahmat dan diridhai-Nya. Wallahu’alam.

Catatan: tulisan lama di arsip pribadi ini mungkin masih ada manfaatnya untuk menambah referensi.