Profil Pribadi Muslim

Al-Qur’an dan Sunnah merupakan dua pusaka Rasulullah saw yang harus selalu dirujuk oleh setiap muslim dalam segala aspek kehidupan. Satu dari sekian aspek kehidupan yang amat penting adalah pembentukan dan pengembangan peribadi muslim. Peribadi muslim yang dikehendaki oleh Al-Qur’an dan sunnah adalah pribadi yang shaleh, peribadi yang sikap, ucapan dan tindakannya terwarnai oleh nilai-nilai yang datang dari Allah Swt.

Persepsi masyarakat tentang pribadi muslim memang berbeda-beda, bahkan banyak yang pemahamannya sempit sehingga seolah-olah peribadi muslim itu tercermin pada orang yang hanya rajin menjalankan Islam dari aspek ubudiyah, padahal itu hanyalah salah satu aspek yang harus ada pada peribadi seorang muslim. Oleh karena itu standard peribadi muslim yang berdasarkan Al-Qur’an dan sunnah merupakan sesuatu yangwajib dirumuskan, sehingga menjadi acuan bagi pembentukan peribadi muslim.

Bila disederhanakan, sekurang-kurangnya ada sepuluh profil atau ciri khas yang mesti ada pada peribadi seseorang muslim.

1. Salimul Aqidah
Aqidah yang bersih (salimul aqidah) merupakan sesuatu yang sepatutnya ada pada setiap muslim. Dengan aqidah yang bersih, seorang muslim akan memiliki ikatan yang kuat kepada Allah Swt dan dengan ikatan yang kuat itu dia tidak akan menyimpang dari jalan dan ketentuan-ketentuan-Nya. Dengan kebersihan dan kemantapan aqidah, seorang muslim akan menyerahkan segala perbuatannya kepada Allah sebagaimana firman-Nya yang artinya: ‘Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku, semua bagi Allah Tuhan semesta alam‘ (QS 6:162).

Karena memiliki aqidah yang salim merupakan sesuatu yang amat penting, maka dalam da’wahnya kepada para sahabat di Makkah, Rasulullah Saw mengutamakan pembinaan aqidah, iman atau tauhid.

2. Shahihul Ibadah.
Ibadah yang benar (shahihul ibadah) merupakan salah satu perintah Rasul saw yang penting, dalam satu haditsnya; beliau menyatakan: ‘shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat.‘ Dari ungkapan ini maka dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan setiap peribadatan haruslah merujuk kepada sunnah Rasul Saw yang berarti tidak boleh ada unsur penambahan atau pengurangan.

3. Matinul Khuluq.
Akhlak yang kokoh (matinul khuluq) atau akhlak yang mulia merupakan sikap dan prilaku yang harus dimiliki oleh setiap muslim, baik dalam hubungannya kepada Allah maupun dengan makhluk-makhluk-Nya. Dengan akhlak yang mulia, manusia akan bahagia dalam hidupnya, baik di dunia apalagi di akhirat.

Karena begitu penting memiliki akhlak yang mulia bagi umat manusia, maka Rasulullah Saw ditutus untuk memperbaiki akhlak dan beliau sendiri telah mencontohkan kepada kita akhlaknya yang agung sehingga diabadikan oleh Allah di dalam Al-Qur’an, Allah berfirman yang artinya: ‘Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlak yang agung‘ (QS 68:4).

4. Qowiyyul Jismi.
Kekuatan jasmani (qowiyyul jismi) merupakan salah satu sisi peribadi muslim yang harus ada. Kekuatan jasmani berarti seorang muslim memiliki daya tahan tubuh sehingga dapat melaksanakan ajaran Islam secara optimal dengan fisiknya yang kuat. Shalat, puasa, zakat dan haji merupakan amalan di dalam Islam yang harus dilaksanakan dengan fisik yang sehat atau kuat, apalagi perang di jalan Allah dan bentuk-bentuk perjuangan lainnya.

Oleh karena itu, kesiatan jasmani harus mendapat perhatian seorang muslim dan pencegahan dari penyakit jauh lebih utama daripada pengobatan. Meskipun demikian, sakit tetap kita anggap sebagai sesuatu yang wajar bila hal itu kadang-kadang terjadi, dan jangan sampai seorang muslim sering sakit. Karena kekuatan jasmani juga termasuk yang penting, maka Rasulullah saw bersabda yang artinya: ‘Mu’min yang kuat lebih aku cintai daripada mu’min yang lemah‘ (HR. Muslim).

5. Mutsaqqoful Fikri
Intelek dalam berfikir (mutsaqqoful fikri) merupakan salah satu sisi peribadi muslim yang penting. Karena itu salah satu sifat Rasul adalah fatonah (cerdas) dan Al-Qur’an banyak mengungkap ayat-ayat yang merangsang manusia untuk berpikir, misalnya firman Allah yang artinya: Mereka bertanya kepadamu tentang, khamar dan judi. Katakanlah: ‘pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.’ Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: ‘Yang lebih dari keperluan.‘ Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir (QS 2:219).

Di dalam Islam, tidak ada satupun perbuatan yang harus kita lakukan, kecuali harus dimulai dengan aktiviti berfikir. Karenanya seorang muslim harus memiliki wawasan keislaman dan keilmuan yang luas. Dapat kita bayangkan, betapa bahayanya suatu perbuatan tanpa mendapatkan pertimbangan pemikiran secara matang terlebih dahulu.

Oleh karena itu Allah mempertanyakan kepada kita tentang tingkatan intelektualitas seseorang sebagaimana firman-Nya yang artinya: Katakanlah: “samakah orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui?”, sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran (QS 39:9).

6. Mujahadatul Linafsihi.
Berjuang melawan hawa nafsu (mujahadatul linafsihi) merupakan salah satu kepribadian yang harus ada pada diri seorang muslim, karena setiap manusia memiliki kecenderungan pada yang baik dan yang buruk. Melaksanakan kecenderungan pada yang baik dan menghindari yang buruk amat menuntut adanya kesungguhan dan kesungguhan itu akan ada manakala seseorang berjuang dalam melawan hawa nafsu.

Oleh karena itu hawa nafsu yang ada pada setiap diri manusia harus diupayakan tunduk pada ajaran Islam, Rasulullah Saw bersabda yang artinya: Tidak beriman seseorang dari kamu sehingga ia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (ajaran islam) (HR. Hakim).

7. Harishun Ala Waqtihi.
Pandai menjaga waktu (harishun ala waqtihi) merupakan faktor penting bagi manusia. Hal ini karena waktu itu sendiri mendapat perhatian yang begitu besar dari Allah dan Rasul-Nya. Allah Swt banyak bersumpah di dalam Al-Qur’an dengan menyebut nama waktu seperti wal fajri, wad dhuha, wal asri, wallaili dan sebagainya.

Allah swt memberikan waktu kepada manusia dalam jumlah yang sama setiap, yakni 24 jam sehari semalam. Dari waktu yang 24 jam itu, ada manusia yang beruntung dan tak sedikit manusia yang rugi. Karena itu tepat sebuah semboyan yang menyatakan: ‘Lebih baik kehilangan jam daripada kehilangan waktu.‘ Waktu merupakan sesuatu yang cepat berlalu dan tidak akan pernah kembali lagi.

Oleh karena itu setiap muslim amat dituntut untuk memanaj waktunya dengan baik, sehingga waktu dapat berlalu dengan penggunaan yang efektif, tak ada yang sia-sia. Maka diantara yang disinggung oleh Nabi Saw adalah memanfaatkan momentum lima perkara sebelum datang lima perkara, yakni waktu hidup sebelum mati, sehat sebelum sakit, muda sebelum tua, rehat sebelum sibuk dan kaya sebelum miskin.

8. Munazhzhamun fi Syuunihi.
Teratur dalam suatu urusan (munzhzhamun fi syuunihi) termasuk kepribadian seorang muslim yang ditekankan oleh Al-Qur’an maupun sunnah. Oleh karena itu dalam hukum Islam, baik yang terkait dengan masalah ubudiyah maupun muamalah harus diselesaikan dan dilaksanakan dengan baik. Ketika suatu urusan ditangani secara bersama-sama, maka diharuskan bekerjasama dengan baik sehingga Allah menjadi cinta kepadanya.

Dengan kata lain, suatu urusan dikerjakan secara profesional, sehingga apapun yang dikerjakannya, profesionalisme selalu mendapat perhatian darinya. Bersungguh-sungguh, bersemangat dan berkorban, adanya penerusan dan berilmu pengetahuan merupakan diantara yang mendapat perhatian secara serius dalam menunaikan tugas-tugasnya.

9. Qodirun Alal Kasbi.
Memiliki kemampuan usaha sendiri atau yang juga disebut dengan kekuasaan (qodirun alal kasbi) merupakan ciri lain yang harus ada pada seorang muslim. Ini merupakan sesuatu yang amat diperlukan. Mempertahankan kebenaran dan berjuang menegakkannya baru boleh dilaksanakan bilakala seseorang memiliki kekuasaan, terutama dari segi ekonomi. Tak sedikit seseorang mengorbankan prinsip yang telah dianutnya karena tidak memiliki kemandirian dari segi ekonomi. Kareitu pribadi muslim tidaklah mesti miskin, seorang muslim boleh saja kaya raya bahkan memang harus kaya agar dia bisa menunaikan haji dan umrah, zakat, infaq, shadaqah, dan mempersiapkan masa depan yang baik. Oleh karena itu perintah mencari nafkah amat banyak di dalam Al-Qur’an maupun hadits dan hal itu memiliki keutamaan yang sangat tinggi.

Dalam kaitan menciptakan kekuasaan inilah seorang muslim amat dituntut memiliki keahlian apa saja yang baik, agar dengan keahliannya itu menjadi sebab baginya mendapat rizki dari Allah Swt, karena rizki yang telah Allah sediakan harus diambil dan mengambilnya memerlukan skill atau ketrampilan.

10. Nafi’un Lighoirihi.
Bermanfaat bagi orang lain (nafi’un lighoirihi) merupakan sebuah tuntutan kepada setiap muslim. Manfaat yang dimaksud tentu saja manfaat yang baik sehingga dimanapun dia berada, orang disekitarnya merasakan keberadaannya karena bermanfaat besar. Maka jangan sampai seorang muslim adanya tidak menggenapkan dan tidak adanya tidak mengganjilkan. Ini berarti setiap muslim itu harus selalu berpikir, mempersiapkan dirinya dan berupaya semaksima agar dapat bermanfaat dalam hal-hal tertentu sehingga jangan sampai seorang muslim itu tidak bisa mengambil peranan yang baik dalam masyarakatnya.

Dalam kaitan inilah, Rasulullah saw bersabda yang artinya: sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Qudhy dari Jabir).

Demikian secara umum profil seorang muslim yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan hadits, sesuatu yang perlu kita renungkan pada diri kita masing-masing.

 

Iklan

Pintu Neraka

Dipetik dari buku “Peringatan Bagi Yg Lalai“)
~Tanbihul Qhafillin~

Yazid Arraqqasyi dari Anas bin Malik ra. berkata:
Jibril datang kepada Nabi saw pada waktu yg ia tidak
biasa datang dalam keadaan berubah mukanya, maka
ditanya oleh nabi s.a.w.: “Mengapa aku melihat kau
berubah muka?“
Jawabnya: “Ya Muhammad, aku datang kepadamu di saat
Allah menyuruh supaya dikobarkan penyalaan api neraka,
maka tidak layak bagi orang yg mengetahui bahawa
neraka Jahannam itu benar, dan siksa kubur itu benar,
dan siksa Allah itu terbesar untuk bersuka-suka
sebelum ia merasa aman daripadanya.“

Lalu nabi s.a.w. bersabda: “Ya Jibrail, jelaskan
padaku sifat Jahannam.“

Jawabnya: “Ya. Ketika Allah menjadikan Jahannam, maka
dinyalakan selama seribu tahun, sehingga merah,
kemudian dilanjutkan seribu tahun sehingga putih,
kemudian seribu tahun sehingga hitam, maka ia hitam
gelap, tidak pernah padam nyala dan baranya. Demi
Allah yg mengutus engkau dengan hak, andaikan terbuka
sebesar lubang jarum nescaya akan dapat membakar
penduduk dunia semuanya kerana panasnya.

Demi Allah yg mengutus engkau dengan hak, andaikan
satu baju ahli neraka itu digantung di antara langit
dan bumi nescaya akan mati penduduk bumi karena panas
dan basinya.

Demi Allah yg mengutus engkau dengan hak, andaikan
satu pergelangan dari rantai yg disebut dalam
Al-Qur\’an itu diletakkan di atas bukit, nescaya akan
cair sampai ke bawah bumi yg ke tujuh. Demi Allah yg
mengutus engkau dengan hak, andaikan seorang di hujung
barat tersiksa, niscaya akan terbakar orang-orang yang
di hujung timur kerana sangat panasnya, Jahannam itu
sangat dalam dan perhiasannya besi, dan minumannya air
panas campur nanah, dan pakaiannya potongan-potongan
api.

Api neraka itu ada tujuh pintu, tiap-tiap pintu ada
bahagiannya yang tertentu dari orang laki-laki dan
perempuan.
Nabi s.a.w. bertanya: “Apakah pintu-pintunya bagaikan
pintu-pintu rumah kami?“

Jawabnya: “Tidak, tetapi selalu terbuka, setengahnya
di bawah dari lainnya, dari pintu ke pintu jarak
perjalanan 70,000 tahun, tiap pintu lebih panas dari
yang lain 70 kali ganda.“ (nota kefahaman: yaitu yg
lebih bawah lebih panas).

Tanya Rasulullah s.a.w.: “Siapakah penduduk
masing-masing pintu?“

Jawab Jibril: “Pintu yg terbawah untuk orang-orang
munafik, dan orang- orang yg kafir setelah diturunkan
hidangan mukjizat nabi Isa a.s. serta keluarga Fir’aun
sedang namanya Al-Hawiyah.

Pintu kedua tempat orang-orang musyrikin bernama
Jahim,
Pintu ketiga tempat orang shobi’in bernama Saqar.
Pintu keempat tempat Iblis dan pengikutnya dari kaum
majusi bernama Ladha,
Pintu kelima orang yahudi bernama Huthomah.
Pintu ke enam tempat orang nasara bernama Sa’eir.“

Kemudian Jibril diam segan pada Rasulullah s.a.w.
sehingga ditanya:“Mengapa tidak kau terangkan
penduduk pintu ke tujuh?“

Jawabnya: “Di dalamnya orang-orang yg berdosa besar
dari ummatmu yg sampai mati belum sempat bertaubat.“

Maka nabi s.a.w. jatuh pingsan ketika mendengar
keterangan itu, sehingga Jibrail meletakkan kepala
nabi s.a.w. di pangkuannya sehingga sadar kembali dan
sesudah sadar nabi saw bersabda: “Ya Jibril, sungguh
besar kerisauanku dan sangat sedihku, apakah ada
seorang dari ummat ku yang akan masuk ke dalam
neraka?“

Jawabnya: “Ya, yaitu orang yg berdosa besar dari
ummatmu.“

Kemudian nabi s.a.w. menangis, Jibrail juga menangis,
kemudian nabi s.a.w. masuk ke dalam rumahnya dan tidak
keluar kecuali untuk sholat kemudian kembali dan tidak
berbicara dengan orang dan bila sholat selalu menangis
dan minta kepada Allah.  

Dari Hadith Qudsi:

“Bagaimana kamu masih terus melakukan maksiat
sedangkan kamu tidak tahan dengan panasnya terik
matahariKu ???. Tahukah kamu bahwa neraka jahanamKu
itu:

1. Neraka Jahanam itu mempunyai 7 tingkat
2. Setiap tingkat mempunyai 70,000 daerah
3. Setiap daerah mempunyai 70,000 kampung
4. Setiap kampung mempunyai 70,000 rumah
5. Setiap rumah mempunyai 70,000 bilik
6. Setiap bilik mempunyai 70,000 kotak
7. Setiap kotak mempunyai 70,000 batang pokok zarqum
8. Di bawah setiap pokok zarqum mempunyai 70,000 ekor
ular
9. Di dalam mulut setiap ular yang panjang 70 hasta
mengandungi lautan racun yang hitam pekat.
10.Juga di bawah setiap pokok zarqum mempunyai 70,000
rantai
11.Setiap rantai diseret oleh 70,000 malaikat”

Ya Allah, ampunilah kami… jangankanlah Engkau
masukkan kami ke dalam Neraka….

Wawllahu a’lam bishowab

Berlomba-lomba dalam Kebaikan

 

Di dalam Al-Qur’an, baik atau kebaikan menggunakan kata ‘ihsan’, ‘birr’, dan ‘ishlah’. Kata ‘ihsan’ (‘ahsan’ dan ‘muhsin) bisa dilihat pada firman Allah:

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan dan mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.” (QS 4: 125)

Bila dikaitkan dengan definisi ‘ihsan’ dalam hadits kedatangan Jibril kepada Nabi Muhammad SAW, maka ihsan adalah perbuatan baik yang dilakukan oleh seseorang karena merasakan kehadiran Allah dalam dirinya atau dia merasa diawasi oleh Allah SWT yang membuatnya tidak berani menyimpang dari segala ketentuan-Nya.

Sedangkan kata baik dalam arti ‘birr’ bisa dilihat pada firman Allah:

“Bukanlah sekedar menghadapkan wajahmu ke timur maupun ke barat yang disebut suatu kebaikan, tetapi sesungguhnya kebaikan itu ialah beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat, kitab dan nabi-nabi serta memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS 2: 177).

Bila kita kaji ayat-ayat tentang kata ‘al birr’, termasuk ayat di atas, maka akan didapat kesimpulan bahwa kebaikan itu – menurut Mahmud Syaltut dalam tafsirnya – dibagi menjadi tiga, yakni ‘birr’ dalam aqidah, ‘birr dalam amal dan ‘birr’ dalam akhlak.

Adapun kata baik dengan menggunakan kata ‘ishlah’ terdapat dalam banyak ayat, misalnya pada firman Allah:

“Tentang dunia dan akhirat. Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim, katakanlah: mengurus urusan mereka secara patut adalah baik.” (QS 2: 220)

Istilah ‘ishlah’ (berlaku baik) digunakan dalam kaitan hubungan antara sesama manusia. Dalam Ensiklopedia Hukum Islam, jilid 3 hal 740 dinyatakan, “Ishlah merupakan kewajiban umat Islam, baik secara personal maupun sosial. Penekanan ishlah ini lebih terfokus pada hubungan antara sesama umat manusia dalam rangka pemenuhan kewajiban kepada Allah SWT.”

Di dalam Al-Qur’an, Allah SWT menegaskan bahwa manusia diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Namun, kemuliaan manusia ternyata tidak terletak pada keindahan fisiknya. Kalau manusia dianggap mulia dengan sebab badannya yang besar, tentu akan lebih mulia binatang ternak seperti sapi, kerbau, unta, gajah dan sebagainya yang memiliki berat badan jauh lebih berat. Karenanya bila manusia hanya mengandalkan kehebatan dan keagungan dirinya pada berat badan, maka dia bisa lebih rendah kedudukannya daripada binatang ternak yang kemuliaannya terletak pada berat badannya. Allah SWT berfirman:

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS 7: 179).

Oleh karena itu, kemuliaan manusia bisa kita pahami dari iman dan amal shaleh atau kebaikannya dalam bersikap dan bertingkah laku, di manapun dia berada dan dalam keadaan bagaimanapun situasi dan kondisinya. Itu sebabnya, semakin banyak perbuatan baik yang dilakukannya, maka akan semakin mulia harkat dan martabatnya di hadapan Allah SWT. Di sinilah letak pentingnya bagi kita untuk berlomba-lomba dalam kebaikan sebagaimana firman Allah:

“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS 2: 148).

Jalan Menuju Amal Baik

Meskipun kebaikan kita sadari sebagai sesuatu yang harus kita laksanakan, ternyata hanya sedikit orang yang antusias untuk melakukan kebaikan itu. Karena itu, ada beberapa hal yang bisa dijadikan resep bagi seseorang agar bersemangat melakukan kebaikan.

Niat Yang Ikhlas

Niat yang ikhlas merupakan faktor penting dalam setiap amal. Karena di dalam Islam, niat yang ikhlas merupakan rukun amal yang pertama dan terpenting. Niat yang ikhlas karena Allah dalam melakukan kebaikan akan membuat seseorang memiliki perasaan yang ringan dalam mengerjakan amal-amal yang berat sekalipun, apalagi bila amal kebaikan itu tergolong amal yang ringan. Sedangkan tanpa keikhlasan, jangankan amal yang berat, amal yang ringan pun akan terasa berat. Di samping itu, keikhlasan akan membuat seseorang berkesinambungan (‘istimrar’) dalam melakukan amal kebaikan. Orang yang ikhlas tidak akan bertambah semangat hanya karena dipuji dan tidak akan melemah karena dicela. Adanya pujian atau celaan tidak akan mempengaruhi semangatnya dalam melakukan kebaikan.

Cinta Kebaikan Dan Orang Baik.

Seseorang akan antusias melaksanakan kebaikan manakala pada dirinya terdapat rasa cinta pada kebaikan. Karena mana mungkin seseorang melakukan suatu kebaikan apabila dia sendiri tidak suka pada kebaikan itu. Oleh karena itu, rasa cinta pada kebaikan harus kita tanamkan ke dalam jiwa kita masing-masing sehingga kita menjadikan setiap bentuk kebaikan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan kita. Sehingga kebaikan akan selalu menyertai kehidupan ini.

Di samping cinta kepada kebaikan, agar kita suka melakukan kebaikan, harus tertanam juga di dalam jiwa kita rasa cinta kepada siapa saja yang berbuat baik. Hal ini akan membuat kita ingin selalu meneladani dan mengikuti segala bentuk kebaikan, siapa pun yang melakukannya. Allah SWT telah menyebutkan kecintaan-Nya kepada siapa saja yang berbuat baik, karenanya kita pun harus mencintai mereka yang berbuat baik, Allah berfirman:

“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.” (QS 2: 195).

Merasa Beruntung Bila Melakukan

Berbuat baik merupakan sesuatu yang sangat mulia dan seseorang akan bersemangat melakukan kebaikan apabila dengan kebaikan itu dia merasa yakin memperoleh keberuntungan, baik di dunia maupun di akhirat. Ada banyak keuntungan yang akan diperoleh manusia bila ia berbuat baik.

Pertama, selalu disertai oleh Allah SWT, lihat QS 16: 128.
Kedua, menambah kenikmatan untuknya, lihat QS 2: 58, 7: 161, 33: 29.
Ketiga, dicintai Allah, lihat QS 7: 161, 5: 13, 2: 236, 3: 134, 3: 148, 5: 96.
Keempat, memperoleh rahmat Allah, lihat QS 7: 56.
Kelima, memperoleh pahala yang tidak disia-siakan Allah SWT, lihat QS 9: 120, 11: 115, 12: 56.
Keenam, dimasukkan ke dalam surga, lihat QS 5: 85, 39: 34, 6: 84, 12: 22, 28: 14, 37: 80.

Merasa Rugi Bila Meninggalkan

Apabila seseorang merasa beruntung dengan kebaikan yang dilakukannya karena sejumlah keutamaan yang disebutkan dalam Al-Qur’an, maka bila seseorang tidak berbuat baik dia akan merasa sangat rugi, baik di dunia ini maupun di akhirat kelak. Bagi seorang mukmin, bagaimana mungkin dia tidak merasa rugi bila tidak melakukan kebaikan, karena kehidupan ini memang harus dijalani untuk mengabdi kepada Allah SWT yang merupakan puncak dari segala bentuk kebaikan yang harus dijalani.

Manakala di dunia ini seseorang sudah merasa rugi, maka di akhirat pun dia akan merasa rugi, karena apa yang dilakukan seseorang dalam kehidupannya di dunia akan sangat berpengaruh pada kehidupannya di akhirat, karena kehidupan akhirat pada hakikatnya adalah hasil dari kehidupan di dunia. Bila seseorang berlaku baik di dunia, dia akan memperoleh keberuntungan di akhirat di samping keberuntungan di dunia, sedangkan bila seseorang tidak melakukan kebaikan di dunia, maka dia akan memperoleh kerugian di dunia dan penyesalan yang sangat dalam di akhirat kelak sebagai akibat dari pengabaian nilai-nilai Islam, Allah SWT berfirman yang artinya, “Barang siapa mencari selain Islam sebagai agamanya, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.”

Meneladani Generasi Yang Baik

Perbuatan baik dan yang lebih baik lagi akan dilakukan oleh seorang muslim apabila dia mau meneladani orang yang berbuat baik. Hal ini menjadi penting karena dengan demikian dia menyadari bahwa meskipun ia merasa sudah banyak perbuatan baik yang dilakukannya, tetap saja dia merasa masih sedikit dibanding orang lain yang jauh lebih baik dari dirinya. Sehingga akan memicu semangatnya untuk berbuat baik yang lebih banyak lagi. Karena itu, idealnya seorang mukmin bisa menjadi seperti cermin bagi mukmin lainnya sehingga manakala seseorang mengenal dan memperhatikan dirinya secara seksama akan terasa begitu banyak kekurangan, termasuk dalam hal berbuat baik.

Memahami Ilmu Kebaikan

Bagi seorang muslim, setiap amal yang dilakukannya tentu harus didasari pada ilmu, semakin banyak ilmu yang dimiliki, dipahami dan dikuasai, maka insya Allah akan makin banyak amal yang bisa dilakukannya. Sedangkan semakin sedikit pemahaman atau ilmu seseorang, akan semakin sedikit juga amal yang bisa dilakukannya. Apalagi orang yang mempunyai ilmu belum tentu secara otomatis bisa mengamalkannya. Ini berarti, seseorang akan semakin terangsang untuk melakukan kebaikan manakala dia memahami ilmu tentang kebaikan itu.

Kebaikan Yang Diterima

Setiap kebaikan yang dilakukan seseorang tentu harus menghasilkan penilaian yang positif dari Allah SWT. Paling tidak, ada dua kriteria tentang kebaikan yang diterima oleh Allah SWT.

Pertama, ikhlas dalam beramal, yakni melakukan suatu amal dengan niat semata-mata karena Allah SWT, atau tidak riya dalam arti mengharap pujian dari selain Allah SWT. Karena itu, dalam hadits yang terkenal, Rasulullah Saw bersabda yang artinya, “Sesungguhnya amal itu sangat tergantung pada niatnya.”

Kedua, melakukan kebaikan itu secara benar, karena meskipun niat seseorang sudah baik, bila ia melakukan amal dengan cara yang tidak benar, maka hal itu tetap tidak bisa diterima oleh Allah SWT. Sebab hal itu termasuk bagian dari mencari selain Islam sebagai agama, yang jelas-jelas akan ditolak Allah SWT sebagaimana yang sudah disebutkan pada QS 3: 85 di atas.

Akhirnya, menjadi jelas bagi kita bahwa hidup ini harus kita jalani semata-mata untuk mengabdi kepada Allah SWT (QS 51: 56) yang salah satunya terwujud dalam bentuk melakukan kebaikan. Dan masing-masing orang harus berusaha melakukan kebaikan sebanyak mungkin sebagai perwujudan kehidupan yang baik di dunia dan ini pula yang akan menjadi bekal bagi manusia dalam menjalani kehidupannya di akhirat kelak.

 

Wallahu a’lam

The Battle of Mu’ta

This is my first visit to Jordan and I am honored to visit the resting place of Ja’far (RA), and Zaid Ibn-Haritha (RA), and the site of the battle of Mu’ta. I would like to express my happiness with this gathering and tell you that I am also honored to be among you.

I know very well that you are familiar with the battle of Mu’ta, but I would like to remember it with you. I would like to remember Ja’far (RA), Zaid Ibn-Haritha (RA), and Abdullah Ibn-Ruwaha (RA). I’m sure that you already know the information I am about to mention, but sometimes when people are living in a certain place and get used to it and they don’t realize how special that place is. So although you are near the martyrs who are now in Paradise, you may not be fully aware of that fact.

I feel that as soon as we remember these three companions, people will be more attached to them. They are, Ja’far, Zaid Ibn-Haritha and Abdullah Ibn-Ruwaha (RA).

Listening to this information, which you may be familiar with, will make you think of this place with more sacredness, solemnity and respect.

Do you know how many companions witnessed Mu’ta?

They were 3000 against 200,000 of Romans and Ghassanians. It was almost an impossible mission! The companions, therefore, met for two days prior to the battle to discuss and exchange opinions on how to face this enormous number… Should they face this hostile army or will that be unwise?

After two days of consultation there were three opinions:

Return to the Prophet (PBUH) to tell him they were not able to face the army of two hundred thousand men.

Send to the Prophet (PBUH) asking for back-up support.

Face the army and engage into battle.

All of the companions rejected the first option completely. They couldn’t imagine that they can go back to the Prophet (PBUH) who sent them for Jihad in the cause of Allah, and tell him that they could not take on Jihad.

The second option was not approved either as there could be no additional help because those 3000 companions were all that were available.

Confrontation was the only option left!

But how can 3000 men face 200,000? Although this was the only option left, the companions were not so sure about it.

This is where Abdullah Ibn-Ruwaha (RA) stepped in…

He said, “O People, the thing you are afraid of now is the very thing you came for… By Allah, we do not fight our enemies with our numbers or weapons, but we fight them with this religion which Allah has honoured us with!”

And they replied “In Allah we trust!”

What took place in Mu’ta represents the greatest military plan in history and is therefore being taught until this day in military schools in Europe and America… What took place can never happen again. There is nobody on Earth braver, more daring, stronger or more sincere than those three thousands men.

You are living on this land, I warn you against not having a share of the morals of the companions who attended Mu’ta!

Then it was the turn of Zaid Ibn-Haritha (RA) the army commander who came with the idea of seeking a narrow closed plain so as not to face all 200,000 men all at once. So he chose Mu’ta…

And the battle started…200,000 against 3000 …

Logically speaking… how long would such a battle be expected to last? 10 minutes for instance?

The goal behind the plan of seeking a narrow plain was to restrict the battle area and to force the Romans to attack the Muslims with a small number of men equal to the number of the Muslims army as the place does not allow for more… because if the Romans confronted the Muslims in an open extended dessert, they would easily wipe them out.

Thus, the battle started on that narrow plain which was surrounded by mountains from three sides, and the Romans had to divide themselves into groups one after the other, each group consisted of 3000 soldiers.

And this way, Zaid (RA) disabled most of the Roman army.

Combat used to start from after the Dawn prayer and continue until the Sunset prayer, and then they would rest for the following day… But how many days did the battle continue? Six days! Six days with two armies, one consisting of 200,000 soldiers and the other of only 3000!

It is Faith that works wonders …it’s the total trust in Allah and the love for Islam.

This land has witnessed a heroism that will remain eternal until the Day of Judgment.

The people of this land must feel this and realize it.

All through the war, which lasted for six days with the Muslims winning, the Romans began to doubt them and question whether they were human beings or Jinn. They just wouldn’t die! The Romans were so confused by the nature of their opponents that they actually decided to examine the body of one of the Muslims soldiers they killed. When they did so, they found him bleeding and they became certain that these were human beings.

The Romans sent to their king for more help… Heraclius said, “By God, if these people were as they are saying, Muhammad will inherit my kingdom soon”. Indeed his kingdom came to an end only ten years later!

How will a person, who is far from Allah (SWT) or whom Islam is not precious to him, live on this land? This is the land that witnessed the glory of Islam. Anyone living here has no choice but to be certain that Allah (SWT) will glorify Islam…for this is where 3000 men confronted 200,000 men and won. All of this despite the fact that the Romans were the super-power at the time!

The Roman Commander was called Malik Ibn-Rafila. On the sixth day of battle he decided to change his tactics. He thought the reason behind the power of the Muslim army was the flag carrier; the army commander Zaid Ibn-Haritha (RA). So he decided to kill him. Therefore the battle on that day was fought only to get Zaid (RA).

The 200,000 soldiers were trying to kill him while the other three thousand were defending him. The battle was fierce and crowded to the extent that it was difficult to move with the horses among the Romans who were concentrating to kill Zaid (RA), and the Muslims who were resolved to defend him. In the middle of all this, Zaid (RA) was standing firm! Spears targeted him from everywhere, but he remained still and did not move. Then the first spear pierced his shoulder! If only you could know the heavy weight of a spear, and what unbearable pain it inflicts! However, the companions later said that although the spear had hit his shoulder he still did not move, and stood firm.

The spears then started to follow one another, until his body became like a sieve!

The Prophet (PBUH) was in Madinah describing the battle as it was happening there live. He said, “Allah has raised the land for me to see their battle”, and this was one of our Prophet’s miracles.

Did you see how Allah (SWT) has raised your land for the Prophet (PBUH) to be able to see it from Madinah? This is the land you live upon! Treat this great land as it should be treated… Never commit a sin here. This a land of heroism… a land of martyrdom… a land that Allah (SWT) and His Prophet (PBUH) love, otherwise Allah (SWT) would not have honored it by burying all those noble martyrs in it. Please give this land its due appreciation and respect… You have to feel a sense of belonging towards those companions. They are our role models, our grandfathers and our beloved… Keep visiting them…

So the Prophet (PBUH) said, “Allah Has raised the land for me to see their fight… Zaid Ibn-Haritha carried the flag, I see him now fighting for the cause of Allah…he was martyred…I can see him now in Paradise!”

Did you see this? He entered Paradise as soon as he was martyred!

Then came the next hero, our beloved Ja’far Ibn-Abi Talib (RA)… who bore the closest resemblance to the Prophet (PBUH) not only in his looks, but in his manners as well. The Prophet (PBUH) use to tell him, “You resemble my looks and my manners”. It was Ja’far (RA) the father of the poor, the generous, the bountiful and charitable… he used to break the honey jar to feed the poor to the last drop in it.

Take him as a role model…He is “Flying Ja’far”. Do you realize now who is buried in your neighborhood, in your country? He was the beloved of the messenger of Allah (PBUH). When Ja’far (RA) returned from Abyssinia, the Prophet (PBUH) said while embracing him, “By Allah we do not know with which to be happier, by the conquest of Khaibar or the return of Ja’far!”

The Prophet (PBUH) was never seen weeping for anyone more than he wept for the deaths of Hamza and Ja’far (RA)!

The flag was then with Ja’far (RA), and he started reciting a few verses of poetry while fighting, “How welcome is Paradise and its nearness … it is so good and its drink is so cool. The Romans are approaching to make us suffer… but it is I, I who will make them suffer!”

He dismounted from his horse, and started to fight on foot due to the crowded battlefield. It is utmost courage for the flag carrier to fight on foot. The spears rained on him until a Roman soldier came and hit him with his sword chopping off his right hand, but he quickly carried the flag in his left hand. Then his left hand was also chopped off, so he hugged the flag with what remained from his arms! It was as if to say that the flag of Islam will not go down as long as I live! Then he was hit again and again until he was killed.

Abdullah Ibn- Omar said, “ I looked at the chest of Ja’far Ibn-Abi Talib and I found more than 70 stabs, and when I turned him around I did not see a single one!”

Do you see how brave he was? He never turned away from the stabs hitting his chest!!

When you visit his grave, talk to him, say, “Peace be upon you, O my beloved and the beloved of the messenger of Allah (PBUH). O Ja’far Ibn-Abi Talib, you preceded me, and Allah (SWT) Willing, and I will follow you.”

O Allah let us be with him in Paradise.

Ask Allah (SWT) to make you a companion of Ja’far Ibn-Abi Talib, but you have to sense his personality very well while asking.

Have you ever seen someone who loves Islam to that extent? There are people who pray, fast and even do voluntary acts of worship. There are also others who have been praying in mosques for 30 years or so, but when the issue of loving Islam is raised, they might not have it. There are also people whose worship might not be that much, but their hearts are filled with the love for Islam, and passion for the religion of Allah (SWT).

We saw this love in Ja’far (RA) who did not mind loosing both his hands, one after the other, because all he was thinking about was Islam.

As we said before, the Prophet (PBUH) was relating the events in Madinah. He said, “Zaid Ibn-Haritha took the flag, I see him now fighting for the cause of Allah…he is martyred…I can see him now in Paradise! Then Ja’far Ibn-Abi Talib took the flag. I see him fighting for the cause of Allah. They cut his right hand so he carried the flag in his left hand… they cut his left hand… he is holding the flag with what remained from his arms. They killed him! I see him now in Paradise…flying with two ruby wings; Allah replaced his arms with ruby wings! I see him now drinking from the rivers of Paradise, and eating from the fruits of Paradise, and then he resorts to lanterns under the Throne of the Most Merciful!”

The companions said, when we looked at the Prophet, he was weeping out of love for Ja’far (RA)!

And now the third hero rushed to carry the flag. It was Abdullah Ibn-Ruwaha (RA), but he lingered just for a moment. It was as if having seen the two commanders preceding him die, he asked himself whether to proceed or not… but he decided to enter. The Prophet (PBUH) said, “Abdullah Ibn-Ruwaha carried the flag, but lingered for a moment.”

The Ansar wept bitterly, because the first two men were from the Muhajireen, while Abdullah (RA) was the only commander from the Ansar. They wanted him to be as manly and heroic as the first two. He lingered for just “a moment”, but it was counted and related in history until this day!

There are those who delay the Fajr prayer for years, and there are women who hesitate to obey Allah (SWT) for years, and there are those who linger to pray in the mosque! So you cannot blame Abdullah Ibn-Ruwaha (RA) because he was facing death!

He wanted to strengthen his resolve, so he recited the following verses of poetry:

“Go and Fight O self, or else I will force you to!

Why is it that I see Paradise not attractive to you?

O self, even if you aren’t killed, you’ll still die one day.

And this is the fire of death coming your way!

What you’ve asked for, you have received,

Do as those two did, and you will surely succeed!”

He then carried the flag and charged in. He met his cousin (who was in charge of motivating the soldiers and bringing them food and water) who offered him a piece of meat and told him, “Eat Ibn-Ruwaha, you have been fighting for six days!” Abdullah (RA) took a bite, then looked at the food and said, “What is this Ibn-Ruwaha? Are you still in this world? By Allah you should not be here, don’t you want to meet with your two friends?”

He then carried the flag and fought and was martyred.

As we said, the Prophet (PBUH) was relating the events. He said, “Abdullah Ibn-Ruwaha carried the flag, but lingered for a moment, then charged in and fought and was martyred…I see him now in Paradise.”

Do you see how special Abdullah Ibn-Ruwaha (RA) was?

The Prophet proceeded then to tell them about the three men.

“I see Zaid Ibn-Haritha on a golden bed in Paradise, and I see Ja’far Ibn-Abi Talib next to him on a golden bed, and I see Abdullah Ibn-Ruwaha on a golden bed, but the bed of Ibn-Ruwaha is slightly below the level of the beds of his two friends.” The companions asked, “Why, O messenger of Allah?” He answered, “He lingered for a moment!”

Paradise has levels, if someone who lingered for a moment was lowered a level, what about those who lingered for ten years?

Prophet Muhammad (PBUH) once said, “The people in Paradise will look up to the people in the lofty mansions of Paradise as one of you would look up to a star far in the sky.”

When you find a chance to obey Allah (SWT), do not linger but take it immediately. If you lingered seek forgiveness because you lost a level, will you be able to catch up?

The flag now fell from Ibn-Ruwaha (RA), but the Prophet (PBUH) hadn’t specified the chain of commanders before the battle except up to those three, he told the army to choose whom they want after that if the three of them died. So Thabit Ibn-Al-Aqram (RA), one of the companions who attended Badr, took the flag, and cried at the top of his voice, “O father of Sulaiman, O father of Sulaiman!” He was calling Khaled Ibn- Al-Waleed (RA)! Khaled Ibn- Al-Waleed (RA) came and said, “Yes, Thabit, what is it?” Thabit replied, “Carry the flag!” Khaled said, “No, Thabit. You deserve it more than I do. You are a man who attended Badr, and I was a disbeliever on that day.”

Do you see how sincere Khaled (RA) was? But Thabit (RA) who was even more sincere said, “By Allah, Khaled, I did not take it except to give it to you!” Do you see this manliness? Khaled (RA) then carried the flag and continued to fight through the sixth day, the day when those three were martyred.

This was in the month of Jamad Awal, in the 8th year after Hijra. Khaled (RA) said, on the day of Mu’ta, or the 6th day of battle, 9 swords were broken in my hand!

Can you imagine that? A sword is something passed down among tribes, generation after generation, and is fought with for years, how can 9 swords break in his hand on a single day? He even fought with two swords at once, one in his right hand and the other in his left!!

Do you know now who those companions were who walked on your land? Who can believe that we are now walking on a land that Khaled Ibn- Al-Waleed (RA) and many other companions had walked on?

Be careful not to sin, because you might sin in a place where the blood of one of the companions ran and the land will bear witness against you on the Day of Judgment.

Just imagine that this land will bear witness twice, once for those companions who died as martyrs and the second against those who sinned on it, although it is the same land!

When the earth is shaken with its (final) earthquake. And when the earth throws out its burdens. And when man will say: ‘What is the matter with it?’ That Day it will declare its information (about all that happened over it of good or evil).(TMQ, 99:1-4) (1).

The earth will tell about us, so by Allah (SWT) do not give the earth two tales to tell. Give it just one, that those who lived on it were the sincere who loved Islam and who prayed in mosques.

At sunset Khaled (RA) gathered the army and said, “We have come here in obedience to our Prophet and for honoring our religion… We have killed of them, despite our small number, more than they have killed of us despite their large numbers. This battle cannot end in victory… but we had to fight to obey the orders of the messenger of Allah.”

Khaled (RA) was of the opinion of withdrawal, but he consulted with the others, and all the Muslims concluded that withdrawal was inevitable. Khaled (RA) then said, “But we cannot withdraw now as we are inside Mu’ta and if we came out in the open dessert they will wipe us out. We have to withdraw without them following us, but how? The Romans wish we would come out of Mu’ta so they could finish us off!”

The answer was to defeat them morally, to kill the moral spirit of the Romans, so that if the Muslim army withdrew, the Romans would have no desire to follow it.

And here came Khaled Ibn-Al-Waleed’s turn, the man who developed a plan that is still taught in military schools in Europe and America as the greatest withdrawal plan in history!

The plan was to make the right wing of the army go left, and the left wing go right, and the head go back while the back advance to the front. He also made the soldiers wash and clean their clothes, and wipe the flags and write new words to make the army look like a new one.

This will defeat them morally by only 50% while they have to be defeated 100%. So Khaled Ibn- Al-Waleed (RA) decided to take out 300 horsemen and divide them into six divisions, each division consists of 50 horsemen. He then ordered them to go back behind the army in a sandy area. With the break of day light, when the two armies engage in fighting, those horsemen have to beat the ground with the hooves of their horses to raise a huge cloud of sand in order to give the impression that there are six more armies coming!

The plan was set in a fashion so that the first division would arrive with the break of dawn while shouting “Allah Is The Greatest!” Then the second division would come and do the same, then the third and so on till the sixth division.

As soon as the sixth division joins the army, Khaled Ibn- Al-Waleed (RA) would say: “O servants of Allah, in Allah put your trust!”

But they will still not withdraw at that moment in order not to break the credibility of their actions in front of the Romans. The plan at this stage was for the Muslims to fiercely attack the Romans while they are still shaken. This way they (the Romans) would not follow the army when it withdraws.

Do you see how wise and skilled were the companions? Khaled (RA) developed a plan that is being taught until now in military schools! The Prophet’s companions did not just sit in the mosques and do nothing… they understood life very well.

When they started to implement the plan in the morning, the Romans were surprised to see completely new faces as they began to know the faces they fought with for 6 days. Now they found a new right wing, a new left wing, a new front and a new back …in other words a new army! So the Romans sent to Malik Ibn- Rafila saying that the Muslims came with a new army, when he asked them where the old army is, they replied, “Resting!” Then they were again surprised to see a huge cloud of sand, and then new fighters coming and shouting “Allah Is The Greatest”, and carrying flags with Allah ‘Is the Greatest’ written on them.

Following the entrance of the six divisions one after the other, Khaled (RA) said, “O servants of Allah, in Allah put your trust!” The Muslims then attacked the Romans fiercely and killed 500 of them! The Muslims later described how at the time they saw death in the eyes of the Romans! Once the fighting flared up, and the Muslims were beating the Romans, Khaled (RA) said, “O slaves of Allah turn back!” The withdrawal then began very quietly, from the sixth division to the fifth, the fourth, the third, the second, the first, the right wing, the left, the back and then the front until the whole army withdrew. How organized! When the Muslims withdrew, the Roman soldiers started to run after them but their Commanders ordered them saying “Don’t!! Its an ambush!!” As Khaled Ibn- Al-Waleed (RA) was about to reach Madinah, the Romans were still waiting for an ambush!!

The women came to receive the army as it entered Madinah. They came to receive their husbands and their families, so how would the reception be? They received the army with rocks and stones! They thought the army ran away, so they came shouting: “Escapers! Did you escape from the cause of Allah?” But the Prophet (PBUH) said, “No, they are not escapers, they are the attackers, may Allah be willing!” And indeed they went back after ten or fifteen years, and conquered the whole of Jordan, and Jordan became a Muslim country, and the prophesy of the messenger of Allah (PBUH) came true.

Prophet Muhammad (PBUH) then went to Ja’far’s house and hugged his children while weeping. He then went out to the Muslims and asked, “Who will provide for the children of Ja’far?”

The narrator said I saw three Muslims raising their hands wanting to provide for those children although each one of them was poorer than the other!

Do you see now the greatness of this land you live upon? Belong to it!

The blood of the martyrs of Mu’ta ran on this land, please preserve it!

(1)TMQ=Translation of the Meaning of the Qur’an. This translation is for the realized meaning, so far, of the stated (Surah:Ayah) of the Qur’an. Reading the translated meaning of the Qur’an can never replace reading it in Arabic, the language in which it was revealed.

AmrKhaled.net © جميع حقوق النشر محفوظة
This Article may be published and duplicated freely for private purposes, as long as the original source is mentioned.
For all other purposes you need to obtain the prior written approval of the website administration. For info: dar_altarjama@amrkhaled.net

 

Islamic Movement in Britain

By Professor Khurshid Ahmed

Situation of Muslims in Britain

So what is unique about the Muslim situation in Britain and Europe? In my view there are at least six points that need to be noted:

1. To the best of my knowledge and understanding: this is the first time, that in this part of Europe, we find such significant Muslim presence. As a datum this is important.

2. This significant Muslim presence is not a result of the process through which earlier Muslims came to Europe – through conquest or da’wah. It is for the first time that we find waves of migration motivated by different factors, but as a result, a distinct type of Muslim presence has become a reality. In other words, it is civil migration and not primarily da’wah oriented or conquest oriented.

3. Those who migrated initially did so for some short period, for temporary, transient objectives, but generally this has moved towards a permanent habitation.

4. When you look upon Europe and Britain, because of migration, which has not come from any one particular region, group or country, everywhere you find the Muslim Ummah in miniature. Different cultures, languages, backgrounds and political situations. Different contexts of migration and different expectations for the future. In a way, not only the Muslim Ummah in miniature, from an intellectual, cultural, historical or geographical viewpoint, but also from a sectarian viewpoint, Muslim thought processes, practices, whatever good or evil is there back home in the Muslim Ummah, somehow we are part of it.

5. We are living under the shadow of history. Ours is not a virgin beginning. We have come here with our complexes and the host society also has its complexes and perspectives, particularly Islamophobia, demonisation of Islam and Muslims, apprehension about Islam. But in view, every apprehension has within its bosom a set of opportunities also. This shadow of history is not totally negative, yet it is a reality.

6. This situation has produced a unique scenario, which is becoming a meeting point for the two major Islamic Movements (Jamat-e-Islami and al-Ikhwanul Muslimun) primarily, but not confined to these two. Wherever there is an Islamic Movement in the Muslim world, somehow Britain and Europe are providing a kind of meeting point. It can grow into a melting point, having the prospects of a multi-coloured matrix or rainbow, enriched by all the major Islamic Movements that have emerged in contemporary history in the world.

Characteristics of Islamic Movement

What makes us distinct within the family of Islamic groups and organisations, projects and institutions?

1. The Islamic Movement’s commitment to Islam as a complete way of life – a din.

2. Commitment to Islam as a new moral and ideological paradigm, a new civilisation, as against the dominant civilisation of our times which is secular, materialistic, god-negligent, where divine revelation is irrelevant, where you can be a bad person morally but a good president all the way. As against that, a new paradigm of civilisation based on Islam, which is God-centred, which is integrated with the spiritual and the moral going together, which is Akhirah – oriented.

3. Belonging to Movement means we regard Islam as a mission. The Ummah is not merely a community, it is a community with a mission and that mission is shahadah ‘alan-nas, da’wah, ‘amr bil ma’ruf wa nahi ‘anil-munkar, with a purpose, li yudh-hirahu ‘alad-dini kullihi. So, iqamah of din, istikhlaf, our concern for the society, state and history is the third distinction.

4. The four major characteristic of this movement orientation is that we are change oriented. It is not a defender of the status quo, even the Muslim status quo. It is change oriented, activity oriented, struggle oriented. That is why jihad, struggle, and change characterises Islamic Movement in our times.

5. Fifthly, this change is not an arbitrary change but is a change through moral re-orientation, through development of a new personality in the individual character formation. This is followed by societal change, and preparation of the Ummah to experiment and become the operational ground for that change so that this new example could come.

In this process of change it is a very important charactersitic of this movement orientation, is that we are self-criticising. Taqlid, which represents blind imitation of the past, has not been our way. We have been critical of our own past and that is why the emphasis has been on the Qur’an and Sunnah, the permanent, unchangeable, fundamental sources. Respect for fiqh, respect for history, respect for tradition, yet different between what is fundamental, what is essential, what is cardinal, what is central and what is peripheral, incidental, in the realm of details and variables. So ijtihaad and taqlid go together not one at the cost of the other and it is also non-sectarian. We are not abdicating religious groups that have emerged within the Muslim family, we are not excommunicating them, and we are providing a meeting ground to all of them so that without any prejudice and respect for the variety, we can bring them back to the core. We are not a sect, we are the meeting point for all sects.

6. Being non-sectarian in our approach has been our way via self-criticism. However, this self-criticism also has an external dimension, that is that we are also critical of the dominant civilisational paradigm. But not blindly abandoning it, nor blindly accepting it – developing a new critique of the West on the Islamic foundation, on the basis of the Qur’an and Sunnah. So what is acceptable in the field of thought, in the field of experiments, institutions, technology, we take what is beneficial and leave what is harmful. For what is in conflict with our value premise, there is no apology, no surrender, no compromise.

7. It is the message of the movement that while Islam and the community, that is the Ummah, go together, yet as the Ummah is not fulfilling its role as the standard bearer of the shahadah, of this message, there is a need not merely of individual efforts, but of organised, collective, institutional effort to perform that function and bring about change. So that is why nizam al-‘amr, sam ‘wat-ta ‘ah, shura, planning, mechanism for tarbiyah and for da’wah are integral to the Islamic Movement.

8. Finally, it is not withdrawl and isolation from the Ummah, it is Ummah orientation, belonging to the Ummah, sharing the Ummah’s problems and concerns and playing a positive role towards a solution of its problems.

These are eight major characteristics of the Islamic Movement that go to identify us as a Movement oriented person, organsation, institution or group.

 

Sahabat Rasulullah yang Syahid

Berikut ini adalah beberapa kisah singkat sahabat Rasulullah yg syahid. Semoga kita bisa meneladani kehidupan mereka khususnya yg berkaitan dgn keimanan, loyalitas serta pengorbanan yg mereka berikan utk Allah Swt dan Rasul-Nya. Yg termasuk di dalamnya a.l:

 

1. Shuhaib bin Sinan

2. Hamzah bin Abdul Muthalib,

3. Khabbab bin Irts

4. Ja’far bin Abi Thalib

5. Zubair bin Al Awwam,

6. Ubad bin Bisyir

7. Tsabit bin Qais

8. Suhail bin Amr

9. Al Bara’ bin Malik

10. Al Miqdat bin Amr

11. Mus’ab bin Umair

12. Sumayah

13. Amar bin Yasir

14. Zaid bin haritsah

15. Zaid bin Khatab

16. Abdullah bin Zubair

17. Abu Ayyub Al Anshari

18. Amr bin Jamuh

19. Abdullah bin Amr bin Haram

20. Habib bin Zaid

 

Wassalamu’alaikum wr.wb.,

Ridwan

 

 

Shuhaib bin Sinan


Pada suatu hari, ‘Ammar bin Yasir, mengisahkan peristiwa yang terjadi pada waktu itu. “Saya berjumpa dengan Shuhaib bin Sinan di muka pintu rumah Arqam, ketika itu Rasulullah Saw. sedang berada di dalamnya. “Hendak ke mana kamu?” tanya saya kepadanya. “Dan, kamu hendak ke mana?” jawabnya balik bertanya.

“Saya hendak menjumpai Muhammad Saw. untuk mendengarkan ucapannya,” kata saya. “Saya juga hendak menjumpainya,” ujarnya pula.

Akhirnya kami masuk ke dalam, dan Rasulullah menjelaskan tentang aqidah agama Islam. Setelah kami meresapi yang dituturkannya, kami pun menjadi pemeluknya.

Waktu itu, bagi fakir miskin, budak belian dan orang-orang perantau, memasuki rumah Arqam itu merupakan suatu pengorbanan yang melampaui kemampuan yang lazim dari manusia. Atau melangkahi batas-batas alam secara keseluruhan. Yakni, alam lama dengan segala apa yang diwakilinya baik berupa keagamaan dan akhlak.

Shuhaib bin Sinan adalah anak pendatang, sedang sahabat yang berjumpa di ambang pintu tadi —‘Ammar bin Yasir— adalah seorang miskin, tetapi keduanya itu berani menghadapi bahaya, dan kenapa mereka bersedia untuk menemuinya?

Seperti itulah, panggilan iman yang tidak dapat dibendung. Atau adanya pengaruh kepribadian Rasulullah Saw., yang kesan-kesannya telah mengisi hati mereka dengan hidayah dan kasih sayang (baca: akibat bosan dengan kesesatan dan kepalsuan hidup mereka selama ini).

Shuhaib telah menggabungkan dirinya dengan kafilah orang-orang beriman. Bahkan ia telah membuat tempat yang luas dan tinggi dalam barisan orang-orang teraniaya dan tersiksa!

Betapa indahnya, kata-kata yang terucap oleh Shuhaib bin Sinan, sebagai bukti rasa tanggung jawabnya sebagai seorang Muslim yang telah bai’at kepada Nabi Saw. dan bernaung dalam panji-panji agama Islam.

“Tidak suatu perjuangan bersenjata yang diterjuni Rasulullah, kecuali pastilah aku menyertainya. Dan tidak ada suatu bai’at yang dijalaninya, kecuali tentulah aku menghadirinya. Dan tidak ada suatu pasukan bersenjata yang dikirimnya, kecuali akau termasuk sebagai anggota rombongannya. Dan tidak pernah beliau bertempur baik di masa-masa pertama Islam atau di masa-masa akhir, kecuali aku berada di sebelah kanan atau di sebelah kirinya. Dan kalau ada sesuatu yang dikhawatirkan Kaum Muslimin di hadapan mereka pasti aku akan menyerbu paling depan, demikian pula kalau ada yang dicemaskan di belakang mereka, pasti aku akan mundur ke belakang.

Serta aku tidak sudi sama sekali membiarkan Rasulullah SAW. berada dalam jangkauan musuh sampai ia kembali menemui Allah…!”

Itulah, kata-kata yang terucap dari mulut Shuhaib bin Sinan, dan bukankah hal tersebut merupakan suatu gambaran akan keimanan yang istimewa dan kecintaan yang luar biasa atas Rasul-Nya?

Shuhaib bin Sinan, telah mengawali hari-hari perjuangannya yang mulia dan cintanya yang luhur itu pada saat hijrahnya Rasulullah Saw. Pada waktu itu, ditinggalkannya segala emas dan perak serta kekayaan yang diperolehnya sebagai hasil perniagaan selama bertahun-tahun di Mekah.

Dalam hal ini, Allah berfirman, “Dan di antara manusia ada yang sedia menebus dirinya demi mengharapkan keridlaan Allah, dan Allah Maha Penyantun terhadap hamba-hamba-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 207).

Itulah gambaran Shuhaib yang telah menebus dirinya dalam beriman itu dengan segala harta kekayaannya yang telah beliau usahakan selama masa mudanya.


 

Sa’id Hawwa, Dai Yang Kental Spiritual

Dia adalah Syaikh Sa’id bin Muhammad Daib Hawwa. Dilahirkan di kota Hamat, Suriyah pada tahun 1935 M. Ibunya meninggal dunia ketika usianya baru 2 tahun, lalu diasuh oleh neneknya. Di bawah bimbingan bapaknya yang termasuk salah seorang mujahidin pemberani melawan penjajah Perancis, Sa’id Hawwa muda berinteraksi dengan pemikiran kaum sosialis, nasionalis, Ba’tsi dan Ikhwanul Muslimin. Tetapi akhirnya Alloh memilihkan kebaikan untuknya untuk bergabung dengan ke dalam Jama’ah Ikhwanul Muslimin pada tahun 1952 M, ketika masih dudul di kelas satu SMA.

    Menyelesaikan studinya di universitas pada tahun 1961 M, lalu mengikuti khidmah ‘askariyah (pendidikan militer) pada tahun 1963 M hingga menjadi perwira cadangan. Menikah pada tahun 1964 M, dan dikaruniai empat orang anak.

    Ia memberikan ceramah, khutbah, dan mengajar di Syuriah,Saudia, Kuwait, Emirat, Iraq, Yordania, Mesir,Qathar, Pakistan , Amerika, dan Jerman . Juga terlibat dalam peristiwa ‘Dustur’ di Suriyah tahun 1973 M. hingga dipenjara selama lima tahun sejak 5/3/1973-29/1/1981. Selama di penjara, ia menulis kitab al-Asas fi at-Tafsir (11 jilid) dan beberapa buku dakwah lainnya.

    Pernah diamanahi jabatan pimpinan dalam organisasi Ikhwanul Muslimin di tingkat regional dan internasional. Aktif terlibat dalam berbagai aktifitas dakwah, politik dan jihad. Pada tahun 1987 M terserang sejenis penyakit parkinson disamping penyakit-penyakit lainnya, hingga terpaksa harus melakukan uzlah. Pada hari Kamis tanggal 9/3/1989 M, ia meninggal dunia di rumah sakit Islam di Amman.

   Uztadz Zuhair asy-Syawisy di dalam harian al-Liwa’ yang terbit di Yordania, edisi 15/3/`989 M, berkata tentang Sa’id Hawwa:

“ …Alloh telah mentaqdirkan dan tidak ada yang dapat menolak ketentuan-Nya. Berakhirlah kehidupan Sa’id bin Muhammad Daib Hawwa di rumah sakit Islam Amman siang hari Kamis, awal Sya’ban yang agung 1409 H bertepatan 9/3/1989 M. Dishalatkan setelah shalat Jumat oleh ribuan jamaah di masjid al-Faiha’ di asy-Syaibani. Dikuburkan di kuburan Sahab selatan Amman. Penguburan jenazahnya dihadiri oleh banyak orang. Ikut memberikan kata sambutan dalam penguburan jenazah, diantaranya ustadz Yusuf al-Adzam,Syaikh Ali al-Faqir, penyair Abul Hasan, Syaikh Abdul Jalil Razuq, ustadz Faruq al – Masyuh, dan sastrawan ustadz Abdullah Thanthawi. Sungguh simpati penduduk Yordania yang kedermawanan mereka kepada orang-orang hidup yang tinggal di negeri mereka…Kedermawanan dengan tangan dan kebaikan dalam ucapan.

    Sesungguhnya Sa’id Hawwa termasuk da’I paling sukses yang pernah saya kenal atau pernah saya baca tentang mereka, karena ia mampu menyampikan pandangan dan pengetahuan yang dimilikinya kepada banyak orabg. Ia meninggal dunia dalam usia yang relatif muda, belum melewati usia 53 tahun. Tetapi ia telah meninggalkan karya tulis yang cukup banyak, sehingga oleh banyak orang dimasukkan ke dalam kategori para penulis kontemporer yang produktif. Adanya perbedaan penilaian tentang buku-bukunya tidak akan mengubah hakikat ini sama sekali. Saya pernah mengkaji pandangan-pandangannya yang tertuang dalam berbagai bukunya. Sekalipun pandangan saya demikian ‘membantai’ dan bahasa saya sangat melukai, tetapi ia selalu menerimanya dengan lapang dada.
    Saya pernah mengunjunginya di al-Ahsa’ ketika ia menjadi pengajar di al-Ma’had al-‘Ilmi. Saya tidak menemukan perabot di rumahnya kecuali sesuatu yang dapat memenuhi keperluan seorang yang hidup sederhana. Juga tidak saya temukan pakaian yang layak dipakai oleh ulama’ dan pengajar di negeri yang panas itu. Baju jubah yang dipakainya dari buatan Hamat yang kasar. Saya terus mendesaknya hingga ia mau memakai beberapa pakaian putih dan ‘aba’ah (baju luaran) yang layak bagi orang seperti dirinya, tetapi ia mensyaratkan agar tidak terlalu longgar. Sedangkan makanannya, tidak lebih baik dari pakaian dan perabot rumahnya. Termasuk dalam kategori ini adalah sikapnya yang ‘mudah’ kepada orang-orang yang menerbitkan buku-bukunya baik yang telah mendapatkan izinnya atau tidak. Buku-bukunya telah dicetak berulang-ulang—dengan cara halal dan haram –, tetapi saya tidak pernah mendengar ia mempersoalkan hal tersebut. Ini termasuk bagian dari zuhudnya. Sesungguhnya akhlaq dan toleransi Sa’id Hawwa ini merupakan kebanggan dan teladan bagi orang lain. Inilah kesaksian yang dapat saya sampaikan.”

Sa’id Hawwa adalah seorang yang berpotensi besar, dinamis, dan pendobrak. Ia tidak pernah kenal menyerah dan bosan. Punya pengalaman dan kepiawian dalam penulisan. Bisa menyelesaikan satu buku dalam beberapa hari. Punya kecenderungan ruhiyah yang kental, bahkan terkadang sangat mendominasi. Rasa malu, kelembutan, dan kebaikan hatinya terkadang membuatnya lebih mengutamakan sikap diam dalam sebagian persoalan yang menuntut musharahah (keterusterangan).
    Kami merasa gembira dapat mengunjunginya berkali-kali di Kuwait. Ia menghadiri nadwah (seminar) pekanan yang kami selenggarakan setiap Jumat sore. Ia ikut berbicara dalam seminar itu dengan pembicaraan yang sangat memikat hati. Tema utama pembicaraannya berkisar tentang manhaj Imam Hasan Al- Banna dalam memanfaatkan potensi kebaikan yang ada pada diri manusia. Para da’I harus bisa meningkatkan potensi kebaikan pada jiwa manusia. Mereka harus berbicara kepada hati yang merupakan kunci hidayah. Jiwa semua manusia mengandung potensi kebaikan dan potensi kejahatan, tetapi dengan tingkatan berlainan. Apabila Alloh telah memberi taufiq kepada kita untuk meningkatkan potensi kebaikan pada jiwa manusia maka hal ini berarti kita telah mengurangi potensi keburukan yang ada padanya, karena tazkiyatun nafs merupakan kunci untuk meluruskan suluk (perilaku).

“Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaanNya), maka Alloh mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. “ (asy-Syams:7-10).

(Diambil dari buku Mensucikan Jiwa – Said Hawwa- terbitan Robbani Press)