Ceramah Ustadz Rahmat Abdullah

Mengenal Medan Dakwah Bagian 1

Mengenal Medan Dakwah Bagian 2

Puasa dan Moralitas Politik

Oleh Asep Setiawan

Pendahuluan
Ibadah Puasa memiliki dimensi lahir dan batin. Ibadah yang dilaksanakan bulan Ramadhan ini tidak hanya menahan lapar, haus dan berhubungan suami-istri pada siang hari, namun juga menyangkut perbuatan-perbuatan bathin. Seseorang yang berpuasa, harus menghindari diri dari perbuatan-perbuatan yang mengurangi nilai puasa seperti bergunjing, mencela dan berpikiran tidak sehat.
Al Qur’an sendiri menggariskan bahwa tujuan akhir dari proses puasa itu menjadikan manusia bertaqwa. Taqwa secara singkat terkait erat dengan kesungguhan diri dalam mendekati Allah SWT. Semakin ia bertaqwa semakin terasa kehadiranNya sehingga makin pula khusyu menjalankan semua tuntutan yang diberikan Yang Maha Kuasa.
Makalah ini akan berusaha menghubungkan makna puasa dalam arti luas dengan moralitas politik. Apakah puasa mampu melahirkan masyarakat dan praktisi-praktisi politik yang bermoral ? Jika ya, bagaimana proses itu bisa lahir ?
Sebelum menjajagi hubungan puasa dengan moralitas politik ini, penulis akan meninjau secara sekilas, nilai-nilai yang terkandung dalam puasa yang mampu mempengaruhi kehidupan umat Islam, termasuk kehidupan politik umat.

Pensucian diri
Banyak pakar Islam berpendapat, proses puasa adalah kancah pelatihan pensucian diri. Selama sebulan, umat Islam digembleng dengan sebuah pelatihan yang cukup berat. Oleh karena beratnya itulah maka mereka yang sakit, wanita hamil atau anak-anak dan sejumlah orang yang menempuh perjalanan jauh dibebaskan dari kewajiban bulan Ramadhan.
Selama proses pensucian diri ini, umat dihadapkan kepada berbagai kegiatan mulai dari tadarus, sholat taraweh, pengajian dan diakhiri dengan zakat fitrah yang tujuannya untuk membersihkan jiwa. Dengan kata lain, pelatihan sebulan ini dimaksudkan sebagai cara yang ampuh dalam proses pensucian menghadapi 11 bulan berikutnya.
Bahkan di bulan Ramadhan ini pula, Al Quran secara gamblang memberitakan adanya sebuah malam penuh dengan berkah yakni malam Laitalut Qadar. Menemukan malam yang mulia ini adalah tantangan bagi mereka yang pada akhir Ramadhan telah membersihkan seluruh jiwanya dari sikap kikir, bakhil, sombong, zalim, takabur dan kotoran-kotoran jiwa lainnya yang disebut Imam Al Ghazali akan mengotori kebeningan hati.
Semangat berpuasa juga melahirkan umat yang sangat peka terhadap lingkungan sekelilingnya. Umat diajak memperhatian golongan masyarakat yang tidak mampu. Umat bahkan dirangsang dengan berbagai pujian agar memberikan sedekah adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan Ramadhan.
Namun tujuan dari puasa itu sendiri seperti diungkapkan dalam Surat Al Baqarah 183 adalah untuk menjadikan manusia bertaqwa. Amien Rais (1998) menyodorkan Surat Ali Imran ayat 134 untuk melihat definisi Taqwa. Pertama, orang yang menunaikan infak, yakni mengeluarkan sebagian rezeki yang dikaruniakan Allah.
Kedua, meredam amarah. Dan ketiga, mudah memaafkan segala manusia. Tanda oran bertaqwa juga dapat dilihat dari ayat 135 yang bila dipahami artinya, orang bertaqwa itu bisa terperosok tetapi cepat bangkit kembali dan memohon ampun kepada Allah SWT. Dalam pengertian selanjutnya, taqwa juga memiliki dua sisi yakni sisi suruhan dan larangan.
Dalam riwayat-riwayat yang dikumpulkan Javad Nurbakhsh, terlibat bagaimana puasa dijalankan para sufi sehingga menghasilkan suatu kualitas yang disebut sebagai faqr. Faqr adalah karakteristik utama seseorang yang memiliki sifat-sifat Muhammad: Dihiasi dengan keindahan-keindahan sifat yang tulus, kedermawanan dan kerendahan hati atau kejujuran, keagungan dan kesederhanaan. Rasulullah pun tersentuh dengan harumnya hati yang baik dan kegembiraan yang meluap-luap.
Sementara itu Syed Anwar Ali (1997), melukiskan sejumlah tujuan ibadah Puasa disamping untuk mencapai derajat taqwa. Menurut Ali, ibadah puasa membuat orang menyadari kesulitan yang diderita orang lain dalam hidup yang kekurangan. Ibadah puasa juga memberikan keseragaman yang unik dan tunggal di kalangan orang-orang yang beriman di seluruh dunia dalam hal waktu. Selain itu puasa merupakan ujian nyata akan ketulusan pengabdian dan kepatuhan terhadap Allah.
Ali juga menilai, puasa menguatkan hati melawan perbuatan yang tak benar. Ketika orang dapat menghindar dari semua yang sebenarnya halal dan diperbolehkan, maka tak ada keraguan lagi bahwa dia dapat menghindarkan diri dari perbuatan yang salah dan dilarang Allah. Bahkan disebutkan pula ibadah puasa mempersiapkan orang untuk perjuangan yang lebih berat di jalan Allah (jihad al-akbar)

Politik adiluhung
Dalam literatur dan pengalaman umat Islam, khususnya pada zaman Nabi Muhammad dan Khulafaur Rasyidin, terlihat bahwa umat Islam tidak memisahkan ibadah dengan kegiatan mengelola pemerintahan.
Lihat misalnya pandangan pakar Islam dari Barat, John L Espito yang menyebutkan, Al Quran tidak memisahkan antara kehidupan politik dan ibadah. Politik adalah bagian dari kehidupan masyarakat seperti halnya kegiatan ekonomi dan budaya. Oleh sebab itu Islam tidak membeda-bedakan antara praktek politik dari nilai-nilai Islam.
Kemudian Sayyid Abl A’la Mawdudi (1982) malah lebih gamblang mengatakan, puasa itu tak lain adalah ibadah yang memberikan kesadaran bahwa hidup itu adalah pengabdian total. Puasa juga merupakan pelatihan bersama yang mengikat seorang Muslim kedalam masyarakat. Dengan demikian, puasa itu menjadi sebuah kekuatan moral karena dilakukan secara kolektif, melibatkan ribuan, jutaan bahkan sampai satu milyar kaum Muslimin.
Dalam istilah populer sekarang apa-apa yang terkait dengan kegiatan kenegaraan baik dalam bidang legislatif, eksekutif dan yudikatif, disebut sebagai tindakan politik.
Bahkan karena alam politik Indonesia selama 32 tahun ini dinaungi awan yang gelap, maka banyak pemaknaan politik itu mencapai titik terendah bahkan terkesan bahwa apapun yang berbau politik bahka dalam bidang keilmuan pun menjadi tidak berharga.
Berbicara politik, bukanlah berbicara soal ibadah seperti yang dilakukan Rasulullah dalam memimpin umat Islam di Madinah atau Khalifah Abu Bakar, Umar bin Khattab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Di Indonesia dalam kamus kebanyakan masyarakat, politik itu kotor, jahat, penuh tipuan dan kehidupan yang jauh dari praktek kemuliaan Islam.
Distorsi inilah yang kemudian melahirkan sikap dan perilaku politik yang berbeda dengan ideal-ideal yang pernah dipraktekkan Rasulullah. Pada akhirnya sistem politik di Indonesia pun mengalami kemerosotan nilai-nilai bahkan termasuk dikalangan praktisi politisi Islam. Berpolitik bisa berarti mengundang permusuhan dan bisa juga menjatuhkan pihak lain.
Kuntowijoyo malah pernah membagi tiga pola bentuk praktek umat Islam dalam kancah kehidupan politik. Pertama, Islam ibadah yang menekankan pentingnya ibadah khusus terlepas dari kehidupan politikk. Misalnya perlunya membangun banyak mesjid dan pengajian. Kedua, Islam politik yang menyorot perlunya umat menguasai berbagai cabang kekuasaan sehingga muncul ide-ide seperti negara Islam atau negara Islami.
Ketiga, Islam akidah yang bercirikan dengan pandangan bahwa yang perlu itu bagaimana mewarnai kehidupan politik dengan nilai-nilai Islam tanpa mempersoalkan bentuk ideologi. Kuntowijoyo menilai, karena alergi umat Islam terhadap politik sebagai akibat perdebatan dan benturan fisik dalam menciptakan apa yang disebut negara Islam maka Islam politik masih tabu saat ini, yang diperlukan adalah bagaimana menciptakan masyarakat Indonesia yang rasional dan demokratis sehingga bisa melahirkan kehidupan politik yang tidak emosional dan terbuka.
Oleh karena itu berbagai jalan ditempuh agar, nilai-nilai moral Islam apalagi nilai-nilai moral puasa Ramadhan ini bisa memunculkan makna yang dalam dalam kehidupan politik Nasional. Rumusan tentang
M Natsir seperti disitir Amien Rais pernah mengulas tentang perlunya sebuah praktek politik adiluhung atau politik yang sangat luhur. Rekaman pemikiran Natsir ini pernah diulas Lance Castles dan Herbert Feith dalam Indonesian Political Thinking: 1945-1965.
Menurut Amien, Natsir memperjuangkan cita-cita antara lain membebaskan manusia dari segala bentuk superstisi, memerdekakannya dari segala takut kecuali kepada Allah Sang Maha Pencipta serta memegang perintah-perintahNya agar kebebasan ruhani manusia dapat dimenangkan. Natsir juga mengancurkan segala tirani harus dilenyapkan, chauvinisme yang merupakan agar intoleransi dan permusuhan diantara manusia wajib diperangi dan Natsir yakin bahwa Islam mengajarkan cita-cita politik yang sangat luhur.
Dalam bahasa populer Amien (1995), praktek ini disebutnya high politics (politik adiluhung atau politik bermoral). Ia menjelaskan makna politik adiluhung ini sebagai politik yang berdimensi moral serta etis. Sedangkan low politics adalah politik yang terlalu praktis dan seringkali cenderung nista.
Menurut Amien, bila sebuah organisasi menunjukkan sikap tegas terhadap korupsi, mengajak masyarakat luat memerangi ketidakadilan, mengimbau pemerintah untuk terus menggelindingkan proses demokrasi dan keterbukaan, maka organisasi tersebut pada hakikatnya sedang memainkan high politics.
Sebaliknya, tulis Amien, bila sebuah organisasi melakukan gerakan manuver politik untuk memperebutkan kursi DPR, minta bagian di lembaga eksekutif, membuat kelompok penekan, membangun lobi, serta berkasak-kusuk untuk mempertahankan atau memperluas vested interests, maka organisasi tersebut sedang melakukan low politics.
Upaya M Natsir dan Amien serta praktisi lainnya untuk memperkenalkan nilai-nilai moral dalam kehidupan politik ikut mempersegar gerakan reformasi yang diharapkan tidak jadi anarki.
Dalam kaitan nilai, puasa dan moralitas politik terlihat bahwa proses pelatihan selama bulan Ramadhan yang diharapkan melahirkan manusia bertaqwa itu juga mampu memunculkan apa yang disebut Amien sebagai politik adiluhung. Tentu saja hasil akhir politik sebagai ibadah yang mulia ini memerlukan internalisasi sehingga sebagai sebuah nilai dalam kehidupan, maka aktivitas politik juga bernilai ibadah tinggi seperti halnya ibadah lainnya.

Penutup
Nilai-nilai yang terkandung dalam puasa, sebagai bagian dari ibadah dalam kerang Islam yang menyeluruh sangat terkait dengan kehidupan pribadi dan sosial umat Islam. Semua pelatihan yang dilakukan selama bulan Ramadhan diarahkan agar umat Islam mensucikan diri sehingga mencapai derajat taqwa.
Dalam praktek, tentu saja manusia bertaqwa ini diharapkan juga mampu mewarnai dan menjadi figur-figur dominan dalam melahirkan kehidupan politik yang adiluhung. Kehidupan politik yang menggelorakan semangat moral Islam inilah yang diharapkan mampu mencerahkan bangsa Indonesia dalam memasuki milenium baru.

Daftar Pustaka

Bakhtiar, Laleh (ed), Meraih Kemuliaan Ramadhan . Bandung: Mizan, 1997.

Espito, John L., Islam and Politics. New York: Syracuse University Press, 1991.

Kelompok Studi Lingkaran (ed), Intelektualisme Muhammadiyah Menyongsong Era Baru. Bandung: Mizan, 1995.

Mawdudi, Sayiid Abul A’la, Let Us be Muslims. Leicester: The Islamic Foundation, 1982.

Rais, M. Amien, Tauhid Sosial: Formula Menggempur Kesenjangan. Bandung: Mizan, 1998.

Shihab, Alwi Dr., Islam Inklusif: Menuju Sikap Terbuka dalam Beragama. Bandung: Mizan, 1998.

Secularization an Extension of the Idea of Primacy of Reason, Interview Mochtar Buchori with Prof Bassam Tibi Jakarta Post, 22 December 1998.

Woodward, Mark. R., Jalan Baru Islam: Memetakan Paradigma Mutakhir Islam di Indonesia. Bandung: Mizan, 1998

Manajemen Mesjid

Oleh Asep Setiawan

I. Pendahuluan
Istilah manajemen sering dikaitkan dengan pencapaian tujuan melalui dan bersama orang lain. Jadi sudah dapat dibayangkan bahwa sebuah manajemen akan melibatkan banyak manusia, banyak orang, banyak karakter dan banyak keahlian. Seni manajemen terletak pada pengendalian seluruh etos (karakter) dan logos (ilmu) itu kedalam sebuah kekuatan baru. Istilah modernny sinergi.
Dalam literatur manajemen mutakhir, aset terpenting dari sebuah organisasi adalah manusia. Charles Handy (1997) – seorang pakar bisnis – bahkan lebih fokus lagi bahwa “saat ini sudah waktunya sadar bahwa fakta itu benar karena satu-satunya harapan mereka bagi keamanan masa depan terletak pada otak manusia”.
Lebih lengkap lagi dari pandangan Handy ini adalah bahwa sebuah lembaga kekuatannya bertumpu pada kecerdasan anggotanya serta keteguhan aqidah serta kemuliaan akhlaknya. Jadi disini terkandung sebuah prinsip bahwa manusia sebagai aset manajemen harus diperhitungkan dan dikembangkan otak dan ruhaninya.
Untuk mengembangkan keduanya diperlukan ilmu. Seperti Rasulullah untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat diperlukan ilmu. Atau seperti Deputi PM Malaysia Anwar Ibrahim (1997) nyatakan bahwa kebanggaan seorang Muslim itu terletak pada kesadaraannya bahwa ia cinta kepada ilmu.
Jika manajemen sudah meletakan dasar pada pentingnya kedudukan insan dalam pencapaian tujuan sebuah lembaga atau organisasi, lalu apa fungsi dan tujuan mesjid itu sendiri. Al Qur’an sudah menggariskan bahwa mesjid diperuntukkan bagi orang-orang bertaqwa. Itu berarti menegakkan ketaqwaan merupakan asas fundamental dari kehadiran mesjid di tengah masyarakat.
Dalam praktek, Rasulullah menempatkan mesjid tidak hanya sebagai tempat sholat lima waktu, tapi lebih dari itu mesjid dijadikan sebuah pusat peradaban. Artinya, mesjid dijadikan pusat pertahanan, pemerintahan, pendidikan, sosial, budaya dan bahkan seni. Dengan kata lain Nabi Muhammad SAW mencontohkan bahwa sebuah mesjid merupakan sumber pendorong kemajuan masyarakat di sekitarnya.

II. Manusia dan Tujuannya
Persoalan berikutnya adalah untuk mengidentifikasikan apa tujuan manusia dalam beraktivitas di dalam mesjid. Ambil contoh Surat Al Baqarah ayat 30 yang menjelaskan bahwa manusia diciptakan supaya menjadi khalifah di muka bumi.
Apa yang disebut khalifah itu ? Beberapa pakar Islam mengartikan khalifah itu wakil Allah di muka bumi. Ada pula yang memberi makna bahwa umat Islam ini hendaknya menjadi penguasa di muka bumi untuk memakmurkan dan melaksanakan perintah-perintah-Nya.
Kita bisa membayangkan bahwa untuk menguasai bumi yang amat luas itu diperlukan perangkat lunak (misalnya ilmu) dan perangkat keras (misalnya dana) yang tidak sedikit. Bahkan diantara perangkat itu mungkin mahal harganya.
Dengan memfokuskan diri pada misi manusia di muka bumi ini, maka perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi kegiatan mesjid itu menjadi hidup, bermakna dan berisi semangat untuk menjadikan seluruh unsur dari masyarakat menjadi bagian dari khalifah Allah.
Jadi ketika para manajer mesjid ini merancang dan mempersiapkan pengumpulan serta distribusi zakat, para pelakunya merasakan semangat untuk mewujudkan Nur Islam. Para aktivis ini – karena tanggung jawabnya untuk mewujudkan kebesaran Ilahi – maka semua aktivitas manajemen dilakukan secara profesional, tidak asal-asalan.
Dalam istilah Al Qur’an ungkapan profesional ini mungkin dapat dipadankan dengan kalimah ihsan. Apakah ihsan itu itu ? Ungkapan ihsan ini merupakan salah satu pilar disamping kata Islam dan Iman. Tiga konsep ini berkaitan satu sama lain.
Dalam pengertian sederhana, ihsan berarti kita beribadah kepada Allah seolah-olah Ia melihat kita. Jikalau memang tidak bisa kita lihat, tetapi pada kenyataannya Allah menyaksikan setiap perbuatan dan desir kalbu kita.
Ihsan juga berarti perbuatan baik dalam pengertian sebaik mungkin atau secara optimal. Hal itu tercermin dalam Hadis Riwayat Muslim yang menuturkan sabda Rasulullah :
“Sesungguhnya Allah mewajibakan ihsan atas segala sesuatu. Karena itu jika kamu membunuh, maka berihsan-lah dalam membunuh itu; dan jika kamu menyembelih, maka berihsanlah dalam menyembelih itu dan hendaknya seseorang menajamkan pisaunya dan menenangkan binatang sembelihannya itu”.
Menurut Nurcholis Madjid, dapat disimpulkan dari konteks hadis itu dimana ihsan berarti optimalisasi hasil kerja, dengan jalan melakukan pekerjaan itu sebaik mungkin, bahkan sesempurna mungkin. “Penajaman pisau untuk menyembelih” jika diterapkan pada pekerjaan lain mengisyaratkan kepada efisiensi dan daya guna yang setinggi-tingginya.
Allah juga mewajibkan ihsan atas segala sesuatu seperti tercantum dalam Al Qur’an (32:7). “Yang membuat ihsan, sebaik-baiknya segala sesuatu yang diciptakan-Nya”
Selanjutnya Allah juga menyatakan telah melakukan ihsan kepada manusia agar manusia pun melakukan ihsan.
“Dan usahakanlah dalam karunia yang telah diberikan Allah kepadamu itu (kebahagiaan) Negeri Akhirat namun janganlah engkau pupa akan nasibmu di dunia, serta lakukanlah ihsan sebagaimana Allah telah melakukan ihsan kepadamu dan janganlah kamu membuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang berbuat kerusakan” (28:77)
Pekerjaan yang dilakukan secara ijhsan, secara optimal memang dikehendaki Allah Swt. Dalam prakteknya di bidang apapun apakah itu pelajar, mahasiswa, karyawan, wirausahawan atau mubaligh akan dihargai karyanya bila tampil dengan mutu tinggi. Karena manusia memang berkecenderungan mencapai kesempuranaan, maka tentu saja dalam pekerjaan pun kita harus senantiasa memperhatikan kesempurnaan.

III. Kesimpulan
Dengan demikian secara singkat bisa dikatakan bahwa manajemen mesjid itu diarahkan untuk mengaktualisasikan amanah manusia di muka bumi melalui serangkaian kegiatan yang terpancar dari mesjid. Manajemen berusaha menghidupkan mesjid baik dari segi keindahan arsitekturnya atau bentuk amaliahnya yang memancarkan kemuliaan dan kesucian Islam.

Daftar Pustaka

Al Qur’an dan terjemahnya
Madjid, Nurcholis, Islam Doktrin dan Peradaban. Jakarta,
Yayasan Wakaf Paramadina, 1992.
Gibson, Rowan (ed), Rethinking the Future. London,
Nicholas Brealey Publishing, 1997.
Ibrahim, Anwar, Asian Renaissance, Kuala Lumpur,
Times Book, 1997.

Reblog this post [with Zemanta]

Shalat Khusyu

MAKNA SYUKUR DALAM ALQUR’AN

Syukur adalah ibadah yang sering ditinggalakan umat manusia banyak manusai gelisah hidup dalam ketakutan, hidup yang dibayangi dengan hal–hal yang tak mampu menikmati yang telah diberikan kepadanya, itu semua karena tidak kenal arti syukur pada Allah, rosul dalam hadis beliau yang pernah bersabda Orang yang paling syukur yang memiliki kona’ah orang yang menerima pemberian Allah, orang yang miskin selamanya adalah yang tak pernah mensyukuri nikmat Allah.

Menurut Alquran datangnya

our troop
Image by °°° Hudson °°° via Flickr

balak (bencana) adalah kerena kurang bersyukurnya kepada semua nikmat Allah, padahal kalau kita bersyukur pasti ditambah nikmat itu apapun bentukanya bisa berbentuk dhohir berupa ditambahnya hartanya dan yang lain adalah diberinya ketentraman jiwa, anak-anak yang sholeh dll belum lagi tambahan kelak di hari kiamat, ada kenikmatan yang lain dari semua yang diberikan Allah untuk hambanya adalah ketentraman jiwa sedangkan harta itu adalah yang paling rendah nilainya, karena Allah ingin menyiksa mereka dengan harta-hartanya, maksiat kita tidak akan mengurangi keagungan kerajaan Allah maka dari itu mereka sebenarnya memaksiati diri sendiri dan bila kita berbuat kebaikan tidak akan menambah megahnya kerajaan Allah itu artinya kita berbuat baik untuk diri sendiri.

Dalam QS Luqman (31): 12 dinyatakan:

Dan sesungguhnya Kami telah menganugerahkan kepada Luqman hikmah, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barang siapa yang bersyukur (kepada Allah), maka
sesungguhnya ia bersyukur untuk (manfaat) dirinya sendiri.”

“Dan barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri, dan barangsiapa yang kufur (tidak bersyukur), maka sesungguhnya Tuhanku Maha kaya (tidak membutuhka sesuatu) lagi Mahamulia” (QS An-Naml [27]: 40)

Setiap kita mengkufuri nikmat Allah disitu juga terdapat siksaan Allah dan banyak bermacam siksaan lain, malam kaya tapi besok pagi sudah lenyap itu pun bisa terjadi dan sangatlah mudah bagi allah untuk merubah semua itu, ada bentuk siksaan Allah yang kita tak merasa tersentuh dan airmata kita membeku untuk menangisi dosa-dosa kita, kita lupa dengan hari kiamat ini juga adalah salah satu bentuk siksaan Allah juga, tapi ketika orang yang mensyukuri nikmat Allah ia tidak akan pernah mendapat siksaan Allah karena ia meyakini ini adalah yang terbaik untuknya. Kenapa Allah harus menurunkan balak kalau kita mensyukuri nikmat-Nya. Bersyukurlah kepada Allah maka Allah akan memberi sesuatu kepada kita? Kalau kita menghitung nikmat Allah maka kita tak akan pernah mampu dan tidak disebut sebagai orang yang menyembah Allah bila kita tidak bersyukur atas nikmat yang telah Allah beri, sebenarnya syukur itu adalah bimbingan Allah juga

Syukur itu tahapan;

1 Yakin
Hendaklah meyakini bahwa setiap yang diberi Allah itu adalah yang terbaik syukur yang sebenarnya adalah ketika syukur dari hati dan meyakini semua ini tak akan pernah terjadi tanpa ketentuan dari Allah.

2 Ungkapan dengan lidah “Alkhamdulillahi robbil ‘aalamin” meninggalkan yang telah Dilarang Allah kemudian yang terakhir mengungkapkan kalimat “hamdalah”

3 Praktek
Selain dengan ungkapan saja inilah harus dengan amalan, jangan harta yang telah dikirimkan tadi untuk berbuat maksiat kepada Allah karena orang yang mensyukuri nimat Allah itu sebenarnya bersyukur untuk dirinya sendiri,

@ Orang kikir berarti kikir untuk dirinya begitu juga dengan orang yang berbuat baik itu adalah untuk dirinya sendiri.

@ Orang yang syukur artinya ia juga telah bersiap untuk menerima pemberiaan Allah yang lain

@ orang yang bersyukur ia berarti telah mmbentengi dirinya dari siksaan Allah

@ orang yang selalu syukur ia selamanya selalu tentam karena ia meyakini bahwa apabila ia tidak dikasih dari apa yang telah ia minta kepada Allah berarti mungkin ada sesuatu yang bahaya untuk kita, jadi berprasangka yang baik itu kepada Allah dalam keadaan bagaimanapun. Tapi kita punya musuh yang tidak pernah mau melihat kita ini pasrah terhadap ketentuan Allah dan musuh itu adalah Setan, jadi kita ini main tarik-tarikkan dengan setan mereka menggangu dari depan maksudnya kita ini bersiap untuk akhirat tapi mereka ganggu kita, dari belakang membuat kita rakus disibukkan mencari harta untuk anak-anak kita sampai tak peduli halal haram sehingga lupa akan akhiratnya, dari samping kanan dirusak agama kita disesatkan, sedangkan samping kiri kita dibuaikan dengan keindahan dunia yang dianggap abadi sehingga mereka mengejarnya sehingga lupa keindahan akhirat yang jauh lebih indah kekal selamanya tapi kita punya dua jalan yaitu atas dan bawah, atas bermunajat kepada Allah bawah apabila kita perbanyak sujud kita mereka iblis tak akan pernah mampu mengganggu kita.

Tapi sesungguhnya manusia itu kebanyakan selalu mengkufuri nikmat Allah, setan menginginkan kita tak bersyukur atas nikmat Allah dan maka kita harus gagalkan niat setan tersebut, Allah memberikan pengelihatan, pendengaran, hati, dan akal tapi kita pergunakan untuk mengkufuri nikmat Allah dan kita ini tidak perlulah menuding yang lain intropeksilah diri sendiri.

Orang itu adalah sadar atas semua nikmat Allah setelah ditinggalkan nikmat itu, maka jagalah dengan mensyukuri nikmat tersebut dan orang yang tak bersyukur berarti orang itu bersiap-siap untuk mendapat sanksi dengan dicabutnya nikmat dari Allah, orang pada hakikatnya tidak pernah mensyukuri nikmat Allah kecuali hanya sangat sedikit orang karena itu adalah ibadah tingkat tinggi.

Takut berbuat dosa juga merupakan nikmat Allah sehingga hidupnya akan tentram selamanya segala sesuatu yang ia lakukan. Kalau kita sampai pada tahapan ini berarti telah melakukan syukur yang sebenarnya, ada pedoman yang sangat bagus kalau soal beribadah kepada Allah maka lihatlah orang yang diatasmu, tapi kalau soal harta lihatlah orang yang berada dibawahmu meski makan 3x sehari dengan lauk apa adanya maka lihatlah yang makan 2x sehari dan seterusnya tapi jangan sampai sebaliknya melihat harta orang yang diatas kita sehingga kita lupakan yang dibawah kita dan hanya mengejar harta itu tanpa sempat mensyukurinya. Orang yang berterimakasih kepada sesama manusia itu juga wujud syukur kita kepada Allah.

Surat Luqman (31): 14 menjelaskan hal ini, yaitu
dengan firman-Nya:

“Bersyukurlah kepada-Ku, dan kepada dua orang ibu bapakmu; hanya kepada-Kulah kembalimu”

Apa makna syukur bagi Anda?

Fire And Ice
Image by just.Luc (just.Censored) via Flickr

Friday, March 6, 2009 by Adhini Amaliafitri

“Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?” QS. Ar Rahman:13

Apa yang anda rasakan ketika mendengar ayat ini? Bahwa tidak ada setitik pun yang ada di dunia ini yang dapat manusia dustakan. Semua keindahan yang diciptakan oleh Ar Rahman diberikan pada tiap partikel ciptaanNya. Pegunungan hijau yang terhampar luas. Lautan biru yang membentang, menyediaakan sumber makanan serta kekayaan bumi yang melimpah ruah yang dapat digunakan manusia memenuhi kebutuhan hidupnya. Bintang bintang di langit, bisa menjadi petunjuk jalan ketika seorang musafir, nelayan, atapun sekelompok pecinta Alam yang tengah tersesat mencari jalan keluar. Semua telah ALLAH SWT sediakan bagi manusia. Namun, banyak manusia yang tidak menyadarinya. Lantas, lupa ataupun lalai mengucapkan terima kasih pada-Nya.

Syukur. Apa makna syukur bagi anda? Syukur memiliki begitu banyak definisi. Tergantung pada tiap otak manusia mendefinisikan kata syukur itu seperti apa. Tetapi, bagi setiap muslim. Ketika ia sholat, lalu bersujud dan berdoa di dalam sujudnya mengucapkan terima kasih tiada tara atas apa yang telah Rabb-Nya berikan kepada dia di dalam kehidupannya. Baik itu kemudahaan ataupun kesulitan. Baik itu kebahagiaan ataupun kesedihan. Namun, ia masih mengucap syukur, “Terima kasih untuk segala nikmat yang telah engkau berikan pada hamba Ya RABB!” di dalam untaian doanya di setiap sujud syukur.

Ketika seorang muslim bersedekah. Memberikan apa yang ia miliki kepada orang lain. Berbagi apa yang dimiliki, entah itu berupa materi, sandang pangan, ataupun darah yang mengalir di dalam tubuhnya untuk di donorkan. Itu juga merupakan salah satu wujud dari rasa syukur kepada Rabb-Nya.

Begitu banyak cara bagi seorang muslim untuk menyatakan bahwa dirinya berbahagia, berterima kasih, lantas bersyukur kepada Rabb-Nya atas nikmat yang telah hadir di dalam kehidupannya. Nikmat sehat, nikmat sakit, nikmat ketika menyantap makanan serta minuman halal, nikmat kasih sayang dari keluarga dan orang yang mencintai kita dengan tulus, dan masih banyak nikmat yang kadang luput dari kesadaran seorang muslim.

ALLAH SWT berfirman,
“Dan, jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.” QS.Ibrahim:34
“Dan, menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin.” QS.Luqman:20
“Dan, apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allahlah datangnya.” QS. An-Nahl : 53

Ketika seorang muslim sudah bisa berada pada titik syukur, dan mensyukuri apapun yang telah dialami dalam kehidupannya. Maka, ia akan lebih mudah mengundang rasa bahagia masuk ke dalam nurani. Kebahagiaan, ketenangan, dan rasa syukur yang senantiasa membuahkan rasa ikhlas dan nyaman dalam menjalani kehidupan. Kecemasan, rasa takut yang berlebihan akan masa depan, berbagai prasangka yang di alamatkan kepada Rabb-Nya ataupun kepada sodara sesama muslim dapat dikelola dengan baik.

Sudahkah anda bersyukur, dan tersenyum atas nikmat serta karunia yang ALLAH SWT berikan pada anda hari ini? 🙂

Mari Sholat Tahajjud

Topkapı Palace gate with Shahadah and his seal...
Image via Wikipedia


CARA-CARA MENGERJAKAN SOLAT SUNAT TAHAJJUD

Solat Tahajjud ialah solat apabila terjaga daripada tidur malam. Sebaik-baiknya 1/3 malam yang terakhir iaitu dalam lingkungan jam 3 @ 4 pagi. Di antara fadhilatnya :


1. Mendapat pengawasan Allah dan menampakkan kesan ketaatan di wajahnya.
2. Dikasihi oleh para ahli ibadah dan org mukmin.
3. Percakapannya menjadi hikmah dan bijaksana.
4. Dimudahkan hisab ke atasnya.
5. Mendapat catatan amal dari tangan kanan.

Jumlah rakaat sekurang-kurangnya 2 rakaat.

1) Bilangan Waktu : tidak terhad
2) Waktu malam – selepas tidur sebelum subuh.

Lafaz Niat Solat Sunnat Tahajjud

Sahaja aku sembahyang sunnat tahajjud dua rakaat kerana Allah Ta’ala

Baca ketika sujud terakhir – 3 kali

Maksudnya:
Ya Allah, masukkanlah aku dengan kebenaran dan kleluarkanlah aku dengan kebenaran
dan kurniakan aku kekuasaan yang dapat menolong.

“Ya Allah, bagiMu segala puji. Engkau penegak langit dan bumi dan segala isinya. BagiMulah segala puji’. Bagimu kerjaan langit dan bumi serta isinya. Dan bagiMulah segala puji cahaya bagi langit dan bumi, Engkaulah yang hak, dan janjiMu adalah hak, dan syurga adalah hak, dan neraka adalah hak, dan nabi-nabi itu adalah hak, dan nabi Muhammad saw, adalah hak, dan saat hari kiamat itu adalah hak, ya Allah, kepadaMulah kami berhukum. Ampunilah kami atas kesalahan yang sudah kami lakukan dan yang belum kami lakukan, baik yang kami sembunyikan mahupun yang kami nyatakan. Engkaulah Tuhan yang terdahulu dan Tuhan yang terakhir. Tiada Tuhan melainkan Engkau. Tiada daya dan kekuatan melainkan dengan Allah.”

KELEBIHAN DAN NIKMAT YANG DIJANJIKAN ALLAH UNTUK SESIAPA YANG SELALU MENUNAIKAN SOLAT SUNAT TAHAJJUD

Orang yang rajin melakukan solat sunat tahajud mendapat 9 kelebihan. 5 daripadanya diperoleh di dunia, manakala selebihnya akan diperoleh di akhirat.

5 kelebihan yang diperoleh di dunia:

  1. Allah akan menyelamatkannya daripada bencana
  2. Tanda berkat pada wajahnya
  3. Disukai oleh ramai manusia
  4. Allah jadikannya seorang yang bijaksana
  5. Bila bercakap penuh hikmah

4 kelebihan yang akan diperoleh di akhirat:

  1. Wajahnya bercahaya
  2. Diringankan hisab
  3. Menyeberangi titian sirat seperti kilat yang menyambar
  4. Dapat buku amalan dengan tangan kanan

“Ya Allah…ringankan tubuh badan kami untuk bangun mengadap dan bermunajat padaMu di sepertiga malamMu

Sembahyang Tahajud sesungguhnya satu daripada sembahyang sunat yang mempunyai nilai dan kedudukan tinggi berbanding sembahyang sunat lain.

Sembahyang Tahajud adalah amalan orang soleh yang sentiasa mahu mendekatkan diri kepada Allah.

Amalan sembahyang Tahajud bukan hanya diamalkan umat Nabi Muhammad malah umat nabi sebelumnya.

Ini bererti perintah Tahajud bukan dikhususkan kepada umat Nabi Muhammad sahaja.

Saidina Umar Al-Khattab menyatakan fadilat atau kelebihan sembahyang malam dengan berkata maksudnya: “Sesiapa mengerjakan sembahyang malam (Tahajud) dengan khusyuk nescaya dianugerahkan Allah sembilan perkara, lima di dunia dan empat di akhirat. Kurniaan di dunia ialah:

a. Jauh daripada segala penyakit

b. Lahir kesan takwa pada wajahnya

c. Dikasihi sekalian mukmin dan seluruh manusia

d. Percakapannya mengandungi hikmat

e. Dikurniakan kekuatan dan diberi rezeki dalam agama (halal dan diberkati).

Sementara empat perkara di akhirat ialah:

a. Dibangkitkan dari kubur dengan wajah berseri-seri

b. Dipermudahkan hisab

c. Cepat melalui Sirat al-Mustaqim – seperti kilat

d. Diserahkan suratan amalan pada hari akhirat melalui tangan kanan.

Walaupun manusia sedar ketinggian kedudukan sembahyang Tahajud, namun sedikit sekali manusia yang mengaku beragama Islam sanggup dan bersedia melakukan sembahyang ini. Bagi mereka, tidur lebih seronok dan lebih utama daripada bersembahyang.

Sesungguhnya, manusia akan berlumba-lumba untuk bersembahyang Tahajud sekiranya mereka dapat merasai betapa nikmatnya melakukan amalan itu.

Keheningan dan kedinginan malam seolah-olah memberi kesempatan kepada seseorang untuk merapatkan lagi jurang hubungan antara makhluk dan Khalik.

Apa yang dibaca seseorang ketika bersembahyang itu seolah-olah didengar dan mendapat layanan daripada Allah Yang Maha Berkuasa. Orang yang khusyuk dalam sembahyang akan berasa hubungannya dengan Allah begitu hampir.

Biasanya, permohonan seseorang untuk mendapat sesuatu itu cepat mendapat layanan apabila tidak ramai orang memohonnya.

Oleh itu, mohonlah keampunan dan limpahan rahmat Allah ketika orang lain sedang tidur nyenyak.

Berhubunglah dengan Allah ketika peluang masih ada, umur masih muda dan pintu taubat masih terbuka. Insya-Allah kita akan mendapat limpahan rahmat dan nikmat daripada-Nya.

Sebaik-baik permohonan dan masa untuk berhubung dengan Allah ialah pada waktu malam. Sebab itu, kurangkanlah tidur dan banyakkanlah bersembahyang di tengah malam.

SEMOGA MENJADI AMALAN SEMUA MUSLIMIN MUSLIMAT YANG INGIN MENCARI SELEMBAR KASIH YANG KEKAL DARI ALLAH SWT.

Sumber: http://syukur28.blogspot.com/2009/07/mari-mengerjakan-solat-sunat-tahajjud.html

Reblog this post [with Zemanta]