Manajemen Mesjid

Oleh Asep Setiawan

I. Pendahuluan
Istilah manajemen sering dikaitkan dengan pencapaian tujuan melalui dan bersama orang lain. Jadi sudah dapat dibayangkan bahwa sebuah manajemen akan melibatkan banyak manusia, banyak orang, banyak karakter dan banyak keahlian. Seni manajemen terletak pada pengendalian seluruh etos (karakter) dan logos (ilmu) itu kedalam sebuah kekuatan baru. Istilah modernny sinergi.
Dalam literatur manajemen mutakhir, aset terpenting dari sebuah organisasi adalah manusia. Charles Handy (1997) – seorang pakar bisnis – bahkan lebih fokus lagi bahwa “saat ini sudah waktunya sadar bahwa fakta itu benar karena satu-satunya harapan mereka bagi keamanan masa depan terletak pada otak manusia”.
Lebih lengkap lagi dari pandangan Handy ini adalah bahwa sebuah lembaga kekuatannya bertumpu pada kecerdasan anggotanya serta keteguhan aqidah serta kemuliaan akhlaknya. Jadi disini terkandung sebuah prinsip bahwa manusia sebagai aset manajemen harus diperhitungkan dan dikembangkan otak dan ruhaninya.
Untuk mengembangkan keduanya diperlukan ilmu. Seperti Rasulullah untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat diperlukan ilmu. Atau seperti Deputi PM Malaysia Anwar Ibrahim (1997) nyatakan bahwa kebanggaan seorang Muslim itu terletak pada kesadaraannya bahwa ia cinta kepada ilmu.
Jika manajemen sudah meletakan dasar pada pentingnya kedudukan insan dalam pencapaian tujuan sebuah lembaga atau organisasi, lalu apa fungsi dan tujuan mesjid itu sendiri. Al Qur’an sudah menggariskan bahwa mesjid diperuntukkan bagi orang-orang bertaqwa. Itu berarti menegakkan ketaqwaan merupakan asas fundamental dari kehadiran mesjid di tengah masyarakat.
Dalam praktek, Rasulullah menempatkan mesjid tidak hanya sebagai tempat sholat lima waktu, tapi lebih dari itu mesjid dijadikan sebuah pusat peradaban. Artinya, mesjid dijadikan pusat pertahanan, pemerintahan, pendidikan, sosial, budaya dan bahkan seni. Dengan kata lain Nabi Muhammad SAW mencontohkan bahwa sebuah mesjid merupakan sumber pendorong kemajuan masyarakat di sekitarnya.

II. Manusia dan Tujuannya
Persoalan berikutnya adalah untuk mengidentifikasikan apa tujuan manusia dalam beraktivitas di dalam mesjid. Ambil contoh Surat Al Baqarah ayat 30 yang menjelaskan bahwa manusia diciptakan supaya menjadi khalifah di muka bumi.
Apa yang disebut khalifah itu ? Beberapa pakar Islam mengartikan khalifah itu wakil Allah di muka bumi. Ada pula yang memberi makna bahwa umat Islam ini hendaknya menjadi penguasa di muka bumi untuk memakmurkan dan melaksanakan perintah-perintah-Nya.
Kita bisa membayangkan bahwa untuk menguasai bumi yang amat luas itu diperlukan perangkat lunak (misalnya ilmu) dan perangkat keras (misalnya dana) yang tidak sedikit. Bahkan diantara perangkat itu mungkin mahal harganya.
Dengan memfokuskan diri pada misi manusia di muka bumi ini, maka perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi kegiatan mesjid itu menjadi hidup, bermakna dan berisi semangat untuk menjadikan seluruh unsur dari masyarakat menjadi bagian dari khalifah Allah.
Jadi ketika para manajer mesjid ini merancang dan mempersiapkan pengumpulan serta distribusi zakat, para pelakunya merasakan semangat untuk mewujudkan Nur Islam. Para aktivis ini – karena tanggung jawabnya untuk mewujudkan kebesaran Ilahi – maka semua aktivitas manajemen dilakukan secara profesional, tidak asal-asalan.
Dalam istilah Al Qur’an ungkapan profesional ini mungkin dapat dipadankan dengan kalimah ihsan. Apakah ihsan itu itu ? Ungkapan ihsan ini merupakan salah satu pilar disamping kata Islam dan Iman. Tiga konsep ini berkaitan satu sama lain.
Dalam pengertian sederhana, ihsan berarti kita beribadah kepada Allah seolah-olah Ia melihat kita. Jikalau memang tidak bisa kita lihat, tetapi pada kenyataannya Allah menyaksikan setiap perbuatan dan desir kalbu kita.
Ihsan juga berarti perbuatan baik dalam pengertian sebaik mungkin atau secara optimal. Hal itu tercermin dalam Hadis Riwayat Muslim yang menuturkan sabda Rasulullah :
“Sesungguhnya Allah mewajibakan ihsan atas segala sesuatu. Karena itu jika kamu membunuh, maka berihsan-lah dalam membunuh itu; dan jika kamu menyembelih, maka berihsanlah dalam menyembelih itu dan hendaknya seseorang menajamkan pisaunya dan menenangkan binatang sembelihannya itu”.
Menurut Nurcholis Madjid, dapat disimpulkan dari konteks hadis itu dimana ihsan berarti optimalisasi hasil kerja, dengan jalan melakukan pekerjaan itu sebaik mungkin, bahkan sesempurna mungkin. “Penajaman pisau untuk menyembelih” jika diterapkan pada pekerjaan lain mengisyaratkan kepada efisiensi dan daya guna yang setinggi-tingginya.
Allah juga mewajibkan ihsan atas segala sesuatu seperti tercantum dalam Al Qur’an (32:7). “Yang membuat ihsan, sebaik-baiknya segala sesuatu yang diciptakan-Nya”
Selanjutnya Allah juga menyatakan telah melakukan ihsan kepada manusia agar manusia pun melakukan ihsan.
“Dan usahakanlah dalam karunia yang telah diberikan Allah kepadamu itu (kebahagiaan) Negeri Akhirat namun janganlah engkau pupa akan nasibmu di dunia, serta lakukanlah ihsan sebagaimana Allah telah melakukan ihsan kepadamu dan janganlah kamu membuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang berbuat kerusakan” (28:77)
Pekerjaan yang dilakukan secara ijhsan, secara optimal memang dikehendaki Allah Swt. Dalam prakteknya di bidang apapun apakah itu pelajar, mahasiswa, karyawan, wirausahawan atau mubaligh akan dihargai karyanya bila tampil dengan mutu tinggi. Karena manusia memang berkecenderungan mencapai kesempuranaan, maka tentu saja dalam pekerjaan pun kita harus senantiasa memperhatikan kesempurnaan.

III. Kesimpulan
Dengan demikian secara singkat bisa dikatakan bahwa manajemen mesjid itu diarahkan untuk mengaktualisasikan amanah manusia di muka bumi melalui serangkaian kegiatan yang terpancar dari mesjid. Manajemen berusaha menghidupkan mesjid baik dari segi keindahan arsitekturnya atau bentuk amaliahnya yang memancarkan kemuliaan dan kesucian Islam.

Daftar Pustaka

Al Qur’an dan terjemahnya
Madjid, Nurcholis, Islam Doktrin dan Peradaban. Jakarta,
Yayasan Wakaf Paramadina, 1992.
Gibson, Rowan (ed), Rethinking the Future. London,
Nicholas Brealey Publishing, 1997.
Ibrahim, Anwar, Asian Renaissance, Kuala Lumpur,
Times Book, 1997.

Reblog this post [with Zemanta]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: