Puasa dan Moralitas Politik

Oleh Asep Setiawan

Pendahuluan
Ibadah Puasa memiliki dimensi lahir dan batin. Ibadah yang dilaksanakan bulan Ramadhan ini tidak hanya menahan lapar, haus dan berhubungan suami-istri pada siang hari, namun juga menyangkut perbuatan-perbuatan bathin. Seseorang yang berpuasa, harus menghindari diri dari perbuatan-perbuatan yang mengurangi nilai puasa seperti bergunjing, mencela dan berpikiran tidak sehat.
Al Qur’an sendiri menggariskan bahwa tujuan akhir dari proses puasa itu menjadikan manusia bertaqwa. Taqwa secara singkat terkait erat dengan kesungguhan diri dalam mendekati Allah SWT. Semakin ia bertaqwa semakin terasa kehadiranNya sehingga makin pula khusyu menjalankan semua tuntutan yang diberikan Yang Maha Kuasa.
Makalah ini akan berusaha menghubungkan makna puasa dalam arti luas dengan moralitas politik. Apakah puasa mampu melahirkan masyarakat dan praktisi-praktisi politik yang bermoral ? Jika ya, bagaimana proses itu bisa lahir ?
Sebelum menjajagi hubungan puasa dengan moralitas politik ini, penulis akan meninjau secara sekilas, nilai-nilai yang terkandung dalam puasa yang mampu mempengaruhi kehidupan umat Islam, termasuk kehidupan politik umat.

Pensucian diri
Banyak pakar Islam berpendapat, proses puasa adalah kancah pelatihan pensucian diri. Selama sebulan, umat Islam digembleng dengan sebuah pelatihan yang cukup berat. Oleh karena beratnya itulah maka mereka yang sakit, wanita hamil atau anak-anak dan sejumlah orang yang menempuh perjalanan jauh dibebaskan dari kewajiban bulan Ramadhan.
Selama proses pensucian diri ini, umat dihadapkan kepada berbagai kegiatan mulai dari tadarus, sholat taraweh, pengajian dan diakhiri dengan zakat fitrah yang tujuannya untuk membersihkan jiwa. Dengan kata lain, pelatihan sebulan ini dimaksudkan sebagai cara yang ampuh dalam proses pensucian menghadapi 11 bulan berikutnya.
Bahkan di bulan Ramadhan ini pula, Al Quran secara gamblang memberitakan adanya sebuah malam penuh dengan berkah yakni malam Laitalut Qadar. Menemukan malam yang mulia ini adalah tantangan bagi mereka yang pada akhir Ramadhan telah membersihkan seluruh jiwanya dari sikap kikir, bakhil, sombong, zalim, takabur dan kotoran-kotoran jiwa lainnya yang disebut Imam Al Ghazali akan mengotori kebeningan hati.
Semangat berpuasa juga melahirkan umat yang sangat peka terhadap lingkungan sekelilingnya. Umat diajak memperhatian golongan masyarakat yang tidak mampu. Umat bahkan dirangsang dengan berbagai pujian agar memberikan sedekah adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan Ramadhan.
Namun tujuan dari puasa itu sendiri seperti diungkapkan dalam Surat Al Baqarah 183 adalah untuk menjadikan manusia bertaqwa. Amien Rais (1998) menyodorkan Surat Ali Imran ayat 134 untuk melihat definisi Taqwa. Pertama, orang yang menunaikan infak, yakni mengeluarkan sebagian rezeki yang dikaruniakan Allah.
Kedua, meredam amarah. Dan ketiga, mudah memaafkan segala manusia. Tanda oran bertaqwa juga dapat dilihat dari ayat 135 yang bila dipahami artinya, orang bertaqwa itu bisa terperosok tetapi cepat bangkit kembali dan memohon ampun kepada Allah SWT. Dalam pengertian selanjutnya, taqwa juga memiliki dua sisi yakni sisi suruhan dan larangan.
Dalam riwayat-riwayat yang dikumpulkan Javad Nurbakhsh, terlibat bagaimana puasa dijalankan para sufi sehingga menghasilkan suatu kualitas yang disebut sebagai faqr. Faqr adalah karakteristik utama seseorang yang memiliki sifat-sifat Muhammad: Dihiasi dengan keindahan-keindahan sifat yang tulus, kedermawanan dan kerendahan hati atau kejujuran, keagungan dan kesederhanaan. Rasulullah pun tersentuh dengan harumnya hati yang baik dan kegembiraan yang meluap-luap.
Sementara itu Syed Anwar Ali (1997), melukiskan sejumlah tujuan ibadah Puasa disamping untuk mencapai derajat taqwa. Menurut Ali, ibadah puasa membuat orang menyadari kesulitan yang diderita orang lain dalam hidup yang kekurangan. Ibadah puasa juga memberikan keseragaman yang unik dan tunggal di kalangan orang-orang yang beriman di seluruh dunia dalam hal waktu. Selain itu puasa merupakan ujian nyata akan ketulusan pengabdian dan kepatuhan terhadap Allah.
Ali juga menilai, puasa menguatkan hati melawan perbuatan yang tak benar. Ketika orang dapat menghindar dari semua yang sebenarnya halal dan diperbolehkan, maka tak ada keraguan lagi bahwa dia dapat menghindarkan diri dari perbuatan yang salah dan dilarang Allah. Bahkan disebutkan pula ibadah puasa mempersiapkan orang untuk perjuangan yang lebih berat di jalan Allah (jihad al-akbar)

Politik adiluhung
Dalam literatur dan pengalaman umat Islam, khususnya pada zaman Nabi Muhammad dan Khulafaur Rasyidin, terlihat bahwa umat Islam tidak memisahkan ibadah dengan kegiatan mengelola pemerintahan.
Lihat misalnya pandangan pakar Islam dari Barat, John L Espito yang menyebutkan, Al Quran tidak memisahkan antara kehidupan politik dan ibadah. Politik adalah bagian dari kehidupan masyarakat seperti halnya kegiatan ekonomi dan budaya. Oleh sebab itu Islam tidak membeda-bedakan antara praktek politik dari nilai-nilai Islam.
Kemudian Sayyid Abl A’la Mawdudi (1982) malah lebih gamblang mengatakan, puasa itu tak lain adalah ibadah yang memberikan kesadaran bahwa hidup itu adalah pengabdian total. Puasa juga merupakan pelatihan bersama yang mengikat seorang Muslim kedalam masyarakat. Dengan demikian, puasa itu menjadi sebuah kekuatan moral karena dilakukan secara kolektif, melibatkan ribuan, jutaan bahkan sampai satu milyar kaum Muslimin.
Dalam istilah populer sekarang apa-apa yang terkait dengan kegiatan kenegaraan baik dalam bidang legislatif, eksekutif dan yudikatif, disebut sebagai tindakan politik.
Bahkan karena alam politik Indonesia selama 32 tahun ini dinaungi awan yang gelap, maka banyak pemaknaan politik itu mencapai titik terendah bahkan terkesan bahwa apapun yang berbau politik bahka dalam bidang keilmuan pun menjadi tidak berharga.
Berbicara politik, bukanlah berbicara soal ibadah seperti yang dilakukan Rasulullah dalam memimpin umat Islam di Madinah atau Khalifah Abu Bakar, Umar bin Khattab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Di Indonesia dalam kamus kebanyakan masyarakat, politik itu kotor, jahat, penuh tipuan dan kehidupan yang jauh dari praktek kemuliaan Islam.
Distorsi inilah yang kemudian melahirkan sikap dan perilaku politik yang berbeda dengan ideal-ideal yang pernah dipraktekkan Rasulullah. Pada akhirnya sistem politik di Indonesia pun mengalami kemerosotan nilai-nilai bahkan termasuk dikalangan praktisi politisi Islam. Berpolitik bisa berarti mengundang permusuhan dan bisa juga menjatuhkan pihak lain.
Kuntowijoyo malah pernah membagi tiga pola bentuk praktek umat Islam dalam kancah kehidupan politik. Pertama, Islam ibadah yang menekankan pentingnya ibadah khusus terlepas dari kehidupan politikk. Misalnya perlunya membangun banyak mesjid dan pengajian. Kedua, Islam politik yang menyorot perlunya umat menguasai berbagai cabang kekuasaan sehingga muncul ide-ide seperti negara Islam atau negara Islami.
Ketiga, Islam akidah yang bercirikan dengan pandangan bahwa yang perlu itu bagaimana mewarnai kehidupan politik dengan nilai-nilai Islam tanpa mempersoalkan bentuk ideologi. Kuntowijoyo menilai, karena alergi umat Islam terhadap politik sebagai akibat perdebatan dan benturan fisik dalam menciptakan apa yang disebut negara Islam maka Islam politik masih tabu saat ini, yang diperlukan adalah bagaimana menciptakan masyarakat Indonesia yang rasional dan demokratis sehingga bisa melahirkan kehidupan politik yang tidak emosional dan terbuka.
Oleh karena itu berbagai jalan ditempuh agar, nilai-nilai moral Islam apalagi nilai-nilai moral puasa Ramadhan ini bisa memunculkan makna yang dalam dalam kehidupan politik Nasional. Rumusan tentang
M Natsir seperti disitir Amien Rais pernah mengulas tentang perlunya sebuah praktek politik adiluhung atau politik yang sangat luhur. Rekaman pemikiran Natsir ini pernah diulas Lance Castles dan Herbert Feith dalam Indonesian Political Thinking: 1945-1965.
Menurut Amien, Natsir memperjuangkan cita-cita antara lain membebaskan manusia dari segala bentuk superstisi, memerdekakannya dari segala takut kecuali kepada Allah Sang Maha Pencipta serta memegang perintah-perintahNya agar kebebasan ruhani manusia dapat dimenangkan. Natsir juga mengancurkan segala tirani harus dilenyapkan, chauvinisme yang merupakan agar intoleransi dan permusuhan diantara manusia wajib diperangi dan Natsir yakin bahwa Islam mengajarkan cita-cita politik yang sangat luhur.
Dalam bahasa populer Amien (1995), praktek ini disebutnya high politics (politik adiluhung atau politik bermoral). Ia menjelaskan makna politik adiluhung ini sebagai politik yang berdimensi moral serta etis. Sedangkan low politics adalah politik yang terlalu praktis dan seringkali cenderung nista.
Menurut Amien, bila sebuah organisasi menunjukkan sikap tegas terhadap korupsi, mengajak masyarakat luat memerangi ketidakadilan, mengimbau pemerintah untuk terus menggelindingkan proses demokrasi dan keterbukaan, maka organisasi tersebut pada hakikatnya sedang memainkan high politics.
Sebaliknya, tulis Amien, bila sebuah organisasi melakukan gerakan manuver politik untuk memperebutkan kursi DPR, minta bagian di lembaga eksekutif, membuat kelompok penekan, membangun lobi, serta berkasak-kusuk untuk mempertahankan atau memperluas vested interests, maka organisasi tersebut sedang melakukan low politics.
Upaya M Natsir dan Amien serta praktisi lainnya untuk memperkenalkan nilai-nilai moral dalam kehidupan politik ikut mempersegar gerakan reformasi yang diharapkan tidak jadi anarki.
Dalam kaitan nilai, puasa dan moralitas politik terlihat bahwa proses pelatihan selama bulan Ramadhan yang diharapkan melahirkan manusia bertaqwa itu juga mampu memunculkan apa yang disebut Amien sebagai politik adiluhung. Tentu saja hasil akhir politik sebagai ibadah yang mulia ini memerlukan internalisasi sehingga sebagai sebuah nilai dalam kehidupan, maka aktivitas politik juga bernilai ibadah tinggi seperti halnya ibadah lainnya.

Penutup
Nilai-nilai yang terkandung dalam puasa, sebagai bagian dari ibadah dalam kerang Islam yang menyeluruh sangat terkait dengan kehidupan pribadi dan sosial umat Islam. Semua pelatihan yang dilakukan selama bulan Ramadhan diarahkan agar umat Islam mensucikan diri sehingga mencapai derajat taqwa.
Dalam praktek, tentu saja manusia bertaqwa ini diharapkan juga mampu mewarnai dan menjadi figur-figur dominan dalam melahirkan kehidupan politik yang adiluhung. Kehidupan politik yang menggelorakan semangat moral Islam inilah yang diharapkan mampu mencerahkan bangsa Indonesia dalam memasuki milenium baru.

Daftar Pustaka

Bakhtiar, Laleh (ed), Meraih Kemuliaan Ramadhan . Bandung: Mizan, 1997.

Espito, John L., Islam and Politics. New York: Syracuse University Press, 1991.

Kelompok Studi Lingkaran (ed), Intelektualisme Muhammadiyah Menyongsong Era Baru. Bandung: Mizan, 1995.

Mawdudi, Sayiid Abul A’la, Let Us be Muslims. Leicester: The Islamic Foundation, 1982.

Rais, M. Amien, Tauhid Sosial: Formula Menggempur Kesenjangan. Bandung: Mizan, 1998.

Shihab, Alwi Dr., Islam Inklusif: Menuju Sikap Terbuka dalam Beragama. Bandung: Mizan, 1998.

Secularization an Extension of the Idea of Primacy of Reason, Interview Mochtar Buchori with Prof Bassam Tibi Jakarta Post, 22 December 1998.

Woodward, Mark. R., Jalan Baru Islam: Memetakan Paradigma Mutakhir Islam di Indonesia. Bandung: Mizan, 1998

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: