Tarbiyah Al Quran

Wajibat yang dirasakan sebagai sebuah perjalanan ruhani ini sebenarnya bukanlah sebuah kewajiban tetapi sebuah kebutuhan. Membaca Al Quran memang memerlukan sebuah persiapan ruhani untuk tidak sekedar membaca dengan lidah. Firman-firman Allah yang merupakan mukjizat Allah kepada Rasulullah SAW memang dirasakan sebagai sebuah nikmat tak terhingga bagi yang membacanya, menyelaminya dan merasakan aliran nikmat itu masuk kedalam hati.

Setiap individu memiliki takaran untuk mendapatkan energi Ilahi yang terpancarkan kepada hati ini, tergantung sejauh ini hati ini pasrah dan membuka diri kepada Allah. Seperti kata Islam yang salah satu maknanya surender to Allah, maka membaca Al Quran seperti menyerahkan diri kepada Allah untuk diberi apa saja hikmah hikmah terkandung di dalamnya.

Banyak hikmah terungkap ketika mengikuti perjalanan ayat demi ayat, surat demi surat, juz demi juz, yang semakin membulatkan bahwa Allah memang akan memberikan karunia kepada diri ini melalui rasa sambung dengan-Nya tatkala ayat-ayat itu dibacakan. Keyakinan bahwa perjalanan hidup ini adalah tujuan dan titik akhirnya kepada Allah. Bahwa semua apa yang kita lakukan dengan bebagai tenaga dan pikiran yang menyita emosi tidak lain adalah sebuah perjalanan kepada Allah. Sebuah perjalanan yang sudah ditentukan dalam Al Quran dan sudah dipastikan akan menemui-Nya.

(yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. (2:45)

yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun” (2:156)

Benar bahwa kita semua milik Allah dan akan kembali kepada Allah.

Inilah perjalanan pulang kita menuju Allah. Al Quran menjelaskan secara detil bahwa perjalanan pulang diawali dengan IMAN KEPADA ALLAH karena kita akan kembali kepadanya. Mengetahui sifat-sifatnya yang dijelaskan dalam rangkaian ayat Al Quran.

Getaran akan pulang ini dirasakan saat membaca ayat demi ayat Al Quran.
Getaran itu kadang kuat, kadang menghentak dan kadang menghujam sehingga terasa rasa sejuk, rasa ingin menangis,rasa syukur dan rasa bahagia mendapatkan sebuah “ilham” yang dipancarkan kepada kalbu.

Mengapa dalam perjalanan pulang kadang kita tidak tahu kepada siapa kita pulang? Mengapa dalam perjalanan pulang itu kadang-kadang kita ribut mempesoalkan hal-hal yang tidak berkaitan dengan membawa bekal pulang? Mengapa perjalanan menuju Allah kok masih ribut, tidak dengan kesejukan, kenyamanan, kebahagiaan karena pertemuan dengan-Nya, bagi yang meyakininya akan membawa kebahagiaan.

Maka sejak awal dengan Surat Al Fatihah kita akan dirasakan tuntunan akan pulang itu bahwa Allah Maha Pemelihara Seluruh Alam – makro dan mikrokosmos. Kepada Allah kita hanya beribadah, tuntunan dalam doa setiap shalat

Tunjukilah kami jalan yang lurus (1:6)

Sebuah kepasrahan total kepada Allah agar kita senantiasa dibimbingnya, sebuah sikap yang menyerahkan semuanya kepada Allah agar senantiasa kita bergantung dan hanya bergantung kepadanya.Sikap kepasrahan, sikap ikhlas inilah yang ternyata membawa kepada ketenangan, kebahagiaan dan rasa bersama Allah.

Perjalanan kehidupan ini seperti dipaparkan dalam berbagai ayat Al Quran ternyata sebuah perjalanan tidak sederhana tetapi juga tidak rumit. Allah Ghayatuna, Allah tujuan kita bersama. Jadi kalau memang semua dalam perjalanan kepada Allah yang ada adalah kebahagiaan, rasa syukur untuk saling berbagi, yang menyambungkan Qalbu kita seperti doa dalam doa Rabithah yang dibaca pagi dan sore, sebuah permohonan dengan segala kerendahan hati agar hati kita disatukan dalam pejalanan menuju-Nya.

Maka membaca Al Quran merupakan sebuah proses ruhani sekaligus proses kemanusiaan, proses pencarian jati diri, proses peneguhan iman sehingga dengan tujuh ayat Al Fatihah dan diakhiri surat An Naas maka proses perjalanan semakin jelas, semakin indah dan semakin bahagiaa karena seperti dikatakan dalam Al Quran bahwa Allah yang menuntun kita semua untuk kembali kepada-Nya dengan syarat IMAN kepada-Nya.

Rasa IMAN inilah yang kemudian dimasukkan Allah kepada kita.

Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah (kepada mereka): “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah: “Kami telah tunduk”, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tiada akan mengurangi sedikit pun (pahala) amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (49:14)

Sebuah proses yang Allah sendiri memaparkan bahwa IMAN ini adalah karunia yang Allah berikan kepada kita.Allah yang memasukkan Iman itu kepada Allah sehingga terasa dalam dada ini iman yang semakin naik dari ke hari ke hari, atau kadang terasa semakin gersang. Oleh karena itu membaca Al Quran dari ayat ke ayat dikatakan akan menambah iman, asalkan kita memang ikhlas membacanya.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal, (8:2)

Ya betapa nikmatnya tadarus itu tatkala rasa iman ini Allah tambahkan, keteguhan dan keyakinan bahwa kita akan kembali kepada-Nya dimasukkan kedalam qalbu kita sebagai landasan dalam perjalanan selanjutnya.

Inilah salah satu nikmat yang dirasakan dalam tarbiyah Ramadhan, sudah semakin jelas bahwa ayat-ayat yang dibaca ini menambah keluasan hati dalam menerima dan pasrah kepada tuntutan-Nya.

Nikmat itu memang sulit dirasakan kalau tidak ada rasa Iman kepada-Nya, anugrah berupa kesejukan, kelapangan, keteguhan itu tidak bisa didapat kecuali karena ikhlas kepada Allah. Dan anugrah ini sulit diperoleh kalau kita tidak menghadapkan diri kecuali hanya dan hanya kepada Nya dalam setiap langkah kita. Wallahu’alam bishawab. Asep Setiawan (2011)

Iklan

Oasis of Tarbiyah, situs tarbiyah terbaru

Jika anda ingin mengikuti program tarbiyah, liqo, halaqah dan ikut dalam pengembangan syaksiyah Islamiyah, situs www.oasetarbiyah.com, hadir dalam dunia maya sekarang ini.

Situs oase tarbiyah ikut menyemarakkan dunia tarbiyah di alam internet.

Selain untuk menambah wawasan, suasana ukhuwah Islamiyah diharapkan tercipta dengan kehadiran situs baru ini.

Agenda Tarbiyah 2007, sebuah catatan

Semilir gerakan tarbiyah telah menyentuh berbagai pelosok di Indonesia. Tarbiyah merupakan istilah yang banyak dikaitkan dengan pembaharuan hati dan perilaku. Tarbiyah identik dengan keadilan, kejujuran dan ukhuwah. Identitas ini telah menjadi ciri dari dakwah tarbiyah.

Sejalan dengan perkembangan tarbiyah ini di Indonesia, banyak agenda yang masih perlu polesan, penguatan dan pengembangan. Artikel ini akan mengulas beberapa aspek dari agenda tarbiyah tahun 2007 yang perlu mendapat penekanan. Pertama, aspek ruhani bangsa Indonesia. Kedua, aspek sosial yang perlu mendapatkan perhatian besar. Ketiga, aspek lingkungan.

Tarbiyah ruhani

Seorang warga Aceh menuturkan bahwa sebelum tsunami datang mengguncang Tanah Rencong ini, saling membunuh telah menjadi sebuah ciri kehidupan masyarakat. Balas dendam antara TNI dan Gerakan Aceh Merdeka tidak pernah terhenti.

Dituturkan bahwa jika GAM mengincar keluarga polisi dan tentara untuk disiksa atau dibunuh, maka balasannya TNI mengincar masyarakat Aceh tidak berdosa. Aksi balas membalas ini berpuncak ketika Aceh di dalam DOM (Daerah Operasi Militer).

Selain aksi pembunuhan terjadi pula korupsi dan kemaksiatan secara terbuka. Aceh seolah-olah bukan lagi Serambi Mekah. Aceh dulu berbeda dengan Aceh sekarang.

Warga Aceh ini kemudian mengambil hikmah dari peristiwa alam bahwa tsunami adalah peringatan dari Allah SWT. Pembunuhan dan kemaksiatan harus dihentikan. Terlepas dari fenomena alam, tsunami merupakan ayat-ayat-Nya untuk direnungkan.

Bangsa Indonesia sekarang dimana perselingkuhan terang-terangan tidak dipersoalkan, poligami dihujat, amukan alam dimana-mana, penyakit yang tidak kunjung henti seperti flu burung, sebenarnya berada di ambang kerusakan moral yang besar. Tanda-tanda dari Langit ini tidak diberi perhatian.

Tarbiyah ruhani adalah upaya menghidupkan kembali manusia yang sekarang mati. Menghidupkan lagi hati yang beku dan menajamkan pandangan hati. Kalau kita bertanya kepada diri sendiri, apakah hati kita dan diri kita sudah tidak tahu malu lagi kepada Yang Maha Rahman ? Apakah dalam bekerja kita mengambil barang yang halal ? Apakah rasa malu untuk berbuat salah sudah sirna ?

Revitalisasi mental dan spiritual bangsa Indonesia merupakan agenda utama dalam tarbiyah. Rahmat tidak akan datang kalau individu dan terutama para pemimpinnya hidup bergelimang kekotoran.

Tarbiyah sosial

Tarbiyah dalam skala sosial merupakan kemestian yang sangat mendesak. Kerusakan ahlak yang menyeluruh bisa diobati denggan sebuah harakah atau gerak langkah yang menyeluruh.

Dengan menggunaka pengalaman masa Rasulullah SAW dan para nabi sebelumnya, pendidikan sosial memang harus dimulai dari elit masyarakat. Apakah itu elit pendidikan, sosial, budaya atau politik dan militer, mereka harus disentuh dengan siraman tarbiyah.

Aspek gerakan sosial dalam tarbiyah ini akan membendung arus korupsi dan perasaan tidak malu untuk bermaksiat. Rasa malu sosial merupakan indikasi bahwa syaksiyah Islamiyah atau pembentukan pribadi muslim telah berjalan.

Inilah tantangan berat agenda tarbiyah 2007 di Indonesia. Perubahan sosial bisa dilakukan dengan memegang kunci-kunci pelaku perubahan di kalangan elit dan pada waktu yang sama menjadi gerakan massal.

Tarbiyah kesadaran lingkungan

Berbagai musibah alam tidak lain karena rendahnya kesadaran manusia Indonesia terhadap lingkungan. Alam diperlakuka sebagai sesuau yang statis dan bisa dieksploitasi. Alam telah menjadi bahan jarahan mulai dari individu sampai dengan perusahaan besar.

Sebuah tarbiyah yang memfokuskan kepada kesadaran lingkungan menjadi sebuah kebutuhan mendesak. Tidak hanya polusi dan pencemaran yang merupakan sebuah nilai bertentangan dengan pesan-pesan Qurani tetapi juga menjadi ancaman bagi manusia sendiri.

Lihatlah bagaimana longsor di Sangihe baru-baru ini, kalau dirunut akan terlihat adanya pengaruh suhu global. Sementara longsor di Aceh dan Sumatra Utara akan terkait dengan kerusakan hutan. Bukankah tarbiyah yang dipelopori Murobi Agung Rasulullah SAW sangat memperhatikan kebersahajaan dalam memanfaatkan alam ?

Gerakan besar-besaran untuk revolusi hijau ini merupakan kebutuhan sangat besar, berlomba dengan waktu sebelum datang bencana lebih besar.

Penutup

Tentu saja artikel singkat ini tidak mencakup sebuah tantangan dan agenda sangat mendalam dan menyeluruh. Tarbiyah ruhani, sosial kemasyarakatan dan lingkungan muncul sebagai tanggapan terhadap fenomena yang terjadi belakangan ini di Indonesia. (A. Setiawan)

Ceramah Dr Hidayat Nurwahid

Ceramah Dr Hidayat Nurwahid secara online dengan pegiat dan aktivis Islam di Inggris. Ceramah diselenggarakan tanggal 22 Oktober 2006.

[odeo=http://odeo.com/audio/2212672/view]

Aplikasi Tarbiyah Ramadhan

Bulan syawal merupakan bukti dari keberhasilan tarbiyah Ramadhan selama sebulan. Sebagian ulama mengatakan, ciri yang jelas dari sukses Ramadhan hanya bisa dirasakan diri sendiri. Diantaranya, semakin khusyu dan semakin dekat dengan suasana yang Islami. Dalam dirinya ada perubahan besar dalam memaknai Islam. Itulah tandanya tercapainya Lailatul Qadr, perubahan hidupnya bernilai lebih dari 80 tahun.

Satu lagi sumber pustaka tarbiyah

Malaysia kaya akan informasi mengenai materi tarbiyah.
Salah satu yang menarik silahkan klik dakwah info.

 Banyak e-book dan Mp3 yang bisa didownload selain perkembangan masa kini. Tentu saja perlu sedikit keahlian dengan bahaya Melayu.

Rekaman ceramah ustadz dari Indonesia

Dengarkan Ceramah Ustadz dari Indonesia

Click here to get your own player.